Prajurit Pilihanmu

Prajurit Pilihanmu
104. Yara dan David ( 3 )


__ADS_3

Randy pulang lebih dulu untuk menjemput Naya, sedangkan David menemani Yara bersama Shandri di rumah sakit. Sejak tadi Yara merasa kalau Shandri sudah tidak nyaman berada di sana.


"Mas Dav pulang yuk, aku bosan berada disini!" ajak Shandri.


"Aku khan sudah menyuruhmu pulang sejak berada di cafe tadi. Kenapa kamu tidak pulang dan malah mengikutiku kesini" ujar David.


"Tapi Khan tujuanku ke kota ini untuk bertemu denganmu dan berjalan jalan" rengek Shandri.


"Aku tau, tapi kamu tidak bilang kalau mau kesini..juga karena ada insiden ini aku tidak mungkin meninggalkan Yara" jelas David.


"Ada orang tua Yara mas! kenapa harus kamu yang repot?" Shandri mulai cemberut.


Yara menengahi perdebatan mereka.


"Mas pulang saja! Mama papa sebentar lagi pasti datang"


"Tuh khan mas, Yara saja tidak apa-apa" Shandri menyela.


"Kamu diam dulu Shandri!!!!" tegas David.


"Aku nggak akan tinggalin kamu dek, papa mama juga belum datang. Kalau kamu butuh sesuatu mau minta bantuan siapa?" David menggenggam tangan Yara. Shandri kembali duduk. Sebenarnya dia juga tidak tau perasaannya sendiri, kenapa ia bisa kesal melihat David bersama Yara.


"Shandri..kalau kamu bosan biar mas David mengantarmu ke kantin, siapa tau kamu lapar" senyum Yara.


"Tidak perlu kamu beri tau, aku pasti akan membawanya pergi. Kamu pikir aku butuh ijinmu?" ketus Shandri.


"Shandri..kamu itu ngomong apa. Nggak biasanya kamu seperti ini" tegur David.


"Aku kesini bukan untuk melihatmu pacaran ya mas, aku mau jalan jalan. Lagi pula salah Yara sendiri kenapa dia harus celaka seperti ini karena cemburu" cerocos Shandri menghakimi Yara.


"Sudah Shan.." David berusaha mendinginkan hati Shandri karena melihat wajah Yara mulai memerah dan matanya berkaca kaca.


"Kalau aku suka dan pacaran dengan mas David kau mau apa???" tanya Shandri melotot pada Yara.

__ADS_1


"Shandriiiii" bentak David


"Apa maumu sebenarnya.. mana ada yang mau ada celaka seperti ini! Omonganku makin ngelantur"


Shandri diam lalu berlari keluar ruangan sambil menangis. Shandri menabrak Naya dengan keras saat baru saja membuka pintu kamar rumah sakit. Untung saja Randy sigap menahan tubuh Naya.


"Siapa mas?" tanya Naya.


"Katanya sepupu David" jawab Randy. Naya melihat Shandri yang sedang menangis merasa aneh dengan gadis itu.


"Kamu kenapa lagi" datar suara Randy membuat Yara menghapus cepat air matanya.


"Nggak apa apa pa. Mama bawa apa?" Yara mengalihkan perhatian Randy, tapi pria yang kini berusia setengah baya itu menatap tajam ke arah David.


"Kamu bisa kejar sepupu kamu itu" Randy sengaja menegaskan kata tengah itu.


"Tidak pak, biar saya urus nanti. Saya masih ingin bersama Yara"


"Terserah kamu saja" datar Randy.


***


"Kita memang sepupu mas, tapi sepupu angkat. Apa tidak boleh kalau aku suka padamu?" tanya David.


"Boleh..tentu saja boleh, menyukai seseorang adalah hak setiap manusia. Aku pun menyukaimu" David maju menyelipkan helai rambut Shandri di belakang telinga.


"Tapi hanya sebatas adikku saja, tidak lebih dari itu"


Shandri menangis menggelengkan kepala tanda tak mau.


"Jangan mas, jangan katakan itu. Aku menunggumu sejak dulu. Apa sedikit pun tidak ada rasa sayang untukku"


"Jelas aku sayang, kamu adalah adikku" jelas David. Shandri mendorong dada David dengan keras.

__ADS_1


"Aku tidak menyukai lelaki lain. Aku hanya menyukaimu mas" kesal Shandri.


"Maaf Shandri..tapi hatiku sudah terkunci dan hanya mencintai Yara" David berbalik berjalan pergi meninggalkan Shandri yang masih menangis.


Maaf Shan..aku hanya mencintai Yara seorang. Aku tidak mau ada salah paham antara aku dan dia dengan hadirnya kamu. Kuharap kamu bisa mengerti.


Shandri menangis bersimpuh. Tangis meraung Raung terdengar oleh David.


"Ada apa Vid?" tanya bibi.


"Shandri bilang kalau dia menyukaiku bi, aku tidak ingin dia semakin terluka karena aku sangat mencintai Yara" jawab David.


"Itu sudah benar. Biar bibi nanti coba bicara dengan Shandri"


***


"Apa benar kamu yang akan menjaga Yara disini" tanya Randy.


"Benar pak, biar saya yang jaga. Tidak perlu cemas, disini ada perawat.. tidak hanya kami berdua" senyum David mengerti kecemasan Randy


"Baiklah, saya titip Yara. Pagi pagi saya kesini lagi" Randy pergi sambil menggandeng Naya.


-----------


"Mas..apa benar Shandri adalah sepupumu" tanya Yara saat David menemani malamnya di rumah sakit.


"Iya..tapi sepupu angkat" jawab David.


Yara tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya, ia merasa gelisah.


"Jangan cemas, aku tidak akan melirik wanita lain" ucap David. Yara memaksakan senyumnya karena merasa tidak nyaman dengan sosok Shandri.


.

__ADS_1


.


__ADS_2