
Randy, Naya, dan Yara pulang ke rumah mereka. Sepanjang jalan Naya hanya memejamkan mata sedangkan Yara berdiri di pangkuan Naya dengan sesekali melangkah ke arah Randy.
"Kalau kamu nggak kuat kenapa nggak bilang sayang?" Randy membelai lembut rambut Naya. Naya hanya tersenyum tanpa membuka matanya.
Si kecil Yara merosot mengotak atik dashboard hingga tangannya kejepit laci. Yara menangis sangat keras hingga membuat Naya kaget. Suara Yara ikut membuat Randy panik dan menepikan mobil.
"Aku bisa stress jika harus punya anak lagi" Randy marah tanpa sadar. Naya membuka pintu lalu duduk di trotoar jalan. Wajahnya berubah lebih pucat dari yang tadi. Randy pun menghampiri Naya sambil menggendong Yara.
"Maaf sayang, bukan maksudku begitu, Yara masih aktif. Mas hanya memikirkan kalian saja" bujuk Randy yang ikut duduk bersama Naya
"Iya mas, ayo cepat pulang.. aku tidak tahan kepalaku sakit sekali" Naya menyandarkan kepalanya pada bahu Randy.
"Kita ke klinik di depan sana" tunjuk Randy pada klinik yang searah dengan jalan pulang"
Naya tak menolak ajakan suaminya. Mereka segera ke klinik tersebut.
----
"Dari hasil pemeriksaan ini bu Naya terkena Vertigo pak" Seorang dokter menjelaskan
"Baiklah dok, terimakasih banyak" Randy dan Naya pamit keluar ruangan.
Randy menebus obat untuk Naya. Naya dan Yara masih duduk menunggu Randy. Ponsel Naya tiba tiba saja berbunyi nyaring. Orang tak di kenal menghubunginya. Randy menoleh pada sumber suara dan tampak mereka bertatapan. Naya hanya menaikan sebelah bahunya memberi kode pada suaminya bahwa Naya tak mengenalnya.
Obat sudah di tebus Randy dan mereka berjalan untuk pulang. Naya menidurkan Yara pada sofa belakang kemudian melanjutkan perjalanan.
Ponsel Naya berbunyi nyaring lagi dan nomer yang sama tadi telah menghubunginya. Karena terlalu berisik Naya menolak panggilan itu
Siapa yang menghubungi istriku tanpa henti?
Ketiga kalinya ponsel itu berbunyi, saat Naya baru melihatnya tapi Randy sudah merebut dan mengangkat panggilan itu
"Hallo cantik, kenapa baru angkat teleponku? ada suamimu ya" Sapa orang di seberang sana
Randy sangat kesal mendengarnya dan menatap wajah istrinya sambil memberikan kembali ponsel Naya
"Jawab" Perintah Randy lirih dengan tetap menatap Naya lalu beralih melihat jalan
"Kamu siapa?" tanya Naya
__ADS_1
"Apa suara Feri tidak kamu kenal sayang? kapan bisa bertemu lagi?" Pertanyaan Feri memanaskan dada Randy
"Maaf aku tidak bisa, aku sibuk..maaf ya Fer aku tutup teleponnya" Naya menyudahi percakapannya karena wajah Randy sudah berubah dingin dan tak bersahabat
"Kamu memberi nomer ponselmu?" tanya Randy tajam
"Iya mas, maaf" Jawab Naya takut pada Randy
"Apa kamu mengharapkan dia menghubungimu setiap saat?" Belum selesai Randy berbicara ponsel Naya berbunyi lagi dan itu adalah Feri lagi
"Akan kutembak mati dia kalau sampai besok dia masih menghubungimu"
"Iya mas" Naya tidak berani membantah apapun perkataan suaminya
Bunyi nyaring terdengar..ada notif wa masuk pada ponsel Naya
Aku tau asramamu, besok aku akan main ketempatmu ya. akan kubawakan hadiah untukmu 😘😘
"Siapa lagi" bentak Randy
"Eehh..ini Velly mas, dia tanya kita sudah sampai rumah apa belum, Velly khawatir" Jawab Naya menunjukan wa Velly yang bertepatan dengan pesan dari Feri, tangan Naya gemetar menunjukannya pada Randy. Randy membaca pesan itu sekilas lalu melihat jalan lagi.
***
Setelah lebih tenang Randy masuk ke dalam kamar untuk tidur. Dilihatnya wajah sendu istrinya, ada sisa air mata. Di sentuhnya wajah istrinya itu dengan perasaan campur aduk hingga Randy terlelap dalam tidurnya.
***
"Mas berangkat, hati hati di rumah, perhatikan anak kita dengan benar, Yara sudah mulai lincah" Banyak pesan yang Randy sampaikan karena hari ini dia akan piket jaga dan pulang esok hari
"Iya mas" Naya hanya menunduk dan sedikit bicara pada Randy. Naya masih takut pada suaminya.
Setelah Randy berangkat, Naya melakukan tugasnya sebagai ibu rumah tangga hingga sore hari setelah Yara mandi, Naya menyuapi putrinya sambil bermain di halaman depan rumah.
Naya melamun memikirkan wa dari Feri, Naya sudah mencoba menghubunginya tapi tidak bisa.
Malam hari pukul 19.00 tiba. tak ada tanda Feri akan datang ke rumahnya. Naya pun tenang dan memilih tidur dengan Yara karena dia sangat lelah.
***
__ADS_1
"Selamat malam, bapak mau kemana?" tanya petugas pos jaga kesatrian
"Mau ke rumah Naya, di mana rumahnya?" jawab seorang lelaki di dalam mobil.
"Naya siapa pak? Istri pak Randy, Sertu Randy?" Tanya pak Lindu memperjelas
"Kalau dia punya seorang putri berarti iya" Jawab Feri dengan sombong
"No 62" Jawab seorang rekan Randy dari dalam pos.
----
"Ran..ada lelaki yang mencarimu, tepatnya istrimu"
"Siapa bang?" tanya Randy pada bang Lindu karena Randy baru kembali dari mushola dan sejak tadi istrinya tidak bisa di hubungi.
"Yang jelas sombong sekali temanmu itu" jelas pak Lindu
"Apa dia naik mobil warna hitam?"
"Iya Ran" Jawab bang Lindu.
"B*****t, saya ijin pulang dulu bang" Randy secepatnya pulang menaiki motor ninja nya.
***
Naya berjalan ke ruang tamu mendengar ada orang yang mengetuk pintu rumahnya, dress satin tipis miliknya membuat tubuhnya terlihat sangat sexy. Naya membuka pintu mengira Randy pulang malam itu
"Mas Feri?????" betapa terkejutnya Naya saat yang dilihatnya adalah Feri. Feri menyodorkan kotak yang jelas terlihat itu adalah sebuah kalung emas yang cantik.
"Woooww..sexy" Feri bersiul melihat Naya berbalut pakaian yang membuat mata pria menjadi melotot saat melihatnya.
Naya yang tersadar segera masuk kedalam rumah menuju kamar untuk mengganti pakaiannya. Tak disangka Feri mengikutinya masuk ke dalam. Feri mengintip Naya berganti pakaian
Randy tiba di samping rumahnya dan memarkir motornya. Randy melangkah masuk kedalam rumahnya yang pintunya setengah tertutup. Langkah Randy tertahan melihat Feri yang sedang mengintip di balik pintu.
"Apa yang kamu lihat???" Randy mencengkeram kerah baju Feri. Randy menoleh pada kamar dan mendapati istrinya terkejut mendengar suara Randy, Naya sedang melepas dress satinnya.
Randy membanting keras tubuh Randy dan menghajarnya habis habisan. Beberapa anggota dari pos tiba, mereka datang karena cemas Randy pergi dengan keadaan sangat marah.
__ADS_1
.
.