
Naya melihat para anggota memakai seragam khas di sore hari ini. Mereka berlari secepatnya menuju Batalyon.
Naya dan Velly sedang bercanda dengan anak mereka di halaman rumah.
"Mbak, sepertinya suami kita pulang" ucap Velly riang
Naya berdiri memperhatikan anggota yang berlari itu dengan wajah tegang. Anak dalam kandungan Naya menendang perut ibunya hingga terasa nyeri. Kini kandungan Naya sudah 7 bulan lebih.
"Beib, ada yang aneh dengan mereka" Naya melihat beberapa orang yang berbaret mendatangi rumah bu Lindu. Seketika bu Lindu berteriak histeris memanggil nama suaminya. Para anggota dan tetangga lain ikut menenangkannya
Pak Indro berdiri di belakang Naya dan Velly yang masih menatap rumah bu Lindu. Velly dan Naya menyadarinya.
Velly yang mulai khawatir langsung terduduk lemas.
"Saya harap tenang ya. Bismillah.. Saya disini ingin menyampaikan bahwa salah satu dari prajurit kita tidak dapat di temukan dalam perjuangan tugas kemarin. Hanya jasad Serma Lindu yang ditemukan" Pak Indro menjelaskan.
Dari tempatnya duduk Velly bisa melihat dengan jelas Reno yang berjalan dengan wajah pucat dan lemas menghampirinya. Velly memeluknya dengan erat dalam isak tangisnya. Di lihatnya kembali wajah suaminya untuk memastikannya bahwa Reno benar ada disini sebelum ia memeluknya lagi.
Naya mengerti, jika Reno berada disini berarti suaminya lah yang tidak dapat di temukan.
__ADS_1
"Yang sabar ya Bu Randy. Semoga kita segera mendapat kepastian tentang keberadaan Sertu Randy" Pak Indro tidak tega mengatakannya karena Naya sedang hamil menuju 8 bulan.
Reno melihat Velly untuk meminta ijinnya menenangkan Naya karena Naya sama sekali tidak bergerak dan hanya mematung di hadapannya tanpa suara. Hanya air matanya yang membendung masih di tahannya untuk turun.
"Aku akan bicara pada Naya sebagai kakak iparku, istri dari kakakmu, aku harap kamu mengerti sayang" Velly pun membiarkan suaminya bersama kakak iparnya. Reno pun perlahan mendekati Naya.
"Nay, katakan sesuatu padaku. Apa yang bisa membuatmu tenang saat ini"
"Aku tidak ingin menangis. Tapi air mataku tidak mau menurutiku. Aku yakin suamiku masih ada. Dia akan kembali disini mas" Ucap Naya terisak membuat semuanya menjadi tidak tega
"Aku harap begitu Nay, kuatkan hatimu. Masih ada aku dan semua yang ada disini"
Naya sangat kesulitan bernapas, Velly berlari kedalam rumah Naya dengan kacaunya dan mengambil inhalernya.
Reno menggandeng tangan Velly untuk menjauh.
"Beib.. aku terima kalau saat ini kamu marah padaku karena perlakuanku pada Naya. Tapi tolong mengertilah sayang, ada jasad Bang Lindu disana.. kakakmu tidak di temukan. Jika kamu ada pada posisi Naya, bagaimana kamu menghadapinya. Tidak ada rasa apapun dalam hatiku. Aku sangat kehilangan saat ini dan aku butuh dirimu, bukan kecemburuanmu sayang" Reno memeluk Velly, di tumpahkan air matanya bersama istrinya. Velly merasakan betapa beban berat yang dirasakan suaminya saat ini.
Velly memeluk suaminya. Ia sangat sedih tentang kakaknya yang masih belum jelas, tangisnya seakan menjadi di pelukan Reno
__ADS_1
Terdengar jeritan para ibu yang menemani Naya. Naya pingsan dengan tangan menggenggam dan sulit untuk di lepaskan. Reno menghapus air matanya dan segera ke teras depan
***
Di aula Komandan memberi arahan untuk pemakaman Serma Lindu. Naya juga duduk pada kursi aula. Beberapa anggota berjaga mengawasi Naya karena khawatir Asma Naya akan kambuh.
Reno mondar mandir membawa sepucuk surat, ia ragu memberikannya pada Naya.
"Apa itu mas?" tanya Velly
"Ini dari bang Randy untuk Naya" jawab Reno ragu.
Komandan mendekat pada Reno.
"Serahkan pada istrinya"
"Siap Komandan" Reno menjawab tegas lalu melangkah ke arah Naya yang duduk termenung di temani bu Indro.
"Ini yang kutemukan di tempat hilangnya bang Randy Nay" Reno menyerahkan surat itu pada Naya. Naya mengulurkan tangan menerima surat itu.
__ADS_1
.
.