Prajurit Pilihanmu

Prajurit Pilihanmu
51. Ulang Tahun baby Yara


__ADS_3

Hari ini baby Yara berusia satu tahun. Baby mungil itu tersenyum di atas boxnya membangunkan papanya yang masih tertidur


"Papa" Sapa gadis gembul itu memanggil papanya dengan sedikit berteriak. Yara memang sudah pandai bicara beberapa kata dan berjalan di usianya saat ini.


Randy mengerjapkan matanya melihat ke arah jam dinding.


Ya Allah Yara..ini baru jam 4 pagi dan kamu sudah teriak membangunkan papa


"Jam berapa ini sayang..kamu suka sekali membangunkan papa" Randy mendekati box Yara dan mengajaknya bermain. Tak lama Naya juga bangun karena mendengar canda tawa Randy dan Naya.


"Yara sudah bangun lagi mas?" tanya Naya melihat Yara yang beberapa hari ini selalu membangunkan Randy di pagi hari.


"Iya, padahal mas ingin mengulang adegan perang kita beberapa hari yang lalu" ucap Randy lirih.


"Bukannya mas sedang uji kemampuan? apa mas tidak lelah? Naya heran dengan stamina suaminya yang seakan selalu fit itu.


"Tidak masalah buatku sayang" Randy mengedipkan mata. Naya hanya menggelengkan kepala menghadapi suaminya.


"Sayang.. Yara sudah satu tahun hari ini!" Randy mencium pipi Yara dengan gemas.


"Selamat ulang tahun sayang, cintanya papa. kamu gadis papa yang terhebat, yang mampu membuat papa jatuh cinta saat pertama kali melihat wajahmu dan hanya papa yang melihatmu pertama kali" Randy terharu mengingat saat kelahiran Yara hingga mendekapnya erat dan Yara pun menangis


Naya beralih mengambil Yara dari pelukan papanya yang membuat sesak.


"Sudah mas.. kasihan Yara..... Yara sayang.. tak ada yang bisa mama ungkapkan untuk kamu sayang tapi doa mama selalu yang terbaik untukmu" Naya mencium Yara penuh cinta.


Randy masih tertunduk di tepi ranjang. Wajahnya menampakan wajah gelisah. jari jarinya menggenggam kuat tangannya yang lain lalu membuang napas kasar.


"Dek.. mas memutuskan untuk menambah anak lagi. mas tidak akan lagi melepaskannya di luar.. kamu tau khan mas sudah beberapa kali melakukannya. kamu jangan pernah membuatku selalu resah seperti kehamilan Yara. Di dunia ini yang pertama paling kutakuti adalah Yang Memberi kita Kehidupan, Yang kedua ibu yang melahirkanku.. Mama dan kamu adalah hal yang tidak bisa dan tidak akan pernah kupilih. Kamu, mama dan Yara adalah wanita wanita yang masuk dalam jiwaku, tak pernah bisa kuungkapkan bagaimana rasanya....


Tapi kalau dihadapkan denganmu..terus terang aku tidak sanggup Nay"

__ADS_1


"Apa maksud mas?" Naya mulai lagi salah paham dengan perasaan hati Randy. Raut wajahnya berubah tegang.


"Jangan mulai lagi Nay!!"


Randy memeluk Naya yang sedang menggendong Yara.


"Aku manusia biasa sayang.. aku suamimu, hanya seorang suami.. taukah kamu sakitnya hatiku melihatmu selalu tersiksa saat hamil Yara, ingatan saat kelahiran Yara juga masih selalu ada dalam benakku. Jika saat itu aku tak bisa menyelamatkanmu dan Yara..aku lebih memilih mati. Hal yang melemahkan batinku adalah semua tentangmu dan Yara"


Sekarang Naya mengerti perasaan suaminya. Apapun yang di lakukannya semua hanya untuk dirinya juga Naya.


"Aku mengerti mas, aku akan ikut apapun keinginanmu" Naya memeluk Randy dengan erat.


***


Matahari hampir terbenam. Randy baru saja selesai memangkas rumput belakang rumahnya sore hari itu. Si kecil Yara berjalan kesana kemari mengikuti langkah papanya hingga Randy lelah mengikuti Yara. Rok tutu warna biru muda dengan kaos mungil sangat lucu membuat gemas siapapun yang melihatnya.


"Maaaa.. pegang anakmu ini, papa mau mandi dulu" Randy berteriak memanggil Naya. Randy sudah membiasakan memanggil istrinya seperti itu untuk mengajari si kecil Yara.


"Ada apa ini, kenapa keponakan ayah Reno menangis?" Reno meraih tubuh Yara dari gendongan Naya


"Mau ikut papanya terus ayah, papanya lagi mandi tuh" Jawab Naya.


Velly mencubit pipi gembul keponakannya. Velly sangat menyayangi Yara seperti anaknya sendiri walaupun ia belum menjadi seorang ibu. Naluri keibuan Velly memang sangat kuat. ia sangat bahagia karena sebentar lagi dia juga akan merasakan kebahagiaan yang sama seperti Naya. Velly langsung memilih duduk karena perutnya terasa sakit.


"Sakit lagi sayang?" tanya Reno pada Velly. Velly hanya mengangguk saja.


Randy sudah selesai mandi dan beribadah dan bergantian dengan Naya. Randy memperhatikan adiknya duduk dengan tidak tenang


"Kamu kenapa?" tanya Randy pada Velly


"Agak nyeri perutku mas" Velly beranjak dari sofa dan berjalan menuju kamar mandi. Randy beralih menatap Reno

__ADS_1


"Sudah berapa lama dia begitu"


"Sejak tadi pagi sebelum berangkat kerja bang, setelah..........."


"Maaaaaassss.... mas Randy, cepat kesini mas!" teriakan panik Naya menghentikan jawaban Reno.


Reno dan Randy berlari menghampiri Naya dan Velly yang sudah duduk di lantai luar kamar mandi.


"Aduuhh..gimana ini bang" ucap Reno memegang kepalanya dengan panik


"Ayo angkat bawa ke rumah sakit" Randy mengambil kunci mobilnya dan mereka bergegas pergi ke rumah sakit.


Randy melajukan mobilnya dengan cepat. Naya menghubungi mama dan papa agar langsung menuju rumah sakit. Velly menarik kaos Reno sekuat mungkin.


"Ya ampun mas, ini terlalu sakit" Velly memeluk tubuh Reno


"Sabar ya sayang" Reno mengecup dahi istrinya. ada khawatir yang tampak dari wajahnya.


Randy gelisah, tangannya gemetar mendengar Velly yang kesakitan. Jantungnya berdetak keras mengingat kelahiran Yara lagi


"Mas..hati hati bawa mobilnya, kalau mas nggak konsen kita semua bisa celaka" ujar Naya


"Ayo bang...aku nggak tahan lagi liat Velly" Reno menambah kegugupan Randy.


"Astagfirullah..diamlah kalian semua, aku tau..kalau kalian tetap bicara aku semakin nggak konsen lihat jalan" bentak Randy tanpa sadar


"Ayoooo maaass....aku nggak kuat, ini sakiiitt" Velly menjambak Rambut Randy dengan kesal


"Astaga..aku bisa gila" gumam Randy sambil memukul setir mobil..


.

__ADS_1


.


__ADS_2