
Pertemuan itu sudah selesai. Fahira terus menatap Randy dengan kecewa, ia tidak ikhlas Randy tidak menjadi 'suaminya' lagi. Tatapan mata tajam mengarah pada Naya, sungguh benci melihat Naya yang merebut Randy darinya. Ibu Fahira terus menggamit lengan Fahira agar menjauh dari suami istri itu.
Naya berlalu pergi, berlari pulang dengan air mata di wajahnya.
"Dek.." ucapan Randy tak di hiraukan Naya.
"Cepat kejar bang!!" ucap Reno seketika
Randy berlari mengejar Naya hingga bisa meraih lengan Naya.
"Tunggu dek, kita harus bicara"
"Aku tidak ingin bicara apapun lagi mas" Naya menolak berbicara pada Randy dan melepaskan lengannya dari tangan Randy.
"Apalagi dek? Aku sudah menjelaskan sejelas jelasnya. Juga tidak pernah ada apapun antara aku dan dia"
"Aku hanya butuh waktu mas, aku ingin menghapus seluruh ceritamu dengan Fahira" Randy melepaskan tangannya agar Naya bisa pulang untuk menenangkan diri. Naya berlari pulang dengan terisak, Rasa cemas menyelimuti hati Randy.
Sebenarnya Randy juga tidak tenang. Ada perasaan menyesal mengapa saat itu dirinya sampai hilang ingatan dan bertemu dengan Fahira. Tapi takdir sudah terlanjur seperti ini hingga dia harus memperbaikinya.
***
Randy melihat Naya sedang menata pakaian pada rak lemari. Zein tidur dengan pulasnya setelah kenyang menyusu pada mamanya. Perlahan Randy mendekati Naya.
"Aku ingin bicara padamu dari hati ke hati" Randy memeluk Naya dari belakang. Naya mencoba melepaskan pelukan Randy, tapi Randy semakin menguatkan pelukannya.
"Taukah kamu rindunya aku padamu, berapa bulan kamu mengabaikanku? Saat aku belum bisa mengingatmu dengan jelas, aku tetap merindukanmu" Hembusan napas Randy juga seketika menyalurkan rasa rindu di hati Naya, tapi bayangan Randy bercumbu dengan wanita lain membuatnya kembali bersedih.
Randy membalikkan badan Naya dan mencium pipinya. Sesaat Naya terbuai dan membalas perlakuan Randy. Randy tau Naya juga merindukan saat seperti ini.
__ADS_1
"Bahkan jika kamu tidak di depan mataku sekalipun, tidak ada yang lebih membuatku sangat menginginkan hal ini terkecuali kamu. Percayalah pada suamimu! Kembalilah padaku" Dikecupnya lagi bibir Naya, napas Randy perlahan berubah menjadi tak beraturan menuntut untuk bisa melepaskan kerinduan membuat keduanya menjadi terlena.
"Seperti inikah yang kamu beri padanya?" Randy tersentak mendengar Naya yang tiba tiba menghentikan aktifitasnya.
"Tidak ada kenyamanan kuberikan lebih baik daripada ini. Bagian yang kamu inginkan hanya kamu yang memiliki, yang ingin kamu rasakan hanya kamu yang merasakan"
Naya ingin pergi meninggalkan kamar mereka, tapi Randy secepat kilat mengunci pintunya.
"Maaf aku harus egois hari ini, aku sangat merindukanmu" tatapan nanar Randy sangat di mengerti oleh Naya, tapi hatinya masih sedikit berat walaupun dirinya juga sangat merindukan suaminya
"Beri aku waktu mas" pinta Naya
"Tidak" Randy memeluk erat tubuh Naya dan mendorong perlahan menuju ranjang
"Maass..aku belum siap" Naya terus menolak
"Tidak"
"Diamlah dulu sampai selesai"
Ribuan hasrat yang sudah memuncak berbulan bulan lamanya akhirnya terselesaikan dengan tuntas.
-------
Randy duduk di tepi ranjangnya melihat Naya tidur dengan wajahnya yang sangat lelah, Keringat masih menempel di tubuhnya dan napasnya pun baru saja normal kembali. Yaaa.. Randy membuat Naya begitu lelah dengan keinginannya, tangannya membelai lembut kening wanita yang dicintainya itu.
"Terima kasih sayang, di sela marahmu kamu masih mau bersamaku. Yang tadi untuk kamu.. benar ungkapan rasa rindu dan sayangku padamu" gumam Randy sembari mengecup bibir Naya.
Randy mendengar ada yang mengetuk pintu rumahnya. Randy bangkit dan berjalan ke arah lemari mencari kaosnya disana.
__ADS_1
-------
"Lama sekali buka pintunya, lagi apa sih?? anakmu minta ketemu papanya" Velly bersungut kesal sambil menyerahkan Yara pada Randy. Reno menggendong putranya dan asyik bercanda dengan Vernan
Reno yang masuk perlahan mengulum senyum melihat ujung rambut Randy yang berantakan dengan sisa peluh masih terlihat membasahi keningnya.
"Push up" Jawab Randy singkat
"Kurang kerjaan mas, jam 8 malam olahraga" polos Velly yang tidak paham
"Biar hati kalem, kepala adem dek" ucap Reno yang mengerti di luar kepala apa yang baru saja di lakukan kakak iparnya. Randy hanya senyum melirik Reno menaikan sebelah alisnya sambil sesekali menanggapi Yara yang berbicara padanya.
"Mbak Naya mana mas?" tanya Velly celingukan mengintip Naya yang mungkin berada di dapur.
"Tidur"
"Jam segini??" Velly melihat jam dinding rumah Randy yang belum terlalu malam.
"Dia lelah menemaniku push up" Randy berucap santai.
Velly diam menerka ucapan Randy sedari tadi dan ia mulai paham arah pembicaraan kakaknya
"Ooohhh.. Edaaaann.." Velly bersungut kesal.
Tawa licik kedua pria itu mengagetkan Naya dan ia menjadi bangun dari tidurnya.
.
.
__ADS_1