Prajurit Pilihanmu

Prajurit Pilihanmu
94. Masa mudaku kembali


__ADS_3

"Lama sekali sich Ra..." teriak Zein dengan tidak sabar.


"Apa sich yang di kerjakan perempuan di dalam kamar" gerutu Zein.


Yara keluar dengan make up tebalnya dengan ceria.


"Astaga.. kenapa kamu jadi begitu" pekik Zein


"Ini khan wajar, apa yang salah?" ucap Zein.


"Model jelangkung begitu kamu bilang cantik?? Jeleknya lagi macam apa???" ejek Zein


"Kamu kenapa marah terus. Temanku sudah punya pacar dan......"


"Kamu sedih karena kamu jomblo?????" Zein memotong ucapan Yara. Yara mengangguk sedih.


Sebenarnya Zein juga sedih, karena ia tau kakaknya memang selalu berdandan culun dan tidak memakai riasan apapun. Sebelum berjilbab, rambutnya pun hanya di kuncir ekor kuda.


Zein tau banyak orang yang menghina Yara di belakangnya dan bersikap baik di depannya saja. Zein kadang tidak tega saat banyak lelaki yang mengerjai Yara.


"Nanti pasti ada, jangan memikirkan hal itu. Kamu tau papa sangat sedih kalau kamu patah semangat. Papa hanya sayang padamu" ucapan itu terlontar dari bibir Yara tapi tidak sungguh dari hatinya.


"Itu nggak benar Zein" Yara menenangkan Zein.


***


Zein menunggu Yara di depan kampus sambil merokok duduk di atas motornya. Seorang gadis yang akan menyeberang jalan menarik perhatian Zein, tiba tiba dari arah kiri dan kanan ada tawuran antar pelajar. Gadis itu tersentak kaget berada di tengah persaingan antar pelajar. Zein berlari ke arah mereka.


Gadis itu jatuh di tengah terdorong dan hampir terinjak. Zein memeluk gadis itu dan membawanya keluar dari kerumunan. Gadis itu menangis ketakutan saat Zein memeluknya lagi.


"Kamu sudah aman" senyum Zein melihat gadis itu. Gadis itu kembali terkejut karena tiba tiba seseorang menyerang Zein tapi berhasil di taklukkan oleh Zein.


***


plaaaaakk...buugghhh


"Tawuran, merokok, balap liar.. apalagi nanti" Randy geram menyusul Zein di kantor polisi bersama Reno. Randy ingin melayangkan pukulannya lagi

__ADS_1


"Jangan om" Gadis itu memeluk erat Zein sambil menangis ketakutan.


Randy melemah duduk, sesak memegangi dadanya.


"Sabar bang, Abang gapapa??" Reno cemas melihat Randy duduk bersandar menahan sakit.


"Ada apa Zein, cerita sama ayah" Reno membujuk Zein, tapi Zein diam tidak mau bicara.


"Zein hanya menolong Mutia om, tidak ikut tawuran" ucap gadis bernama Mutia itu sambil terisak. Mutia berlutut di kaki Randy.


"Salahkan Mutia ya om, Zein benar tidak salah" bujuk Mutia. Randy tersenyum melihat Mutia. Yara yang membersihkan luka Zein ikut tersenyum melihat Mutia.


"Calon menantumu kah bang" Reno menyunggingkan senyum.


--------


"Kamu tinggal di mana Mutia" tanya Randy saat akan pulang dari kantor polisi


Mutia menunduk dengan gelisah, air mata menggenang di pelupuk matanya.


"Di Panti Asuhan Kasih Ibu om" Randy tidak tega melanjutkan pertanyaannya lagi.


"Aku antar Mutia pa, ini jam setengah sebelas malam"


"Jangan terlalu lama. Mama cemas mencarimu" jawab Randy.


***


"Bagaimana mas" Naya gelisah saat membukakan pintu untuk Randy.


"Aman sayang.. nggak ada apa apa"


"Mana Zein??" Naya kebingungan mencari putranya.


"Mas duduk dulu lah" Randy duduk menyandar pada sofa dengan lelahnya.


"Zein antar Mutia ma, semua salah paham" jawab Yara. Randy mengangguk lemah sambil memejamkan matanya.

__ADS_1


"Mas kenapa?" Naya cemas melihat Randy yang tidak biasanya.


"Nggak tau dek, belakangan ini kepalaku sakit dadaku ikut sesak"


"Papa sama Mama ke kamar aja. Nanti teh papa Yara antar ke kamar" Yara juga cemas melihat papanya yang tidak pernah di lihatnya lemah bahkan saat lelah sekali pun.


------


"Umurmu dua bulan lebih muda dariku tapi kenapa kamu bisa kuliah seangkatan dengan Yara?" tanya Zein pada Mutia di atas motornya.


"Pertama aku sekolah terlalu muda, kedua saat percepatan sekolah..aku mendapat beasiswa" jawab Mutia.


"Kenapa tidak ada yang menjemputmu?" tanya Zein lagi


"Siapa? aku tidak punya siapa siapa" mendengar itu Zein tersenyum, entah apa yang dirasakannya pada gadis yang sedang di boncengnya itu.


--------


Naya dan Randy berbincang berdua di dalam satu selimut.


"Dek, kelakuan Zein ini seperti masa mudaku dulu. Seperti itulah aku dulu" Kenang Randy.


"Ya ampun mas, sudah.. jangan bandingkan yang dulu dengan saat ini" Naya memeluk Randy.


"Kenapa kelakuannya mirip sekali denganku"


"Ya karena Zein itu anakmu mas" jawab Naya santai. Randy tertawa mendengar ucapan istrinya.


"Yara yang terlalu polos dan Zein yang sangat bandel. Sesak dadaku memikirkan anak anakku"


"Ya berarti jelas benar dia anakmu, lihat saja bagaimana mas Reno yang pusing saat Vernan mematahkan bangku sekolah saat berantem dan mas Reno harus mengganti semua kerugian sekolah. Dulu waktu sekolah juga mas Reno pernah melakukannya. Sifat anak tidak jauh dari orang tuanya mas!" jelas Naya.


Randy mengusap wajahnya sendiri.


"Pasrah dek!!" jawab Randy bergidik tidak bersemangat.


.

__ADS_1


.


__ADS_2