
Dua Truk Batalyon berjajar bersiap mengantar para anggota yang akan berangkat tugas. Truk akan mengantarkan para anggota menuju kapal kecil untuk ke tempat tujuan.
Velly tidak mengantar Reno hingga jauh karena ia masih merasa mual dan Reno sangat mengerti keadaan istrinya saat ini. Velly hanya memangku Yara yang sudah tertidur pulas setelah di gendong ayahnya. Berbeda dengan Naya.. hari ini dia sedih bahkan teramat sedih. Randy yang melihatnya menjadi resah. Tak pernah di lihatnya istrinya itu sesedih ini saat akan di tinggal bertugas.
"Sudah donk sayang, semalam udah nangis. Dari semalam nangis sampai mata jadi bengkak begitu" Randy menyeka air mata istrinya. " Hanya satu bulan sayang, nggak lama" Hatinya menjadi sangat sakit dan berat meninggalkan Naya istrinya.
Naya memeluk suaminya dengan sangat erat, menangis sangat keras di pelukan suaminya. "Ini bukan bertugas di tempat berbahaya, kenapa reaksi istriku seperti aku ini akan berangkat perang?"
Naya berdiri memeluk suaminya hingga tubuhnya lemas membuat Randy semakin tidak tega. Pasukan yang lain juga jadi melihat 'Bu Randy' yang tampak berbeda.
"Ayo bang, semua sudah naik ke kapal" Reno membuyarkan lamunan Randy yang masih memeluk Naya. Di lepas pelukannya dari tubuh istrinya dan mengusap pipinya lalu berjalan tanpa menoleh lagi pada Naya. Melihat Naya akan semakin memberatkan hatinya untuk berangkat tugas.
"Mas, sebentar saja peluk aku sekali lagi" Naya berlari dan memeluk Randy dari belakang. Randy pun berbalik sambil melepas topinya, di peluknya lagi istrinya sambil menutup wajah mereka berdua dan di berinya ciuman bibir sekilas namun hangat untuk Naya
"Sudah ya.....mas sayang kamu dek" Randy berlari menuju rekannya tanpa menoleh kebelakang lagi.
Setelah kapal bergerak Naya berjalan menghampiri Velly lalu duduk di sebelahnya sambil menyandarkan punggungnya pada sebuah pohon dan memejamkan mata
"Mbak baik baik saja? wajah mbak pucat, Ayo kita pulang. jangan khawatirkan mas Randy lagi" Velly mengajak Naya pulang
***
"Naya sedih sekali bang, apa dia sudah baik baik saja?" Reno yang tadi melihat Naya sangat sedih menjadi ikut khawatir
__ADS_1
"Baru saja kuhubungi, katanya dia sangat lelah" Randy memutar ponselnya mengiringi pikirannya yang saling beradu memikirkan banyak hal
"Ada apa denganmu sayang? tidak biasanya kamu seperti ini. aku janji tidak akan lama" Dalam hati Randy masih bertanya tanya mengapa istrinya berubah.
***
Randy dan anggota lain mulai menjalankan tugas untuk berkeliling dusun sekalian menemui tetua adat. Anggota lain mulai melihat situasi kampung yang akan di perbaiki sedangkan Randy dan beberapa rekan sedang berbincang dengan tetua adat. Dari arah belakang muncul seorang wanita muda membawakan 4 gelas kopi
"Ini anak saya pak namanya Niari, dia putri kesayangan saya" Kata Nialu tetua adat disana. Gadis berkulit khas pedalaman namun di antara lainnya memang dia yang paling manis. Niari tersenyum melihat tamu dari ayahnya dan tertunduk malu malu.
Para anggota berpamitan pulang. mereka semua tinggal di rumah bapak Nialu yang lain. Karena hanya rumah bapak Nialu yang memadahi untuk di tinggali para anggota.
-----
"Baiklah, bapak akan minta tolong pada bapak tentara untuk mengantarmu dan warga. Jalan sedang rusak menuju kesana, lagi pula sudah beberapa hari ini mereka disini, pasti mereka ada kebutuhan yang harus dicari" Jawab Pak Nialu
Niari hanya mengangguk saja menuruti bapaknya dengan tersipu.
----
"Masyarakat disini biasa menggunakan pick up yang di modifikasi ini" Bapak Nialu menunjukan pick up yang akan di gunakan untuk membawa beberapa warga.
"Baiklah pak, saja akan mengajak dua rekan saya yang lain" Jawab Reno. Reno masuk dan berunding dengan para anggota lain di dalam. Akhirnya di putuskan Randy, Jhon, dan Reno yang berangkat.
__ADS_1
Para warga sangat senang di antarkan oleh para tentara. Memang warga disana sangat mengagumi tentara, apalagi mereka saat ini bisa berinteraksi secara langsung.
Niari hanya diam di pojok dengan menatap salah seorang dari salah satu tentara disana. Saat tanpa sengaja bertatap mata, ia pun menunduk malu
***
"Sini saya bantu bawakan. kamu tunggu saja disana bersama ibu ibu yang lain" tunjuk Randy pada ibu ibu yang sedang berdiri di bawah pohon menunggu hasil belanja mereka naik ke atas pick up.
"Iya, terima kasih" Niari menunduk dengan senyum malu dan beranjak pergi menyusul para ibu yang sedang bercengkrama.
Mata Niari masih memandang punggung Randy yang tadi membantunya. Hingga Niari tidak menanggapi percakapan para ibu yang berbincang.
Tiba tiba ada angin kencang sekali hampir memporak porandakan tenda di pasar yang hadir seminggu sekali itu. semua orang berlari menghindari barang yang berhamburan. Niari jadi merasa tidak enak badan. dia hanya duduk bersembunyi di belakang kayu yang cukup besar. Setelah cukup aman mereka keluar dan pulang ke dusun.
***
"Silahkan kopinya di minum bapak bapak..terima kasih sudah mengantar warga di perbatasan" Nialu mempersilahkan Randy, Reno, dan Jhon untuk menikmati suguhannya
Niari menatap Randy sekilas lalu pergi meletakan nampan yang di bawanya menuju dapur dan berbalik berjalan menuju kamarnya.
Dalam kamar dia duduk termenung, lalu merebahkan tubuhnya yang meriang dan mulai tidur.
.
__ADS_1
.