
Zein keluar dari kamar Mutia dan merebahkan diri di sofa ruang tamu. Pikirannya menerawang tak sanggup membayangkan jika ia tadi sampai melakukannya dengan Mutia, pasti akan sangat merasa bersalah sebab ia sendiri masih menjalani pendidikan.
--------
Zein : Pa..aku nginap di kontrakan Mutia malam ini.
Randy : Ngawur..jangan macam-macam kamu Zein.
Zein : Yaa..papa.. seperti nggak pernah muda aja papa ini
Panggilan telepon tertutup sepihak. Randy menggeleng kepala memikirkan kelakuan Zein.
"Kenapa Zein belum pulang ya mas?" tanya Naya
"Dia tidak pulang, tidur di kontrakan Mutia" jawab Randy.
"Ya Allah mas, jemput!!! Masa Zein tinggal di kontrakan Mutia. Apa kata orang. Malu mas!" cemas Naya.
"Dia tidak akan melakukan apapun. Karena dia sendiri menghubungiku" yakin Randy mengingat kelakuan Zein.
"Tapi mas, itu tidak baik"
"Zein pasti tau apa yang dia lakukan" Randy meyakinkan.
--------
Zein baru saja pulang dari luar rumah dan masuk ke dalam rumah Mutia. Ia kembali duduk di ruang tamu.
"Dari mana mas?" tanya Mutia.
"Melihat suasana sekitar saja" jawab Zein.
tok..tok..tok..
Beberapa warga nampak berdiri di depan pintu dengan tatapan tajam. Zein merasakan aura panas di dalamnya. Mutia nampak ketakutan berdiri di belakang Zein. Zein melindungi Mutia di belakangnya.
__ADS_1
"Bapak-bapak silahkan masuk dulu!" ajak Zein pada para warga.
Para warga segera masuk dan salah satu ada yang bertanya.
"Dari sore tadi saya lihat ada muda mudi di dalam rumah ini. Apa yang kalian lakukan???" bentak seorang warga.
Beberapa warga mencecar Zein dan Mutia dengan berbagai pertanyaan. Tak lama pak RT datang dengan berlari lari.
"Tunggu!!! pak Zein ini baru dari rumah saya. Minta ijin RT dan RW untuk besok menikah dan akan lanjut syarat ke KUA. Kenapa para warga anarkis begini??" jelas Pak RT.
Mutia menatap wajah Zein. tak di sangka pria di sampingnya itu akan sungguh-sungguh menikahinya.
Akhirnya para warga bubar dengan tanpa keributan.
"Apa kamu benar akan menikahiku mas? kamu nggak bercanda khan?" tanya Mutia masih tidak percaya.
"Kamu pikir aku sedang main film komedi?? ya nggak lah" jawab Zein.
Mutia menangis memeluk Zein.
"Terima kasih mas, aku sangat bahagia. Aku akan setia padamu, akan menurut padamu, aku akan mengabdi padamu seumur hidupku" ucap Mutia.
"Sudah!! tidur sana. Besok pagi kita menikah. Aku tidak mau melihat wajahmu murung saat menikah denganku" imbuh Zein.
"Mas tidur disini?" polos Mutia.
"Kamu mau aku tidak membuatmu tidur semalaman?"
"Eehhmm..iya mas, ya sudah selamat tidur" Mutia tersipu malu lalu masuk ke dalam kamarnya.
"Dasar Mutia, apa kamu mau menantang ku sekarang" decih Zein bergumam sendiri.
Maaf kak Yara, kalau aku harus melangkahimu. Aku tidak bisa meninggalkan Mutia begitu saja. Juga kalau aku terus seperti ini. Aku bisa tersiksa karena kebodohanku.
***
__ADS_1
"Apa Zein..apa kamu gila???" pekik Yara di belakang rumah.
"Aku serius kak"
"Zein, tahan!! Jangan begitu. Kamu masih pendidikan nak. Sabarlah!!! Papa yang akan mengawasi dan menjaga langsung Mutia untukmu" bujuk Randy.
Zein terduduk lesu. Begitu pula dengan Mutia yang hanya bisa diam dalam tangisnya. Memang keadaan saat ini yang tidak pas hingga Zein dan Mutia harus menunda pernikahan mereka.
"Aku tidak masalah jika harus kamu melangkahiku. Tapi saat ini fokuslah dengan karirmu Zein. Jika kamu sudah bekerja, kamu bisa menghidupi anak istrimu dengan baik dan pasti halal. Jangan terburu napsu hingga kamu lupa banyak hal" nasihat Yara membuat Zein terdiam. Zein menatap Mutia.
"Maaf dek, aku harus mengecewakanmu. Aku harus menunda menjadikanmu istriku hari ini. Tidak ada niatku mempermainkan perasaanmu. Jika sudah waktunya nanti aku akan menepati janjiku"
"Iya mas, aku sudah paham dan aku tidak kecewa. Mas tenang saja, selama mas pergi aku akan setia padamu" Zein merasa lega mendengarnya.
Zein tiba-tiba saja memeluk Yara. Air mata menetes di sudut kelopak matanya.
"Maaf kak, aku mengabaikan perasaanmu. Aku tidak sengaja, aku egois. Aku akan menikah setelah melihatmu menikah. Jika kamu belum menemukan orang yang tepat, aku tidak akan berani melangkahimu"
"Aku tau Zein. Maaf juga ya, gara-gara aku kamu harus begini"
Yara pun menangis di pelukan Zein. Ada tangis pilu di dalamnya. Yara mengeratkan pelukannya. Zein merasa ada yang berbeda pada diri Yara, Zein menoleh pada Randy meminta jawaban. Randy hanya memberi isyarat yang saat itu di mengerti oleh Zein.
"Apa kamu sedang merindukan si David mu itu?" tanya Zein lembut. Yara semakin menyembunyikan tangisnya pada dada Zein.
"Jangan menangisi pria yang meninggalkanmu, berarti dia bukan jodohmu. Teruslah jalani hidupmu dengan bahagia, lagipula dia belum menjadi suamimu" Zein membelai rambut Yara berharap tangis Yara akan berhenti.
"Baiklah kak, selesaikan dan habiskan dengan tuntas tangismu hari ini tapi tidak untuk besok. Tangismu ini sangat berharga"
"Apa salahku mencintainya Zein. Apa aku sedungu itu hingga ia meninggalkanku??" tangis Yara semakin menjadi jadi.
"Kamu tidak salah. Yang salah keadaan ini kak. Mungkin jika aku bukan adikmu, aku akan memilihmu. Karena aku paham siapa kakakku. Sudahlah.. Allah akan menggantikan jodohmu dengan yang lebih baik"
Setelah beberapa saat akhirnya Yara bisa lebih tegar dan tidak ada Isak tangis lagi. Hanya sisa sembab pilu menghiasi wajahnya. Zein melihatnya dengan hati teriris sedih.
Mungkin selama ini aku bukan adik yang baik untukmu kak Yara, tapi kalau boleh aku memilih satu jodoh untuk satu satunya kakakku ini, hanya satu itu yang menurutku paling pantas untukmu kak.
__ADS_1
.
.