Prajurit Pilihanmu

Prajurit Pilihanmu
95. Garang


__ADS_3

Zein kembali setelah mengantar Mutia. Zein merebahkan dirinya di kasur lipat ruang TV. Bayangan Mutia terus berkelebat di pikirannya.


Begitu sedap di pandang, tubuh mungil wangi mawar. Mutia.. baru kali ini aku penasaran dengan seorang gadis.


Zein tak tenang memejamkan mata. Hingga menjelang pagi hanya itu saja yang di lakukan Zein bahkan game kesayangannya pun terabaikan.


***


"Hai Mutia, apa kamu sudah baikan?" tanya Yara pada Mutia.


"Sudah baikan kak" Jawab Mutia


"Panggil aku Yara saja. Aku tidak mau di anggap tua"


"Tapi kak.." Mutia merasa tidak enak.


"Aku yang memintamu. Mulai sekarang ingat itu!" Yara menegaskan


"Ii..iya..Yara" Yara tersenyum lalu menggandeng tangan Mutia masuk ke dalam kampus.


"Sekolah yang pintar sana!!!" ketus Yara pada Zein.


"Dasar.." Zein kesal tapi tersenyum melihat gaya bicara kakaknya.


***


"Zein.. seminggu lagi kita akan ujian Nasional. Bagaimana kalau kita nanti malam 'minum' di cafe biasanya?" ajak Rio pada Zein..


"Nggak bisa, bokap gue pasti ngamuk" tolak Zein.


"Payah lu, anak mami! Gimana bisa dewasa kalau lu masih ngetekin bokap" ejek Rio


"Gue kasihan nyokap kalau sampai bokap marah nyari gue"


"Pintar banget anak mami ngeles" Rio tertawa renyah memanaskan hati Zein.


"Ok.. kita kesana nanti!" kesal Zein menyetujui ajakan Rio.


***


Malam hari Zein pamit pada Naya untuk pergi bimbel. Randy yang baru saja pulang dari rumah Reno sempat melihat Zein pergi keluar dari Ksatrian Batalyon.


"Kemana Zein?" tanya Randy dengan wajah datarnya.

__ADS_1


"Bimbel mas" jawab Naya sambil menata makan malamnya.


"Yara..bawa ayam gorengnya kesini" Yara membawa ayam goreng yang baru matang ke meja makan.


"Seminggu lagi Zein ujian khan?" Randy membuka ponselnya mengamati sesuatu.


"Iya pa ujian nasional" Yara menegaskan.


Randy makan malam tapi matanya tidak lepas dari ponselnya. Randy mengawasi motor Zein melalui GPS di ponselnya.


Bocah tengik, untuk apa Zein pergi ke kafe malam begini? Mana ada bimbel disana.


Randy mengirim pesan pada Reno


***


"Mutia..kamu disini???" Zein menajamkan matanya yang sudah setengah mabuk minuman. Zein terkejut melihat Mutia kerja di kafe itu.


"Iya Zein..aku harus membayar kuliahku dan menghidupi diriku" Mutia menunduk dengan wajah sedihnya lalu pergi meninggalkan Zein yang terpaku disana.


"Tunggu.. Jangan bekerja disini lagi. Disini bahaya untuk gadis sepertimu" Zein menahan tangan Mutia.


"Kamu tau tidak ada yang menghidupiku, kalau aku tidak bekerja.. aku tidak bisa membayar kuliahku" ucap Mutia.


Tak lama ada seorang pemabuk mengganggu Mutia dan mencoba menyentuhnya. Mutia sangat takut dan berdiri di belakang Zein. Melihat itu Zein tidak tinggal diam dan pertengkaran pun terjadi.


------


"Itu Zein bang" tunjuk Reno pada sosok Zein.


Randy datang menyikat semua pemuda yang terlibat perkelahian hingga semua diam melihat Randy dan Reno yang sanggup menghentikan keributan terlebih Randy mengalahkan kegarangan security kafe.


"******..itu bokap gue" Zein memberi kode pada Rio.


"Astaga..Angkat tangan, ngeri gue" seketika nyali Rio ciut.


Randy mendekati Zein yang berdiri di saja sudah meliuk bagaikan pohon kelapa. Tamparan keras mendarat di pipi Zein.


"Kamu tau, papa harus berbohong pada mama untuk mencarimu disini. Kamu tau bagaimana cemasnya mama menunggu kamu pulang. Kamu malah seenaknya mabuk dan berkelahi disini Zein. Kamu memang keterlaluan" bentak Randy.


"Papa hanya sayang Yara dan tidak sayang padaku" Zein tak kalah keras.


"Itu tidak benar Zein" Reno meluruskan pemikiran Zein karena Reno tau bagaimana Randy sangat menyayangi anak anaknya.

__ADS_1


"Kapan ayah melihat papa sayang padaku. Apapun itu, semua untuk Yara. Tidak ada satupun rasa sayangnya untukku" mata Zein merah padam penuh amarah


"Baiklah kalau kamu katakan papa tidak sayang padamu. Apa yang akan kamu lakukan pada papa sekarang?" tantang Randy.


"Berkelahi..aku ingin berkelahi dengan papa" Reno melarang Zein tapi Randy menyanggupi permintaan Zein.


"Apapun akan papa lakukan tapi dengan syarat" Randy menarik napasnya dalam.


"Jika papa menang.. Jangan sakiti mama dengan semua kelakuanmu lagi karena papa tidak sanggup melihat air mata mama"


"Baik pa, Aku tidak akan mengabaikan mama.tapi jika aku menang. Biarkan Mutia kerja di perusahaan papa. Aku juga tidak mau melihatnya terhina karena bekerja disini!" pinta Zein lalu tiba tiba menyerang Randy.


Mutia duduk menangis tidak sanggup melihat Zein dan Randy berkelahi. Randy tentu saja dapat menangani Zein dengan mudah karena Zein hanya menang nyali tanpa ilmu.


Pukulan telak menggeleparkan Zein ke lantai. Ada darah mengucur dari pelipisnya. Randy mengatur napasnya yang tidak stabil. Sesaat kemudian pandangan Randy kabur hingga ia ambruk ke lantai juga.


"Tidak mungkin papa tidak menyayangimu Zein. Kamu anak laki laki papa satu satunya, Kamu keinginan papa. Mama mengandungmu penuh perjuangan dan kesengsaraan. Yara adalah kesayangan papa, kamu adalah kebanggaan papa. Bawalah Mutia. Papa mengerti perasaanmu" Randy tak sadarkan diri di kafe.


"Papaaaaa..bangun pa, aku minta maaf" teriak Zein menyesali perbuatannya selama ini. Bagaimana cinta seorang ayah yang tak pernah ia mengerti sakitnya. Bertahun tahun Zein mengabaikan perjuangan, lelah dan letih papanya.


--------


"Pulanglah.. aku akan bicara padamu besok" ucap Zein yang mengantar Mutia ke panti


"Papamu bagaimana?" Mutia cemas dengan keadaan Randy.


"Ayah membawa papa ke rumahnya sampai papa stabil baru akan pulang" jawab Zein karena Randy menolak di bawa ke rumah sakit, Randy tidak ingin Naya cemas dengan kondisinya.


***


"Aku tidak akan berbuat buruk lagi pa. Maaf" ucap Zein tegas.


"Apa yang akan kamu lakukan untuk menebus kesalahanmu??" tantang Randy.


"Aku akan menjadi seorang perwira untuk papa banggakan" jawab Zein


"Omong kosong" Randy sengaja sinis melemahkan Zein.


"Akan ku buktikan pa. Tapi tolong selama aku tidak disini. Mutia dalam penjagaan yang aman" pinta Zein.


"Semudah membalikan telapak tangan papa" ketegasan Randy memantapkan hati Zein.


Akan ku jadikan kamu layak di sisiku Mutia. Aku janji.

__ADS_1


.


.


__ADS_2