
Maaf dek, aku sungguh tidak menyangka akan begini jadinya.
"Tolong jangan suruh aku pulang mas" rengek Shandri.
"Apa kamu belum puas sudah membuatku seperti ini???"
"Aku akan membuatmu mencintaiku mas!" ucap Shandri gigih.
"Jika aku harus menikah dengan orang lain, hanya kamu saja yang tidak aku inginkan" David menaiki motornya kembali dan berlalu pergi dari hadapan Shandri.
Aku sudah mempersiapkan pengajuan nikah bersamamu dek. Aku sungguh serius akan menjadikan mu istriku.
***
Senin pagi waktu apel setempat, Ada surat pindah tugas untuk Lettu David ke Biak. David memejamkan matanya sesaat memikirkan hubungan cintanya dengan Yara.
"Apakah kamu mau jika aku melamarmu dek" gumam David sambil meletakkan surat perintah itu kembali ke meja.
David mengingat ia harus membelikan tiket kepulangan Shandri, David serius pada kata katanya yang tak ingin Yara ataupun keluarganya salah paham padanya lagi.
--------
"Aku sudah membelikanmu tiket untuk besok. Kamu akan berangkat pagi" David menyerahkan tiket kapal tapi Shandri tidak mau menerimanya.
"Kamu serius mas?? Kamu baru kenal Yara dua tahun sedangkan kita sudah bertahun tahun, apakah tidak berlebihan caramu memperlakukan dia?" Nada Shandri meninggi
"Cinta tidak bisa memilih kemana ia akan berlabuh Shan" David memasukan lagi tiket ke dalam kantong bajunya, karena kalau tidak David simpan pasti Shandri akan merobeknya.
__ADS_1
Shandri menatap punggung David yang menjauh darinya.
--------
Shandri celingukan melihat David masih di dalam kamar mandi, ia mondar mandir memikirkan bagaimana caranya agar tidak pulang, kalaupun harus pulang..antara dia dan Yara tidak akan mendapatkan cinta David.
Malam ini David memantapkan hati untuk pergi ke rumah Yara dan akan menerima apapun resiko yang akan terjadi nanti.
Dalam perjalanan, perasaan David menjadi galau dan tidak menentu. Ia khawatir Yara ataupun orang tua Yara akan memisahkan hubungan mereka lagi.
tok..tok..tok..
Naya membuka pintu rumahnya dan melihat David berdiri disana.
"Masuk dulu Vid! " ajak Naya melihat wajah cemas David.
"Saya panggilkan Yara dan papanya sekalian ya" senyum Naya mengantar David untuk duduk di sofa. David mengusap wajahnya menghilangkan gugupnya sedari tadi.
Yara mendengar kedatangan David menjadi gelisah. Ingin menemui David tapi takut pada Randy, tidak menemui David tapi di hatinya masih memiliki rasa rindu, juga cinta pada David tentu saja masih sangat besar.
Randy melihat raut wajah Yara menjadi tidak tega.
"Ayo ke depan temui David bersama papa!" ajak Randy.
Yara pun mengekor Randy di belakangnya. David buru-buru berdiri melihat Randy dan Yara datang. Randy menghela napasnya.
"Sudah.. duduklah dengan santai!" David menjadi sedikit lega karena bahasa Randy tidak sekeras kemarin.
__ADS_1
"Begini pak, ada beberapa hal yang ingin saya bicarakan" ucap David serius.
"Kalian bicara saja berdua ya, saya masuk" jawab Randy yang ingin memberi ruang pada Yara dan David.
"Tidak pak, saya ingin ada bapak juga ada disini" Randy mengangguk menimpali omongan David.
"Saya di pindah tugaskan dan besok siang saya harus sudah berangkat" Yara terkejut menyandarkan punggungnya pada sisi sofa.
Naya sudah ikut duduk di ruang tamu setelah membawa sepiring ubi goreng juga teh hangat.
"Kalau ini sudah menjadi tugas negara, lakukanlah dengan ikhlas!" Randy memberikan semangat pada David.
David menunduk memantapkan hati.
"Bisakah saya melamar Yara pak, saya sungguh tidak ingin meninggalkan Yara dengan cara seperti ini. Pindah tugas ini mendadak dan saya tidak sempat menyiapkan apapun untuk melamar Yara. Saya janji, saya akan segera kembali untuk menikah dengan Yara" ucap David.
Yara memeluk Randy dengan erat, ia sangat mencintai David. Tapi ia juga menyadari ada hal yang mengganjal yang sulit untuk di ungkapkan. Masalah kebohongan David dan adanya Shandri di antara mereka cukup membuat Yara takut. Yara menatap wajah papanya meminta arahan.
Randy mengerti bahwa Yara saat ini membutuhkan dirinya untuk menguatkan Yara. Randy mengangguk seolah memberi Yara kebebasan untuk menentukan arah hidupnya.
"Hubungi aku besok mas, jika sudah berganti hari, aku tidak akan memberimu jawaban lagi" ucap Yara yang sebenarnya masih ingin menenangkan hati sambil menimbang mencari jawaban untuk kehidupannya nanti.
"Baiklah dek. Aku akan menghubungimu besok. Semoga saja kamu bersedia menjadi istriku. Aku sangat mengharapkanmu" David tentu saja merasa bahagia karena masih memiliki secercah harapan untuk menjadikan Yara istrinya.
Tak lama Randy dan Naya membiarkan David dan Yara berbincang berdua di ruang tamu.
"Percayalah.. beberapa bulan disana aku akan segera kembali dan menikah denganmu. Nanti kita akan secepatnya pengajuan nikah" senyum David pun memberikan aura positif untuk Yara.
__ADS_1
.
.