Prajurit Pilihanmu

Prajurit Pilihanmu
22. Hukuman


__ADS_3

"Sertu Randy, silahkan sementara tidurkan istrimu di sofa,tidak apa apa. Dan team medis tolong segera di bantu istri Sertu Randy" titah Komandan pada Randy dan team medis yang sudah berjaga di ruangan sejak tadi mengingat Naya ada riwayat asma. Team medis pun segera bertindak membantu Naya.


Tok..tok..tok..


"Selamat pagi ( hormat ) Ijin komandan, ini ada kiriman duplikat flashdisk dari Sertu Nano di Jakarta untuk Sertu Randy" Ada laporan dari seorang anggota piket jaga. Randy bernapas lega karena itu adalah bukti yang di tunggu Randy.


Komandan memeriksa isi rekaman CCTV. Dari sana di perlihatkan Alana memberi obat pada gelas Randy, setelah Randy bereaksi nampak Alana sedang merayunya dan Randy mengikutinya ke kamar. 10 menit kemudian Randy keluar dengan langkah gontai sampai di sambut dua orang temannya lalu di papah keluar pub.


Alana yang masih duduk di sana, wajahnya berubah menjadi pucat. Dia tidak memperkirakan masih ada rekaman CCTV beberapa bulan yang lalu. Padahal Alana dan papinya sudah merencanakan hal ini dengan matang.


"Nona Alana, mohon maaf Sertu Randy tidak bersalah sepenuhnya. Kami tetap akan memproses kesalahannya secara intern. Ternyata itu adalah rekaman satu tahun yang lalu..jadi Sertu Randy saat ini tidak di nyatakan selingkuh dan jika tidak ada masalah lain lagi dengan tanpa mengurangi rasa hormat..silahkan anda meninggalkan Batalyon. anggota kami akan mengantar anda sampai ke depan" Komandan bertindak tegas pada Alana


Alana sangat merasa dipermalukan karena misinya gagal, ia segera berdiri dan pergi dari ruangan dengan di antar oleh seorang anggota. Randy yang sedang sibuk memberi oksigen dan membantu taem medis menyadarkan istrinya melihat punggung Alana yang pergi meninggalkan ruangan.


Randy mengeratkan gigi merasa begitu geram melihat kelakuan Alana. Randy memohon ijin pada Komandan untuk berbicara sebentar pada Alana setelah mengusap sekilas pipi dan perut Naya yang masih belum juga sadar


"Ijin Komandan..bisakah saya menyelesaikan sedikit masalah saya dengan Alana?"


"Silahkan" Komandan memberi ijin. Randy segera keluar mengejar Alana.


-----


Randy menarik lengan Alana dengan kasar


"Alana..kamu benar benar keterlaluan. Urusanmu hanya denganku, jangan bawa mereka dalam masalah ini. Istri dan calon anakku yang tidak bersalah jadi harus ikut kamu sakiti"


"Aaww..sakit Ran..lepaskan tanganmu" Alana meronta melepaskan tangan Randy yang mencengkeramnya kuat.

__ADS_1


"Kamu munafik Ran. bukannya kamu juga sangat menikmatinya secara sadar?"


"Dengar Alana. Aku memang khilaf dengan sadar menjengkali tubuhmu. tapi sedikitpun aku tidak menumpahkan milikku ke kamu. ingat itu. Kamu yang menjebakku dalam situasi bodoh itu. Jangan kamu pikir karena kamu wanita aku tidak berani menghajarmu? Sekali lagi aku melihatmu dan kamu mengganggu keluargaku lagi..tau sendiri akibatnya" Randy menghempaskan tubuh Alana dengan kasar hingga Alana jatuh tersungkur.


Alana sangat tau sifat Randy yang tidak pernah main main dengan setiap ucapannya.


Randy ingin menamparnya karena masih belum puas memberi pelajaran pada Alana. Alana bergeser mundur karena takut sambil menyembunyikan wajahnya pada lengan.


"Sudah Ran..sabar..ingat bagaimanapun dia tetap perempuan. lebih baik sekarang temani istrimu. kasihan dia" ucap seorang senior berusaha menghalangi Randy yang sungguh ingin menghajar Alana saat itu. Randy yang tersadar segera berbalik dan berlari menemui Naya.


-----


Naya sudah mengerjapkan matanya mulai siuman dan duduk perlahan. Randy tiba di ruangan dan merasa sedikit lega melihat istrinya sudah sadar dan segera duduk memeluk Naya sambil mengusap punggungnya, sesekali Randy mencium pipi dan pelipis Naya. Randy melupakan bahwa masih ada Komandan di dalam ruangan itu


"Sertu Randy" Sapa komandan menyadarkan kelakuan Randy yang masih memeluk istrinya.


"Sebutkan kesalahanmu" perintah Komandan


Randy di ingatkan tentang ketidakjujurannya, tangannya mengepal, suara tercekat menahan sesak di dada namun terdengar tegas


"Siap...


Pertama Berada di diskotik saat hari libur..


Kedua Minum minuman keras


Ketiga Bermesraan dengan wanita di muka umum..

__ADS_1


Keempat Pengkhianatan ( menyebutkan kesalahan keempat ini suara Randy seakan lirih dan hilang...dia teramat merasa bersalah pada Naya )"


"Ya..bagus kalau kamu sadar. sekarang kamu akan menerima hukuman dari perbuatanmu. segeralah ke lapangan untuk memangkas habis rambutmu, lalu lari siang memutari lapangan 20 kali dengan membawa senjata dan menggendong ransel..push up, sit up, pull up setiap pagi selama satu bulan mengikuti apel dengan membawa perlengkapan tersebut" perintah Komandan tegas


"Siap.. laksanakan"


Naya menangis karena suaminya harus di hukum. Randy berjongkok di hadapan istrinya, menghapus air matanya


"Hukuman ini memang pantas untukku, aku masih mengharapkan maaf yang tulus dari istriku. Maaf..sudah sangat membuatmu menderita sayang" Randy mengecup kening Naya. Sejak tadi Naya tak sanggup bersuara..hanya tangisan yang terdengar melepas ribuan ungkapan rasa.


Randy segera beranjak dari ruangan menuju lapangan untuk memangkas habis rambutnya. Naya melihat rambut Randy dicukur hampir botak. Naya menutup mulutnya dengan kedua tangan saat Randy akan memakai rangsel dan memanggul senjata bersiap untuk berputar mengelilingi lapangan


Naya berlari ke arah Randy dan menangis histeris melihat suaminya harus menjalani hukuman. Naya memeluk Randy dengan erat


"Sayang..bisakah kamu tidak berlari lagi. kasihan anak kita" Randy panik istrinya berlari


Naya tidak menjawab suaminya yang khawatir, yang dia tau hatinya sedang campur aduk memikirkan suaminya yang menjalani hukuman


"Aku nggak tega melihatmu lari mas, kenapa masalah selalu menghampiri kita? kenapa mas?"


"Hey..apa saat ini kamu meragukan tenaga suamimu? nanti malam pun aku masih kuat meladenimu" kata Randy tersenyum menghibur istrinya. Naya melonggarkan pelukannya..


Randy segera berbalik dan berlari menjalani hukumannya.


.


.

__ADS_1


__ADS_2