Prajurit Pilihanmu

Prajurit Pilihanmu
87. Membujuk rayu istriku.


__ADS_3

"Aku risih dia menyebut kata papa padamu mas" Naya membuka suara setelah pulang dari sekolah.


"Jangan dirasakan. Apa kamu pikir aku senang?" jawab Randy.


"Rasanya aku ingin menghilang saja dan melupakan semua ini" Naya mendesah lemas.


"Segalany harus kita hadapi bersama, mana ada yang tau kita akan di uji seperti ini" Randy menggenggam tangan Naya.


Setelah kejadian itu Randy serius dan sudah memindahkan sekolah Yara dan Zein. Randy tidak mau memikirkan hal buruk akan terjadi pada rumah tangganya.


Mungkin jika masalah keuangan, sebagai suami Randy pasti sanggup mengkondisikan bagaimana pun caranya, tapi jika menyangkut istrinya dan sudah membahas tentang orang ketiga, ribuan bujukan dan jutaan rayuan untuk meluluhkan hati Naya.


Naya belum mau begitu banyak bicara dengan Randy. Seperti biasa Naya akan mogok bicara sampai Randy lelah menunggunya dan kadang akan berimbas pada mogoknya jatah Randy.


------


Randy baru menurunkan mesin pemangkas rumput dari punggungnya. Halaman belakang rumah sudah bersih dan rapi. Naya mengambilkan Randy segelas minum setelah melihat suaminya duduk dengan peluh membasahi punggung dan pelipisnya. Setelah Randy menerimanya, Naya segera pergi masuk ke dalam rumah.


Di sekitar dapur, Randy melihat beberapa bekas botol obat nyamuk yang belum di buang oleh istrinya. Naya sangat takut dengan hal yang mungkin saja bisa tiba tiba meledak.


"Kenapa belum di buang juga, senang sekali menumpuk sampah" gumam Randy


Bagaimana lagi harus membujuk istriku ini. Kalau sudah marah rumahku bagaikan neraka bocor...panas.


Tiba tiba terbersit ide jahil dari Randy. Randy mengambil botol bekas minuman untuk membuat sesuatu, setelah itu menata botol obat nyamuk di dekat sampah yang baru saja di bakarnya.


duuaaaaarrrr


Suara kencang membuat Naya melonjak kaget. Naya segera berlari ke belakang rumah.


"Mas Randy..." pekik Naya mencari sosok Randy

__ADS_1


"Sampai kapan mau terus marah?" Randy muncul di belakang Naya.


"Kalau masih mengkhawatirkanku, jangan mendiamkanku lagi!" Randy menyelipkan rambut Naya ke belakang telinga.


"Aku nggak mendiamkan mas, hanya kadang hati ini merasa tidak tenang. Tidak suka dengan sebutan papa dari Fahira itu"


" 'Papa' ini hanya milik anak anakmu dan 'papa' ini hanya milikmu, jangan hiraukan sesuatu yang membuatmu sakit hati. 'papamu' ini tidak menginginkan dia" Naya memeluk Randy setelah ia puas mendengar ucapan suaminya.


"Yang ada dalam pikiranku hanya bagaimana caranya aku membahagiakan kalian. Mencari rejeki yang halal agar kalian merasa nyaman. Tidak pernah ada dalam pikiranku untuk memikirkan yang lain"


"Iya mas" Naya mulai tersenyum ringan dan bahagia.


Sebenarnya ini bukan bujukan dan rayuan, karena sayang memang muncul dari hati. Tidak bisa di paksa.


"Mama.. aku mau cake donk!!" pinta Yara tiba tiba mengganggu kemesraan mamanya.


"Bagaimana kalau papa yang buatkan?" usul Randy


"Bisa lah.." Randy sangat yakin


--------


"Pa.. bau gosong ya?" tanya Zein


"Bukaan.. papa Khan bikin cake coklat" sanggah Randy.


"Iihh..iya pa!! Coba papa lihat" Yara sangat cemas dengan cakenya.


Randy pun menuju dapur dan melihat kondisi terkini dari karyanya.


Sesampainya di dapur, Randy membuka oven, asap mengepul tebal.

__ADS_1


Aaaaaaarrrcchhh


Teriakan Yara dan Zein membuat Naya keluar dari dalam kamar setelah sholat magrib.


"Kenapa teriak nak! Ini asap apa mas??" Naya ikut panik.


"Ini sayang.. bagaimana ini" Akhirnya Randy tak kalah cemas menunjukan karyanya.


Naya melotot ingin tertawa, tapi kasihan Yara dan Zein.


"Nggak mauuuu" tolak Zein melihat cake buatan papanya.


"Yara juga nggak mau" Yara menutup mulut dengan kedua tangannya. Yara dan Zein akhirnya menangis kencang, pupus sudah harapannya untuk makan cake sore itu.


"Ya sudah.. tunggu ya! Mama buatkan lagi" bujuk Naya. Akhirnya Yara dan Zein tidak menangis lagi.


"Padahal ini tidak seberapa parah" Randy mengangkat cake buatannya lalu meletakkan lagi di meja dan memotongnya kemudian Randy mencicipi cake prahara tersebut.


Wajah Randy berubah tidak nyaman saat memakannya


"Bagaimana mas, enak tidak?" tanya Naya melihat ekspresi suaminya.


"Parah sayang.. jangan di coba" larang Randy. Naya tetap mencoba mengunyahnya.


"Ya Allah mas, kelebihan 'coklat' " ucap Naya.


"Mas Khan sudah bilang jangan di coba. Saking enaknya..ini cake kuberi nama Negro cake" Naya tertawa mendengar nama yang di beri suaminya kemudian bersiap membuat cake lagi.


.


.

__ADS_1


__ADS_2