
Zein melihat ketiga wanita yang disayanginya sedang meneteskan air mata. Ada rasa sakit di hatinya melihat Naya seorang ibu terbaik baginya. Yara kakak kesayangannya, Mutia calon istrinya. Bergantian Zein melihat Randy, sosok ayah yang sangat tegas dan disiplin tapi Zein juga semakin menyadari cinta kasih seorang ayah juga tidak terukur dengan apapun.
Zein membuang napasnya kasar karena hari ini ia tidak jadi menikah dengan Mutia, dibelainya wanita itu dengan penuh cinta.
"Semoga kamu memaafkan aku dek" harapnya tak tega karena sudah menggantung perasaan Mutia.
"Asal aku bisa selalu mengharapkanmu, berapa pun lamanya mas disana sampai selesai juga akan kutunggu" jawab Mutia.
"Terima kasih atas semua keikhlasanmu. Aku tidak akan mengecewakanmu. Aku janji!!"
Tak ada banyak kata dari Naya juga Randy. Naya hanya bisa mengusap punggung Mutia menguatkan calon menantunya. Mutia pun tersenyum dan sudah bisa menerima keadaan ini dengan lapang dada.
***
Disisi lain ada David yang sedang memandang hamparan laut yang luas di atas kapal. Ia sungguh belum bisa mengikhlaskan hubungan cintanya dengan Yara yang menggantung tidak jelas.
Hatinya masih sangat sakit dan sedih mengingat setiap kenangan yang ia lalui bersama Yara.
Apa aku bisa tegar kehilanganmu dek? Semua yang aku lakukan selama ini hanya karena aku mencintaimu.
David tertunduk lesu meratapi nasibnya. Takbir malam hari berkumandang menghanyutkan perasaan David yang semakin sakit memikirkan Yara.
***
__ADS_1
Hari raya sudah tiba. Naya, Yara, dan Mutia kembali ke rumah setelah selesai sholat idul Fitri. Randy dan Naya duduk di sofa. Yara menghambur memeluk Randy. Yang Yara rasakan saat ini hanya letih dengan semua yang terjadi, baginya hanya cinta dari seorang ayah yang tidak akan pernah mengkhianati anak gadisnya.
"Sudah sayang. Ini terakhir kalinya papa melihatmu menangis seperti ini. Suatu saat nanti kamu akan mendapatkan pengganti yang lebih baik"
"Papa benar sayang" Naya ikut membujuk Yara kemudian Yara memeluk Naya dengan erat.
"Terima kasih ya ma! setidaknya aku masih memiliki keluarga yang sangat menyayangiku"
Zein dan Mutia bergantian sungkem pada Randy dan Naya.
"Kalian berdua, papa dan mama merestui kalian. Hanya saat ini kalian harus bertahan dulu. Setelah Zein lulus dan masa awal dinasnya selesai. Terserah kalian mau cepat atau masih ingin berpacaran nantinya" Randy mengerti bahwa sekarang ada dua hati yang sedang berjuang mempertahankan cinta
-------
Mutia menatap sedih ke arah Zein, tapi Mutia menahan perasaannya demi Zein untuk menggapai cita-cita.
"Iya mas, berangkatlah dan cepat selesaikan pendidikanmu. Aku akan setia menunggumu disini sampai kamu kembali" ucap Mutia tegar.
"Apa kamu tidak sedih jauh dariku?"
"Sedih itu pasti. Tapi jika nanti mas kembali hanya untukku, semua yang sudah kita rasakan ini akan terbayar. Sebenarnya dalam hatiku tetap berharap kamu akan memenuhi janjimu mas. Karena tidak ada yang aku punya selain kamu" Zein bisa menangkap kegelisahan dalam hati Mutia.
"Jangan pernah ragukan aku. Aku bukan pengkhianat cinta. Sekali aku mencintaimu tidak akan mundur sampai kapanpun" tegas Zein.
__ADS_1
Tanpa diminta kini Mutia memeluk Zein seakan takut kehilangan pria yang sangat ia cintai, berharap pada pria yang ingin ia jadikan sandaran hidup.
"Kita akan berbagi kasih. Susah dan senang sama-sama. Hanya saja kamu harus lebih banyak bersabar. Masih panjang jalan cerita yang harus kamu lalui bersamaku!" Zein menghapus air mata Mutia yang mulai membasahi pipi.
***
Zein berpamitan pada papa dan mama saat akan naik kapal menuju kota ke arah bandara tanpa Yara karena ia sedang interview masuk kerja di perusahaan Randy. Naya memeluk erat putranya menghantarkan dengan doa. Randy menepuk bahu Zein agar lebih tenang saat akan kembali menjalani pendidikan.
Randy menarik tangan Mutia yang sedari tadi menunduk tidak menatap Zein sama sekali. Randy paham pasti ada rasa berat tak terungkapkan dari gadis itu. Randy menautkan tangan Mutia dan Zein agar mereka leluasa berbicara. Randy kemudian mengajak Naya duduk di bangku ruang tunggu sampai Zein berangkat.
"Bisakah aku terus berharap dan terus menunggumu disini?"
"Bisa. Kamu baik-baik disini jaga diri. Tunggu aku dan percayalah padaku! Aku hanya cinta kamu" Zein menyentuh dagu gadis mungil agar melihat ke arahnya.
Zein tergoda dan ingin sekali mencium lembut bibir Mutia. Zein mendekatkan wajahnya ke wajah Mutia. Debaran jantung mereka sulit di ukur dengan kata.
Zein tersenyum saat melihat Mutia yang memejamkan mata sudah bergetar ketakutan. Zein beralih mengecup lembut kening Mutia.
"I love you sayang. Hatiku ini hanya milikmu"
Mutia membuka mata penuh haru dan menangis sesenggukan di pelukan Zein.
.
__ADS_1
.