
Sepanjang perjalanan Naya hanya diam menatap jalanan menuju rumahnya. Randy melirik istrinya dengan perasaan tidak tenang. Istrinya itu sangatlah sensitif jika menyangkut wanita lain apapun alasannya.
"Mama marah ya sama mamanya Azizah ya?" tanya Zein.
"Nggak sayang..." Randy ingin meluruskan pertanyaan putranya.
"Mas bilang aku nggak marah???" Naya melotot. Randy menelan kasar ludahnya sendiri.
"Bukan sayang, maksudnya Mama itu nggak marah..hanya ingin cepat pulang saja"
Naya tidak menjawab, hanya perasaan begitu kesal pada Randy yang tidak jujur padanya kemarin.
Tak lama mereka sudah sampai di halaman rumah. Naya segera membuka pintu dan masuk ke dalam rumah.
Yara dan Zein melihat Velly dan langsung ingin ikut dengannya. Apalagi Velly mengimingi keponakannya dengan puding susu buatannya.
Randy masuk ke dalam rumah mencari Naya. Saat seperti ini pasti Naya akan sangat marah bahkan mungkin tidak mau mendengar apapun.
Randy melihat Naya sedang mengganti pakaian.
"Dek, mas itu nggak bermaksud untuk merahasiakan hal ini. Mas benar nggak tau kalau Azizah itu anak dari Fahira. Kalau mas tau ya nggak akan mungkin mas mau ketemu ibunya Azizah" ucap Randy
__ADS_1
"Jadi apa maksudnya?" tanya Naya
"Kamu pasti marah kalau tau ibunya Azizah itu adalah Fahira"
"Aku lebih marah lagi kalau mas nggak jujur. untuk apa sich mas? Biar mas bisa bebas mengantar anaknya dan bertemu dengan ibunya itu? yang selama hamilnya kamu sayang sayang mas!!!"
"Kenapa omonganku jadi ngawur gitu dek? Aku bahkan nggak berpikir sampai kesana" perkataan Randy juga sudah bernada tinggi.
"Sekali tidak jujur akan membawamu pada kebohongan lain mas. Apa jadinya kalau aku nggak pernah tau ibu Azizah adalah Fahira? Apa mas akan diam diam kesana tanpa sepengetahuanku dan menjalin hubungan lagi???" Nada Naya semakin meninggi, suara tangisnya memenuhi ruangan kamar.
Randy sangat emosi mendengar Naya yang bernada tinggi. Di sambarnya buku novel tebal yang biasa di baca Naya setiap malam, Randy mengangkatnya tinggi dan hampir menamparkannya pada pipi Naya.
Naya sangat kaget dengan refleks menutup wajahnya dengan kedua tangannya yang bergetar hebat. Randy pun kaget dengan perbuatannya hingga menjatuhkan buku yang tadi di pegangnya kuat.
Naya ambruk kuat hampir duduk di lantai yang di pijaknya ketika Randy menangkapnya. Naya sadar dengan mata masih terbuka membawa deraian air mata tanpa suara.
"Jangan hanya diam kalau marah padaku, lebih baik tampar aku sekuat mungkin tapi jangan begini" Randy memeluk Naya penuh rasa bersalah. Di kecupnya sayang pelipis istrinya. Sesaat hanya terdengar suara Napas Naya yang susah, hal itu semakin menambah kepanikan Randy
"Ada apa bang????" Reno membuka pintu kamar dengan napas tersengal, Yara gemetar mengintip papanya di balik pintu dan menangis tanpa suara juga, tangannya meremas ujung celana pendek Reno.
------
__ADS_1
Randy menyelimuti Naya yang sudah tidur setelah minum obat.
"Kalau sudah begini bagaimana bang?" tegur Reno
"Aku juga ingin jujur Ren, hanya menunggu waktu yang tepat. Hanya saja malah waktu yang tidak tepat" sesal Randy.
"Lihat Yara, Anakmu kaget melihat papanya yang mau menampar mamanya. Di depan rumah Yara mengadu padaku dan terisak, kalau aku tidak kesini apa Abang sungguh akan menampar Yara?"
"Nggak Ren, aku mana tega" lirih Randy
"Terus apa tadi?" desak Reno
"Tolong jangan desak aku Ren, kamu tau aku nggak akan tega lakukan hal itu. Aku tadi nggak sengaja karena Naya mulai melantur bicara macam macam" Randy mendesah dengan perasaan tidak karuan.
"Mau Naya atau Velly sama saja bang, kalau sudah cemburu nyawa kita pun bisa saja melayang. Tapi kalau mereka sudah dalam posisi seperti ini.. tetap perasaan tidak tega kita juga yang bikin nyawa kita mau melayang"
Randy bersandar pada sofa memejamkan matanya.
"Duuhh Ren.. sakit hatiku lihat Naya seperti ini" Randy memijat pangkal hidungnya.
.
__ADS_1
.