
Zein mengikuti Rival masuk club malam. Lampu kelap kelip menghiasi suasana dingin ruangan penuh suara bising. Banyak gadis hilir mudik disana. Rival duduk di bangku bar tanpa melihat sekeliling. Zein tegang mengawasi situasi karena ia sangat sadar sedang melawan aturan.
Dua orang gadis menghampiri para pria yang sesungguhnya adalah para siswa yang sedang melepas seragam.
"Hai..mau kutemani??" rayu seorang wanita langsung duduk di atas paha Rival. Seorang lagi memeluk Rival dari arah belakang. Rival meneguk minuman berwarna biru keunguan di hadapannya.
"Tidak, aku sudah tadi" cuek Rival tanpa menyingkirkan gadis itu.
"Apa kamu saja" lirik gadis itu pada Zein lalu turun dari paha Rival sedangkan gadis satunya berjalan ke arah Rival mulai bergerilya menyentuh Rival.
"Aku juga tidak mau" tolak Zein yang ingat pada mama, Yara juga sudah pasti tidak ingin mengkhianati Mutia.
"Kenapa?" gadis itu berusaha meraih tangan Zein tapi Zein menolak.
"Aku sedang PMS sekarang" santai Zein.
"Kamu PMS???" gadis itu tertawa mendengar ucapan Zein.
"Iya, Perang Melawan Setan " seketika tawa gadis itu hilang, ia kesal lalu meninggalkan Zein.
Hanya sisa seorang yang masih saja mengganggu Rival, hingga tangannya turun berniat menggoda Rival. Rival mencekal tangan wanita itu.
"Maaf aku harus mengecewakanmu sayang, tapi ini bukan milikmu, ini ada yang punya nanti" ucapan Rival yang tegas membuat gadis itu menyingkir karena takut.
"Bang.. ayo keluar saja! disini bahaya" ajak Zein yang mulai cemas.
"Pulanglah..aku masih mau disini" tolak Rival yang hampir mabuk.
"Tidak bang, lebih baik aku menyeretmu" Zein dan rekannya akhirnya membawa keluar Rival dengan paksa dan mencari tempat untuk memakai seragam mereka kembali.
Tak lama mereka sudah memakai seragam masing masing dan Zein sudah memberi Rival jus agar mabuknya berkurang. Zein memijat tengkuk Rival.
"Kenapa dengan Rival??" tegur pelatih Nano yang muncul tiba-tiba saat ia sedang menikmati weekend bersama keluarga. Pelatih Nano tau Rival sedang mabuk.
__ADS_1
"Ijin pelatih, kami baru naik bus dari kota sebelah. Busnya pengap dan bang Rival juga masuk angin" jelas Zein memberi alasan.
"Halah sudah lah, lain kali jangan terulang lagi" pelatih Nano pergi meninggalkan para siswa.
"Di sekitar kita banyak mata, berhati hatilah!!" ucap Rival setelah reda dari rasa mabuk.
"Harusnya aku yang bicara begitu bang" Zein bersungut kesal.
***
Di rumah, Randy terus mengawasi perkembangan Zein melalui Nano. Ia tau betul bagaimana sikap 'jantan' putranya yang kadang membuatnya was was.
"Ada masalah mas?" tanya Naya melihat ekspresi wajah Randy yang tidak bersahabat.
"Tidak ada bukti yang mengarahkan Zein mabuk. Tapi Nano bilang mereka terindikasi baru keluar dari club malam" Naya duduk lemas mendengar berita itu.
"Apa Zein akan sehat disana mas?" Naya mencemaskan Zein.
"Tidak perlu cemaskan anakmu disana. Kamu tau khan bagaimana bengalnya anakmu! juga dia sedang jatuh cinta pada Mutia, dia tidak akan main api" nada suara Randy meninggi.
"Sepertinya Yara punya pacar mas"
"Hah?? siapa?? kenapa mas tidak tau" Randy terkejut dengan ucapan Naya.
"Seorang anggota juga mas dari Batalyon H" mendengar itu Randy merasa tidak tenang.
Yara baru saja pulang dari kampus ketika Randy dan Naya membahas hal itu.
"Pulang dengan siapa kamu?" tegur Randy.
"Mas David pa" jujur Yara.
"Siapa dia??" nada suara Randy meninggi.
__ADS_1
"Dia..Lettu di Batalyon H pa" jawan Yara takut menunduk.
"Papa tidak peduli apapun pangkatnya. Kalau memang dia jantan dan mau berteman dengan anak papa, harus ijin pada papa" tegas Randy.
"Dia mau antar dan bertemu papa tapi Yara yang sudah melarangnya pa" tunduk Yara dengan takut.
"Kenapa??"
"Karena aku takut papa akan menakuti semua teman priaku seperti biasanya, papa juga pasti akan mengikuti aku setiap hari seperti dulu" Naya menarik pelan tangan Yara agar duduk di hadapan Randy.
"Apa papa salah kalau papa menjaga anak gadis papa?" tanya Randy
"Sebelum ada yang resmi melamarmu dengan sungguh-sungguh, papa akan terus mengawasimu karena ini masih tugas papa sebagai orang tuamu Yara"
Yara mengangguk, memang benar semua kata papa Randy.
"Kalau Mas David melamarku apa papa akan menerimanya?" tanya Yara.
"Tentu saja........selama mata papa sudah meloloskan dia dalam pantauan papa" jawab Randy tenang.
Yara membuang napasnya kasar. Sudah pasti itu artinya Randy belum bisa mempercayakan dia untuk berpacaran.
***
"Dek, mas antar sampai rumah ya!" David ingin sekali mengantar Yara pulang.
"Jangan mas, papaku galak" tolak Yara.
"Setiap sore aku jemput kamu, tidak baik kalau kamu jalan sendirian dari kesatrian menuju rumahmu"
"Lain kali saja ya mas, aku belum siap" David terdiam sesaat masih belum memahami kenapa Yara menolaknya.
"Baiklah sayang, aku antar sampai kesatrian lagi" David menyerahkan helm untuk di pakai Yara.
__ADS_1
.
.