
Naya tidak beranjak dari tempatnya..maka Randy lah yang meninggalkan kamar, bagaimanapun juga ia tak ingin memperkeruh suasana dengan emosinya yang meninggi juga Randy ingin membiarkan Naya beristirahat karena Naya belum sepenuhnya pulih.
Randy memilih menjaga Yara di luar hingga putrinya tidur. Reno sudah kembali ke rumah sakit. Randy pun memutuskan meminta ijin dari tugas piket kantor.
----
Yara sudah tidur, putrinya di tidurkan perlahan. Randy mendekati Naya yang tidur dengan wajah sembab.
Maaf aku menjauhimu, aku tidak ingin emosiku malah melukaimu. Aku tidak ikhlas pria lain melihatmu dengan pikirannya yang kotor itu. Aku harap kamu tidak akan mengulanginya sayang.
***
Dua minggu berlalu. Batalyon mengadakan gelar pasukan. Rangsel Randy belum terkumpul di aula, tapi pekerjaanya masih sangat menumpuk.
"Ren, tolong kamu ke rumah ya ambil rangselku, aku harus mengambil tanda tangan komandan dan menata berkas untuk besok" ucap Randy pada Reno.
"Iya bang, sekalian aku pulang lihat Vernan. kangen nih" Reno langsung pergi, Randy tersenyum melihat semangat adik iparnya.
Velly mendapat pesan dari seseorang tentang masa lalu suaminya. Hatinya sangat terbakar mendapat kabar hubungan Naya dan Reno sebegitu jauh. Velly keluar dari rumah dan berjalan menemui Naya dengan marah.
----
Naya meletakan rangsel di belakang rumah, Dia baru pulang dari pasar dan apotik untuk menebus lagi obat vertigonya. Randy sudah memberitaunya kalau nanti Reno akan mengambilnya. hari ini pusing Naya semakin parah, Naya sengaja tidak memberitau Randy supaya Randy fokus bekerja. Sikap Randy masih saja dingin padanya. Naya merasa vertigonya sedang kambuh, yang ia dengar setelah muntah akan terasa ringan, tapi keadaan Naya malah sebaliknya
Naya muntah tanpa henti hingga tidak menyadari Reno yang sudah masuk ke dalam rumah.
"Maaf Nay aku masuk, kamu tidak dengar dari tadi, ternyata ada disini" Reno merasa tidak enak.
Naya keluar kamar mandi dengan lemas dan pucat, badannya demam, Naya lunglai ke lantai. Reno panik dan segera menghubungi Randy
"Bang, cepat pulang. Naya lemas muntah muntah terus ini"
Randy meninggalkan pekerjaannya dan cepat pulang ke rumah.
"Kamu buat pikiranku berantakan dek" gumam Randy sambil berlalu pulang.
Reno membantu Naya untuk berdiri. Velly yang melihat pemandangan dari arah yang berbeda menjadi salah mengartikan
"Maaasss...kamu ngapain sama mbak Naya, bukannya pulang malah kesini" Velly berteriak dengan marah, wajahnya memerah panas
__ADS_1
Velly mendekati Naya yang mual lagi. Velly menarik paksa baju Naya hingga terlihat sedikit pakaian dalamnya
"Apa sich kamu yank, jangan berprasangka buruk" Reno menghalangi tangan Velly
"Kamu diam diam mau melanjutkan hubunganmu di belakangku dan mas Randy? apa kurang menikmati mawarmu ini?" Velly berbicara tanpa arah hingga Reno membentaknya
"Gosip murahan nggak terarah ini kamu dapat darimana? asal kamu tau..aku juga bukan playboy yang suka mempermainkan wanita, jangan asal bicara kamu"
Yara menangis mendengar suara ribut dari belakang rumahnya. Reno segera menggendong Yara
"Sini sayang..ikut ayah"
Randy baru saja datang melihat Velly dan Reno bertengkar sekilas tapi Randy lebih mengutamakan Naya yang bersandar pada tembok
"Jelaskan padaku nanti" Randy menatap Reno dan Velly dengan tajam.
Naya kembali muntah hingga tidak tersisa apa apa lagi untuk di keluarkan.
"Kamu kenapa sayang, vertigomu ini parah sekali" Randy mendesah cemas melihat kondisi Naya.
Randy menggendong tubuh Naya, karena tidak mungkin bagi Naya yang setengah sadar untuk berjalan.
"Apa maksudmu? pikiranmu terlalu picik, cemburumu membuat akalmu hilang, darimana kamu dapat pikiran itu?" Randy berucap datar
"Lalu apa denganmu?? Kalau mas tidak percaya, ayo kita bawa mbak Naya untuk periksa kenapa vertigonya tidak sembuh juga"
"Panggil dokter yang kamu mau. aku tidak akan membawanya kemanapun" jawab Randy
-----
"Istri pak Randy tidak sakit kok..." Jawab dokter Nita
"Tuh khan mas, mbak Naya itu nggak sakit, aku yakin dia mau menjebak mas Reno" Velly terlihat kesal melihat Naya
Naya hanya bisa menangis menghadapi tuduhan Velly. Tangan Naya yang gemetar di rasakan kuat oleh Randy. Dokter tak ambil pusing dengan masalah mereka tapi kemudian dokter Nita meluruskan sesuatu
"Tidak..tidak.. memang ini tidak sakit karena istri pak Randy sedang hamil muda, jadi hal ini biasa terjadi" Randy menahan senyum karena Naya bisa mengandung anaknya lagi.
Setelah berkonsultasi berbagai hal, dokter pun pamit pergi. Randy kembali ke kamar untuk menyelesaikan masalah yang Velly buat
__ADS_1
-----
"Kamu hampir mencelakai anak bang Randy, ayo bilang dari siapa gosip itu mencuat" Reno menanyai istrinya yang gegabah
"Kamu gila Vell, jangan macam macam dengan Naya. aku malas mengatakannya padamu tapi kamu sudah sangat keterlaluan. Naya ini menikah denganku....masih perawan" Randy menatap dingin wajah adiknya
"Tidak ada alasan buatmu menuduh Naya juga Reno. karena aku sendiri yang merasakannya. Kamu lihat Naya sekarang begitu tertekan karena ulahmu"
Velly menangis menyadari kelakuan buruknya. ia sangat merasa menyesal
"Maaf mas, aku menuduhmu yang tidak pantas" ucapnya pada Reno
"Jangan di ulangi lagi" Reno mencium kening Velly sambil menggendong Yara.
"Mbak Naya, Mas Randy.. maaf ya, aku salah" Velly menunduk menyesal. Randy berwajah dingin menghadapi adiknya.
-------
Velly membawa Yara pulang, Yara akrab sekali dengan 'ayah dan bundanya'.
Randy memperhatikan Naya yang lemah di atas tempat tidur. Hatinya masih sakit, tapi dia juga tidak tega melihat istrinya yang sedang hamil. perasaan istrinya jauh lebih sensitif saat ini. Randy meninggalkan Naya. Naya sekuat tenaga bangun
"Mas... tolong maafkan aku" Naya mengulangi lagi memeluk paha Randy.
"Aku kecewa sama kamu Nay. posisimu itu sangat menyakiti hatiku. kamu seolah memberi kesempatan untuk Feri. Mana ada suami yang rela istrinya di lihat pria lain, kamu juga tidak bilang soal wa itu"
Naya semakin mengeratkan pelukannya, dikuatkan badannya untuk mendapatkan maaf dari suaminya.
"Iya mas aku salah, aku tidak tau bagaimana harus menghadapimu. Saat mas piket aku pikir dia hanya bohong, aku tidur cepat karena sangat lelah bermain dengan Yara. Aku tidur dengan pakaian yang biasa aku pakai, aku mendengar ada yang mengetok pintu, aku kira mas pulang. Ternyata itu mas Feri. aku masuk untuk ganti pakaian sekalian bermaksud menghubungimu. aku tidak tau kalau dia mengikutiku" Naya terisak dan bersandar pada kaki Randy.
Randy luluh dan menjadi tidak tega, bagaimanapun juga dia sangat mencintai Naya. Tidak baik untuk Naya dan anaknya kalau Randy tetap berkeras hati.
"Lepaskan tanganmu"
Naya menangis tidak mau melepaskan tangannya. Akhirnya Randy meraih tangan Naya
"Aku memaafkanmu sayang, berhentilah menangis..hatiku sangat sakit melihatnya" Randy memeluk Naya dan mengecup lembut keningnya.
.
__ADS_1
.