
Zein fokus dan terus fokus menjalani tiap ritme fase pendidikannya. Gedebong pisang tersandar di pundaknya. Walaupun perasaannya campur aduk saat ini tapi ia harus menyelesaikannya sampai selesai.
***
Hari ini adalah jadwal interaksi dengan senior tingkat. Kasak kusuk di barak, mereka mendengar ada senior killer di sana dan teman seletting Zein berharap tidak bertemu dengan si killer tersebut.
Zein dan rekannya berbaris rapi. Satu persatu senior keluar dari dalam ruangan menuju tempat mereka. Zein melirik ada seorang senior menuju ke arahnya berjalan tegap memasukan kedua tangan ke dalam saku celananya. Jantung Zein berdebar cemas saat senior killernya memperhatikannya tanpa suara.
Senior itu bersuara datar berkharisma
"Arahkan matamu pada lawan bicaramu!!!"
"Siap Abang" tegas Zein sambil melihat papan nama seniornya.
"R. ALFARIO.. syukurlah aku tidak bertemu dengan bang Rival senior killer itu" batin Zein sedikit lega.
"Apa yang kamu lihat??" tegur seniornya.
"Siap salah Abang"
"Kamu sudah memandang saya dengan tidak sopan. Apa kamu anggap saya ini gay???" datar senior lagi
"Siap salah Abang"
__ADS_1
"Kamu memang selalu salah. Panggil nama saya dengan benar!!!" tegas senior
"Siap Abang Alfa" ucap Zein.
"Ingat nama saya baik baik. Saya Rivaldi Alfario. Kamu di bawah bimbingan saya sekarang" mendengar nama itu rasanya Zein ingin menangis dibuatnya.
"Nyanyikan Kidung Jawa tengah" perintah Rival.
"Siap salah..tidak bisa Abang" sesal Zein
Sial sekali nasibku, kenapa aku harus di bawah bimbingan senior ini.
"Kamu menyesal bertemu saya???? Jangan sedikit sedikit siap salah, kamu memang salah. Pertama kamu menatap saya dengan tidak sopan, kedua kamu merasa sial bertemu saya" Zein melongo mendengar ucapan Rival yang hampir semua benar.
"Nyanyi!!!" suara Rival mengganggu pikiran Zein.
"Baiklah..saya bukan orang yang berbelit-belit. Karena kamu tidak bisa..maka saya akan beri kelonggaran ( senyum licik Rival membuat Zein begidik ngeri ), kamu harus mengambil cambuk pelatih Nano.. diam - diam dan berikan pada saya selepas jam santai siang nanti" Rival melipat kedua tangan di depan dada dengan ucapnya yang santai.
--------
Zein menghabiskan makan siangnya dengan tidak tenang. Sebentar lagi adalah jamnya santai sebentar. Zein memutar otak bagaimana caranya mengambil cambuk setan yang membuat para siswa ngeri.
Zein berjalan ke arah masjid untuk sholat dhuhur, Zein melihat pelatih Nano sedang berwudhu, pelatih meletakkan cambuk itu pada tembok pembatas, setelah beberapa saat ada seorang pelatih lain mengajak bicara pelatih Nano. Zein mengendap melihat situasi dan berpura pura wudhu di balik tembok pelatih Nano. Tangan Zein secepat kilat memasukan cambuk itu ke dalam pakaian seragamnya.
__ADS_1
---------
"Ini bang cambuknya" Zein menyerahkan cambuk itu pada Rival.
"Bagus! saya yakin kamu tadi tidak konsen berwudhu. Lanjutkan dulu ibadahmu, setelah itu temui saya ditempat tadi" perintah Rival.
Di tempatnya... pelatih Nano sedang murka mencari cambuknya yang raib tanpa pamit. Sedangkan Zein masih dalam posisi ibadah sendirian di dalam masjid.
"Ada yang tau dimana cambuk sakti saya!!!???" suara pelatih Nano menggelegar di ruang santai
"Siap tidak" Zein berjalan menyembunyikan rasa cemas karena dia yang telah mengambilnya.
Rival mengontang anting cambuk yang dicari pelatih Nano dan memainkannya di ruangan itu, mata Zein terbelalak kaget.
"Misi selesai pelatih" ucap Rival menyerahkan cambuk itu kembali kepada pemiliknya.
"Siswa kurang ajar" senyum Nano mengacungi kepintaran Rival.
Beberapa waktu yang lalu secara khusus pelatih Nano meminta Rival untuk mendampingi Zein, melatih mental, sekaligus menantang Rival untuk bisa merebut cambuk kesayangannya tanpa ia yang mengambilnya.
"Dan kamu ( tunjuk pelatih Nano pada Zein ), kamu mengambil cambuk saya. jadi kamu harus menyanyikan lagu cinta sebanyak tiga puluh judul lagu" seketika Zein lemas mendengar hukuman dari pelatih Nano.
Rival mengulum senyum yang terlihat tampan, tapi tidak bagi Zein yang sedang meradang.
__ADS_1
.
.