Prajurit Pilihanmu

Prajurit Pilihanmu
107. Hampa


__ADS_3

"Bolehkah sekali saja aku mengecup keningmu?" ucap David sebagai tanda sayangnya pada Yara. Jujur Yara tak tau harus bagaimana karena hal ini akan menjadi pertama kalinya bagi Yara.


David sudah meminta ijin pada Randy dan Naya untuk mengajak Yara keluar sebentar saja karena memang hari sudah malam.


"Iya mas" jawab Yara tersipu malu.


David mencium kening Yara dengan sayang tanpa melakukan hal yang lainnya. David ingin Yara tetap bersih dan utuh hingga saatnya jika Tuhan mengijinkannya untuk terus bersama.


"Senyummu ini akan selalu ku rindukan. Maukah kamu menjaga hatimu untukku selama aku belum kembali?" Mata David memerah, ia tak tega harus meninggalkan gadis polos kesayangannya.


Tak terbayangkan jika David harus kehilangan Yara, akan sulit baginya melupakan sosok cantiknya ini.


"Aku mau mas, dan mas disana juga jangan sampai lupa padaku dan janjimu. Jika tidak ada kabarmu..aku akan menghapus namamu dalam hatiku!" ucap Yara.


"Jangan sayang.. aku bersungguh sungguh" jawab David memelas.


***


Shandri mengendap melihat sekeliling. David masih berada di dalam kamar mandi. Tak lama Shandri keluar dari dalam kamar David setelah membuang sesuatu pada tong sampah kecil di kamar David.


David yang baru saja selesai mandi dan akan segera berangkat karena ia sudah telat.


"I LOVE YOU SAYANG, tunggu sampai aku kembali" hanya itu pesan terakhir dari David untuk Yara. Yara membaca pesan itu dan segera berangkat ke kampus karena ia juga sudah terlambat.


Jam berganti jam, menit berganti menit, detik berganti detik. Tak ada kabar dari David. Yara menatap layar ponselnya berharap David menghubunginya hingga tengah malam belum ada kabar dari David.


Sedangkan di tempat David, ia terkejut mulai siang tadi tak menemukan kontak Yara di ponselnya. Ia seolah hilang akal bagaimana cara menghubungi Yara. Karena tubuh David sudah lelah hari ini, ia tertidur dengan terus memikirkan Yara.


***

__ADS_1


David berhasil meminta kontak Yara pada rekannya dengan susah payah. Tapi tetap saja Yara tidak bisa di hubungi.


David lemas seketika, jika ia tidak mengabari Yara maka pupus lah harapannya untuk hidup bersama Yara.


***


Satu Minggu berlalu.


Sama sekali tak ada kabar dari David. Yara putus asa hingga ia tidak mau makan. Naya gelisah memikirkan putrinya yang begitu terpuruk bahkan ia juga tidak mau berangkat kuliah tiga hari ini.


"Mas.. Bagaimana Yara ini. Aku sangat khawatir mas"


"Nanti mas yang bujuk dek. Kamu juga jangan terlalu banyak pikiran. Jaga kesehatanmu juga" pesan Randy.


Istirahat siang itu Randy mencoba untuk berbicara pada Yara yang sedang mengurung diri dalam kamarnya.


Randy membuka pintu kamarnya.


"Astagfirullah..Yara!!! Kamu apa apaan nak" betapa terkejutnya Randy melihat mulut Yara penuh busa dengan mata setengah terpejam. Di lihatnya sebotol minuman bersoda, kopi hitam dan obat pereda nyeri yang di minumnya bersamaan.


Suara Randy membuat Naya berlari cepat menuju kamar Yara dan melihat sesuatu yang membuat jantungnya nyaris terlepas.


"Cepat bawa kunci mobil, kita bawa Yara ke rumah sakit" Naya menurut perintah Randy walau kakinya terasa tidak kuat untuk menopang tubuhnya.


--------


Dokter memberi tindakan pada Yara. Naya menangis sejadi jadinya melihat Dokter menguras perut Yara untuk menyelamatkan nyawanya.


"Aku nggak mau ada apa-apa sama Yara mas"

__ADS_1


"Iya sayang.. Insya Allah anak kita baik-baik saja" Randy menenangkan Naya tapi hatinya sendiri sulit untuk tenang dan hanya pura-pura tenang agar Naya tidak risau.


Sebenarnya apa yang di lakukan David pada putriku hingga Yara jadi seperti ini.


Bagaimana hati seorang ayah tidak akan terluka melihat putri kesayangannya menjadi seperti ini yang bahkan ia sendiri berusaha menjaga Yara sebaik mungkin.


Velly sedang berusaha menenangkan Yara sedangkan Reno bicara berdua dengan Randy.


"Ingin rasanya aku tampar saja si David itu. Apa saja yang ia lakukan pada Yara" kesal Randy.


"Tenang bang, menurutku David tidak akan macam-macam hanya saja Abang juga harus sadar kepolosan Yara mungkin saja membuatnya berpikir terlalu keras" Reno pun berusaha mendinginkan hati Randy.


Dokter melihat Yara sudah sadar dan memberi tau pihak keluarga.


Randy, Naya, Velly, Reno serta Vernan dan Verina ikut masuk ke kamar rawat Yara. Yara menutup wajahnya yang tidak bisa membendung air matanya. Randy meminta semua untuk duduk di sofa dan ia berbicara berdua dengan Yara.


"Cerita sama papa, kenapa kamu bisa jadi seperti ini?" lembut Randy membelai rambut Yara.


"Aku hanya ingin menikah dengan orang seperti papa. Aku tidak mau kenal mas David lagi. Mas David bohong pa. Sejak mas David berangkat tugas, ia tidak pernah menghubungiku lagi. Apa aku begitu buruk untuk menjadi seorang istri? Apa salahku kalau aku punya perasaan padanya"


Tangisan Yara menyesakkan hari seorang ayah. Bahkan Reno yang mendengarnya ikut merasa sesak. Tanpa sadar tangannya merangkul bahu Verina.


"Aku juga ingin lelaki seperti ayah. Aku takut jika pacarku nanti seperti pacar kak Yara" lirih Verina yang masih bisa di dengar semua.


Randy merasa geram melihat keadaan Yara seperti ini. Tapi dalam hati masih ada rasa syukur sebab tidak terjadi apapun pada Yara sedangkan Naya saat ini sedang kambuh asmanya karena terlalu syok melihat Yara.


.


.

__ADS_1


__ADS_2