
Velly mulai merasa pusing dan mual, ia sedari tadi bergelayut manja pada lengan Reno di saat keluarga sedang berunding. Mungkin bawaan bayi yang selalu ingin dekat dengan ayahnya. Setelah menjelaskan permasalahan Velly dan Reno, keluarga juga bereaksi sama seperti Randy tapi daripada itu..mereka lebih ingin memecahkan masalah ini dengan kepala dingin daripada mengedepankan emosi.
"Pa..ma..sebaiknya dalam waktu dekat ini saya dan Velly menikah saja sambil saya mengurus surat pengajuan nikah di kantor"
Orang tua Velly akhirnya menyetujui permintaan Reno. Reno memutuskan untuk segera menikahi Velly agar bisa menjaga Velly dan anaknya secara langsung.
Beberapa hari ini Velly selalu merengek minta di temani Reno hingga terdengar nada yang sedih membuat Reno menjadi ikut sedih. Velly tidak mau memakan apapun, juga mual sepanjang hari.
Siang ini Reno meluangkan waktu menengok Velly di rumahnya, Velly memuntahkan lagi isi perutnya. Reno memijat tengkuk Velly dengan lembut.
"Sabar ya, setelah urusan kantor selesai, aku akan membawamu tinggal bersamaku" Reno mengecup kening ibu dari anaknya itu dan memeluknya. Sungguh setelah Velly mengandung anaknya, rasa cinta Reno semakin besar pada Velly.
Velly hanya bisa memeluk pria berseragam loreng tersebut tanpa bisa berkata apapun, hanya mual yang ia rasakan saat ini.
***
"Ijin Komandan.. calon istri saya sudah hamil menuju 2 bulan" Reno dengan tegas mengatakan alasan pengajuan pernikahan yang di rasa mendadak di hadapan komandan.
"Sebagai prajurit tidak di perkenankan melakukan hal di luar batas seperti itu Serda Reno. Banyak sumpah yang kamu langgar" Komandan menegur dengan keras saat Reno ijin mengurus surat pengajuan nikah dan mengatakan ada gadis yang sudah hamil karena dirinya.
"Siap salah" Reno tidak menjawab apapun karena memang dia juga merasa sangat bersalah atas kejadian ini hanya karena dirinya yang tidak bisa menahan diri. Tapi apapun itu sebagai laki laki..pantang untuk Reno lari dari kenyataan dan tidak bertanggung jawab.
__ADS_1
Akibat perbuatannya..sanksi awal yang harus di terima Reno adalah sama persis seperti Randy. Awalnya komandan akan memutasi Reno, tapi karena suatu hal.. sanksi Reno hanya sampai disitu. Satu minggu hukuman dan di tambah harus memangkas rumput seluruh area Batalyon juga menggunakan seragam lengkap rangsel di gantikan oleh mesin pangkas rumput
"Ini demi kamu sayang, demi kamu dan si buah hati. aku akan segera menghalalkanmu beib" batin Reno sambil melepas helm beserta rangselnya. tubuhnya sangat lelah hingga ia merasa pusing dan meriang.
Sesampainya di barak, Reno segera mandi lalu pergi tidur, sama sekali belum menyentuh ponselnya. Dia hanya ingin tidur sebentar melepas lelahnya hingga lupa mengabari Velly yang menunggu kabar dengan cemas di rumahnya. Puluhan panggilan tak terjawab di abaikan, puluhan pesan singkat juga tak dilihat oleh Reno
----
"Dimana kamu mas? sedang apa? apa kamu tak ingat aku dan anakmu lagi?" Velly mengusap air matanya. belakangan ini perasaanya menjadi lebih sensitif.
***
"Mas, kenapa mas Reno nggak menghubungiku dari kemarin. apakah dia menyesal dan mau meninggalkanku? Velly menanyakan Reno di dalam pembicaraannya dengan kakaknya di telepon
"Kamu ngomong apa sich Beib, Reno lagi ada tugas..lagi sibuk. Nanti pasti dia akan menghubungimu" Hanya itu penjelasan Randy pada Velly karena Reno melarang Randy untuk memberi tau Velly tentang sanksi hukumannya.
Velly kesal dengan jawaban Randy. Sore itu Velly memutuskan untuk menemui Reno sambil menemui keponakannya karena ia juga sudah rindu
dengan baby Yara.
***
__ADS_1
Velly menyetir mobilnya menyusuri halaman asrama menuju rumah Randy. Samar terlihat ada seorang anggota berlari mengelilingi lapangan dengan membawa rangsel di Batalyon yang sudah sepi sore itu. Velly turun dari mobil dan memastikan apakah penglihatannya benar atau tidak. Ternyata benar anggota yang sedang berlari itu adalah Reno.
Reno yang tidak tau kedatangan Velly, berhenti dari kegiatannya berlari dan meletakan rangsel lalu ia duduk disamping rangselnya sambil terengah engah menahan sakit kepalanya karena sejujurnya Reno masih meriang. Hanya disandarkan tubuhnya pada sebuah tiang yang biasa di gunakan para anggota untuk olahraga, kakinya diluruskan dan ia memejamkan mata. "Rasanya aku mau pingsan...berat sekali rasanya tubuhku untuk berdiri" lirih Reno di sela napasnya yang tidak beraturan.
"Apakah ini pengorbananmu untuk menjadikanku istrimu mas?" wanita cantik itu menitikan air mata dan ikut duduk di sebelah Reno.
"Velly...Kenapa kamu bisa ada disini? siapa yang memberi taumu? Reno kaget Velly ada disampingnya dan tau tentang hukumannya.
"Tidak ada yang memberi tauku mas, mungkin saja anakmu ini ingin agar mamanya melihat ayahnya yang sedang berjuang......maafkan aku mas..aku berpikir kamu akan meninggalkanku dan tak menginginkan anak ini" Velly memeluk Reno dengan erat, dia merasa sangat bersalah
Reno tersenyum mendengarnya "Aku tidak akan meninggalkanmu dan aku sangat menyayangi anakku ini. Jangan berpikir macam - macam". Velly merasa lega dan semakin mengencangkan pelukannya.
"Uhhuk..hkkk...sayang..jangan terlalu kencang, aku nggak bisa napas" Reno meringis sakit. Velly segera memeluknya dan menatap Reno dengan lekat.
"Mas..kamu kok demam. wajahmu pucat. ayo kita ke rumah mas Randy..aku bantu berdiri mas" Reno bangkit setelah di ajak Velly ke rumah Randy. Velly mengangkat rangsel di sebelah Reno.
"Jangan..itu berat, aku saja yang angkat. kamu hanya perlu membawa anak kita dan menjaganya dengan baik" Reno mengambil alih rangsel dari tangan Reno dan menatap wajah khawatir wanita yang akan memberinya anak tersebut "aku nggak selemah itu sayang" imbuh Reno sambil mengecup kening Velly.
.
.
__ADS_1