
Naya menghubungi Zein tapi tidak ada jawaban.
"Kemana anakku, jam delapan malam belum pulang. Kalau mas Randy sampai tau, sabuk indahnya akan melayang ke tubuh Zein" Randy tidak sanggup membayangkan putranya yang kini berada di bangku kelas delapan akan kena amarah dari papanya.
Beberapa saat kemudian terdengar suara Randy yang membentak putranya di ruang tamu setelah terdengar ada pintu terbuka.
"Bagus sekali ulahmu itu, kelas berapa kamu sekarang?????"
"Kelas delapan pa" jawab Zein datar
"Punya SIM nggak????" tanya Randy
"Nggak ada pa"
"Kenapa dengan gantengnya kamu balap liar di jalanan???"
"Zein... kenapa kamu selalu buat papa marah nak? Balap motor itu bahaya" lembut Naya
"Dia mana tau itu bahaya, yang dia tau hanya keren setelah tau rasanya balap motor"
Zein hanya diam, yang ada di pikirannya hanya tidak ingin mamanya khawatir.
"Jangan di ulangi lagi ya" ujar Naya lagi.
__ADS_1
"Lagian kamu dek, kenapa bisa selalu kecolongan anak keluar rumah sampai nggak pamit. Kemana aja kamu tadi" Randy meluapkan emosi yang salah.
Naya terdiam menginstrospeksi dirinya sendiri. Mungkin saja benar selama ini Naya tidak pernah memukul atau membentak anaknya dengan keras. Hanya Randy saja yang lebih tegas mengarahkan putra putrinya.
"Jangan bentak mama pa!" suara Zein memekakkan telinga.
"Sudah Zein..jangan bantah papamu lagi" Naya menarik tangan Zein yang sudah berdiri di hadapan papanya.
"Sudah jadi jagoan kamu???" Randy bermaksud menyingkirkan tangan Naya, tapi Zein mengira papanya akan memukul mamanya. Saat Zein menepis tangan Randy, Naya menghalanginya hingga tangan Randy yang beradu itu tanpa sengaja menampar pipi Naya.
Untuk pertama kali dalam hidupnya Naya merasakan tangan Randy yang begitu kuat menampar pipinya.
"Astagfirullah aladzim..." Randy menutup wajahnya sekilas lalu beralih mendekati Naya.
"Ya Allah sayang... sakit ya! Maafin mas ya, mas nggak sengaja" Randy sangat menyesal karena sudah mendaratkan tangannya ke pipi istrinya.
Ya Allah Naya istriku, aku benar benar menyesalinya.
Randy menunduk mengepalkan tangannya. Matanya juga memerah. Yara menangis memeluk kedua kakinya di ruang TV. Zein mematung menahan kesedihannya.
"Ini tamparan pertama kali seumur hidup mama selama menikah dengan papa, itu semua karena mama yang sangat sayang padamu Zein. Kelak..kalau sampai ada ulahmu yang membuat mamamu sampai terluka lagi. Kamu akan berhadapan dengan papa" Randy meninggalkan Zein, sambil berjalan di usapnya rambut Yara untuk menenangkan putrinya.
------
__ADS_1
Randy menarik selimut dan memeluk istrinya dari belakang. Kini Randy menitikkan air mata di belakang punggung istrinya.
"Maaf ya sayang..maaf" Suara Randy berat terdengar.
"Aku yang melahirkan mereka mas, jangan sampai mas lakukan lagi. Hatiku sangat sakit melihatmu marah pada Zein"
"Apapun maumu, tapi ijinkan aku untuk tegas mendidik anakku" Naya mengangguk mengiyakan.
tok..tok..tok..
"Masuk" Perintah Randy
Zein masuk ke dalam kamar orang tuanya dan menundukan kepala
"Aku nggak akan mengulanginya lagi ma, Aku nggak akan balapan lagi" ucap Zein.
"Sini sayang" Naya memeluk putranya. terlihat Yara ikut menghambur pada Naya dan Randy memeluk semuanya.
"Sakit tidak ma?" tanya Zein meringis melihat pipi Naya ada bekas tangan Randy dengan bibir sedikit terluka. Naya hanya tersenyum tipis membelai rambut putranya.
"Maaf pa, aku salah. Lain kali jangan tampar mama lagi pa" pinta Zein.
"Nggak akan pernah lagi Zein. Ini pertama dan terakhir kalinya untuk papa" Randy menampar pelan pipi putranya.
__ADS_1
.
.