
Randy menggandeng tangan Naya masuk ke dalam rumah. Hari ini dia sudah di perbolehkan pulang. Tampak bu Lindu mendekati Naya dan Randy. Randy berharap tidak bertemu bu Lindu lagi, karena saat di rumah sakit dia sudah membuat istrinya itu melupakan cerita tentang dirinya saat bertugas
"Maaf ya tante, saya nggak sengaja memperlihatkan foto itu, pak Lindu hanya mengirim foto dengan caption 'tertangkap basah mah' jadi saya khan berpikir om Randy selingkuh"
"Bu, maaf ya..biar istri saya istirahat dulu" Randy menatap tajam bu Lindu hingga wanita bertubuh subur itu bergidik ngeri.
"Iya om" Bu Lindu mempercepat langkahnya meninggalkan Naya dan Randy dengan tatapan yang masih tajam ke arahnya.
-----
"Yara kok belum di antar papa mama ya mas?" Naya tiduran menghadap tembok kamarnya, Dia sangat merindukan putri kecilnya.
"Sabar ya sayang..pulihkan dulu kondisimu. Nanti papa mama pasti akan mengantar Yara kesini" Belaian lembut Randy sedikit menenangkan hati Naya.
Sesaat tadi dia sangat sedih karena harus menerima kenyataan kedua bahwa Yara harus minum susu formula karena obat obatan Naya mempengaruhi ASI.
"Mas..aku mau anakku kembali" Berkali kali kata itu diucapkan Naya dengan sedih membuat Randy pusing dan tak tau harus berkata apalagi.
Randy mengingat kembali kata kata dokter yang melarang Naya untuk hamil dengan cepat, karena pada tahap kuretase ada sedikit masalah.
"Mas..apa mas keberatan?" Rasa sedih kembali muncul karena Randy hanya diam.
"Tidak sayang..yang penting sekarang adalah kondisimu. setelah sembuh itu terserah padamu, mas akan turuti" bujukan Randy menjadi semangat bagi Naya saat ini.
Maaf sayang, aku membohongimu..yang penting kamu harus sehat. Aku tidak bisa melihatmu kesakitan lagi seperti kamu melahirkan Yara. Aku tidak masalah hanya memiliki Yara.
Bukan aku tidak menyayangi anak kita sayang..bukan...
Aku hanya tak sanggup melihat perjuanganmu untukku. Jangan menukar nyawamu lagi hanya demi melihatku bahagia.
***
__ADS_1
Randy sudah selesai menyuapi baby Yara..usianya yang sudah melewati 6 bulan sudah mendapat MPASI. Randy pun bermain dengan putri semata wayangnya. Jika sudah bermain dengan anaknya itu serasa beban apapun di hatinya seakan hilang tak berbekas.
Naya baru selesai mandi dan mengambil pakaiannya di lemari. Randy memperhatikannya dengan lekat. Tetesan air dari rambut Naya, aroma sabun dan shampo dari tubuh Naya membangkitkan seketika gairah Randy yang sudah dua bulan lebih tidak menyentuh istrinya itu.
Naya merasa suaminya sedang memperhatikannya. Dia menyadari tentang hal itu, dalam hatinya ingin sekali mengajak Randy memulai lagi..rasa ingin memiliki momongan lagi semakin besar karena hatinya selalu mengingat kehamilannya yang gagal.
***
Naya sudah menyiapkan makan malam. Randy dan Naya segera makan bersama.
"Mas, kapan mas berencana punya anak lagi" Naya mengatakan keinginannya pada Randy dengan egois dan tak berpikir bahwa Yara masih sangat kecil.
Randy tersedak mendengar pertanyaan istrinya itu.
"Sayang..biar Yara besar dulu ya. jangan egois seperti ini. kita harus pikirkan tumbuh kembang Yara dan memberinya kasih sayang yang penuh"
"Iya mas" Naya menjawab singkat namun hatinya menjadi sedih. Tidak percayakah mas padaku..aku sanggup merawat Yara. Rasa kehilangan itu begitu kuat memukul hatiku mas.
-----
Naya mendekati suaminya yang sedang memainkan ponsel dan tidur dengan kepala di sandarkan pada dada Randy. Tangan Naya mengusap dada suaminya sambil memainkan jarinya kesana kemari di atas tubuh Randy.
Randy sangat tau apa yang diinginkan istrinya saat ini, dia juga merasakan hal yang sama bahkan teramat menginginkannya, tapi Randy tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama dengan tidak menggunakan pengaman saat menyusuri medan perang. Randy pura pura mengantuk dan memiringkan tubuhnya ke sisi lain membuat Naya harus memindahkan dirinya untuk tidak tidur di dada Randy lagi
Naya tau suaminya sangat berhasrat sejak tadi..tapi mengapa suaminya tak mau menyentuhnya, lagi pula mata Naya sudah melihat kalau Randy sudah menegang
"Apa kamu tidak mau mas?" Naya bersikap manja, hembusan napas Naya di telinga Randy membuatnya sangat gelisah
"Mas lelah sekali sayang, banyak pekerjaan di kantor" bual Randy membuat dirinya tidak enak sendiri untuk tidur.
Naya beralih memunggungi Randy hingga tertidur pulas. Randy yang ternyata sejak tadi tidak tidur beranjak duduk dan berjalan meninggalkan Naya yang sedang tidur. Mulailah pelampiasannya dengan sebatang rokok di tangannya.
__ADS_1
***
"Wajahmu lesu sekali Ran" Tanya bang Ali yang melihat Randy sangat tidak bersemangat hari ini.
"Biasa lah bang, namanya juga rumah tangga" Jawab Randy
"Apa masalah kemarin belum selesai Ran?"
"Ku anggap selesai bang, Naya juga tidak membahasnya lagi, tapi setelah kehilangan anak, pikirannya menjadi terobsesi ingin anak lagi dan seolah tidak memikirkan Yara yang masih menuju usia 7 bulan" Randy mengungkapkan keluh kesah yang mengganjal dalam hatinya
"Maklumi saja Ran..itu perasaan kehilangan dari seorang wanita, sebenarnya sama saja dengan kita, hanya saja wanita lebih sensitif. hanya wanita yang kehilangan yang tau bagaimana rasa sakit di hatinya. Istriku hamil lagi saat usia anak pertamaku 3 bulan. itu semua Tuhan yang atur Ran, kita jalani saja, jangan pernah di jadikan beban"
"Ya sudah..kita kerjakan sisa tugas kita, hari ini Reno turun piket, pekerjaan kita jadi menumpuk" Ajak bang Ali setelah menyemangati Randy.
***
"Mau kopi mas?" tanya Naya yang membuyarkan lamunan Randy. Pikirannya sejak tadi hanya terfokus pada ucapan bang Ali. itu semua memang benar, tapi harus di akui, hatinya memang belum siap punya anak lagi, lebih tepatnya trauma
"Teh saja dek, sudah malam" jawab Randy.
---
Randy meminum teh buatan istrinya. Naya beralih duduk di kursi riasnya lalu menggulung rambutnya hingga terlihat leher putihnya yang mulus. Hot pant istrinya hari ini sungguh mengganggu pandangan matanya. Randy beringsut menarik selimut lalu memejamkan mata, hanya ingin mengalihkan pikirannya dari pergolakan batinnya.
Ada bibir mengecup bibir Randy dengan lembut. Sontak saja pria itu membuka matanya. Randy memalingkan mukanya. Naya menyentuh tubuh prianya dengan intens. bibir mungilnya menyusuri leher suaminya hingga degup jantung Randy terdengar kencang, Naya berhenti pada telinga.. napas Randy semakin memburu.
Randy membalikan tubuh Naya hingga kini posisinya menjadi di atas Naya. Randy menatap wajah istrinya..di ciumnya dengan lekat menunjukkan ekspresi bahwa dia juga menginginkannya sampai Randy terhanyut dalam perasaanya. Diabsennya satu persatu bagian tubuh istrinya hingga beralih ke bawah..
Randy tersadar, wajahnya sangat menahan dan secepatnya Randy keluar dari kamar dengan membawa hati yang tersiksa
.
__ADS_1
.