
Mutia menunggu kabar Zein hari ini sebab di Hari Raya tahun ini ia akan pulang tapi hingga sore menjelang tak kunjung ada kabar dari Zein.
"Kenapa kamu tiba-tiba tidak ada kabar? dua hari ini tanpa kabar darimu membuatku sangat tersiksa" gumam Mutia sambil menyelesaikan kotak terakhir berisi bahan dapur.
Mutia berjinjit mengambil kain lap untuk membersihkan sisa bubuk tepung. Tubuh kecil Mutia tidak bisa menggapai lemari di bagian atas. Saat sedang mengambil kain lap, ada tangan yang merangkul pinggang Mutia sambil tangan satunya mengambilkan kain tersebut.
Mutia sangat terkejut, hampir saja sebuah panci melayang ke wajah pria yang memeluknya kalau ia tak sempat menyadarinya.
"Maasss!!" pekik Mutia melotot melihat sang pemilik tangan.
"Kenapa melotot begitu? Apa aku ini semacam hantu?" goda Zein.
"Kapan mas datang?"
"Siang tadi" jawab Zein sambil terus memperhatikan wajah Mutia.
Mutia pun memperhatikan wajah Zein dengan lekat, kini wajah pria di hadapannya itu semakin nampak tegas dan maskulin, otot tubuhnya semakin terbentuk dengan perut yang nampak gagah di balik jaket yang terbuka.
"Apa yang kamu lihat? Apa sepanjang malam hanya ingin memperhatikanku saja?" Mutia segera mengalihkan pandangan mendengar teguran Zein.
"Ayo keluar jalan-jalan!" ajak Zein.
"Jangan mas! aku masih kerja" tolak Mutia.
"Siapa yang akan menegurmu? ini juga hotel milikku" cuek Zein. Zein menggandeng tangan Mutia keluar dari gudang bahan pangan hotel.
"Mau kemana kamu! bawa laki-laki kesini. Mau saya pecat kamu?? Kembali bekerja dan pulang nanti jam 10 malam!!! " bentak seorang supervisor dengan wajah mesumnya.
"Silahkan besok pagi bapak pindah ke bagian gudang laundry!!" tegas Zein membalikkan badan dan membuat Supervisor itu gelagapan.
"Jadi begini caramu memperlakukan calon istri saya???" Nada keras Zein membuat para pekerja ikut berkerumun melihat ke arah suara.
"Saya membawa calon istri saya kesini bukan untuk di perlakukan seperti ini! Dan kamu dek..kamu nggak pernah cerita kalau kamu di perlakukan buruk disini. Kalau bukan karena permintaanmu, aku nggak akan taruh kamu di bagian ini apapun alasannya" geram Zein.
Randy yang sore itu sedang mengontrol hotel melihat kemarahan Zein di samping gudang bahan pangan.
"Ada apa Zein. Suaramu sampai kemana mana" tegur Randy.
__ADS_1
"Tanyakan pada supervisor hebat ini pa" jawab Zein.
Randy sangat paham dengan putranya, jika Zein sudah marah berarti ia yang harus menanganinya. Sebab kemarahan Zein kadang belum bisa terkontrol dengan baik.
"Kamu ikut saya ke ruangan!!" Perintah Randy dan supervisor itu hanya bisa pasrah mengikuti Randy dari belakang.
-------
"Apa saja yang ia lakukan padamu selama ini?" tanya Zein pada Mutia dengan tegas.
Mutia menunduk takut dan Zein langsung dapat menebak selama ia tinggalkan, Mutia mengalami banyak hal yang tidak mengenakan karena jelas ekspresi supervisor Mutia tadi sangat mengganggu hatinya.
"Katakan padaku!!" lembut Zein namun penuh ketegasan. Mutia memainkan jarinya berharap menemukan ketenangan dan kekuatan untuk bercerita pada Zein.
"Dia pernah hampir saja......" Mutia berusaha tegar menjelaskannya.
"Memperkosamu??????" mata Zein terbelalak. Mutia mengangguk pelan dengan derai air mata.
"Br*****k.. Ba*****n sial.. Akan kubunuh dia" Zein berjalan cepat dengan amarah meledak ledak. Mutia berlari menyusul dan memeluk tubuh Zein dari belakang.
"Darimana aku percaya haahh??? Aku yang meninggalkanmu disini tanpa tau apa yang terjadi padamu. Bagaimana aku bisa percaya dek???"
"Percayalah padaku mas..aku menjaganya untukmu" Mutia mengencangkan pelukannya.
"Buktikan!!!!!!" tantang Zein. Mutia melepaskan pelukannya dan menunduk pilu mengusap air mata di pipinya.
"Apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya padaku mas?" tanya Mutia.
-------
Zein dan Mutia sudah berada di kontrakan milik Mutia. Hanya berdua saja di dalam rumah yang tampak sepi bahkan cicak saja tidak terlihat. Hanya suara jangkrik mengiringi sunyinya malam.
Zein membuka jilbab Mutia, di lihatnya rambut hitam bergelombang milik wanita yang amat ia cintai. Zein menarik ikat rambut Mutia. Mutia memejamkan mata menangis membiarkan apa yang dilakukan oleh Zein.
Zein mengecup bibir Mutia dengan perasaan dan akhirnya lama semakin lama pergulatan bibir itu semakin dalam dan membuat Zein semakin gelap mata. Zein menyusuri tiap lekuk tubuh Mutia. Mutia semakin terisak setengah menolak tangan Zein.
Zein menyadari tingkah Mutia yang sangat ketakutan. Perlahan ia yakin bahwa Mutia tidak pernah berbohong padanya.
__ADS_1
"Jangan menangis lagi, tidak akan sekarang sayang. Nanti ada waktunya" Zein menghapus air mata Mutia. Hari ini adalah hari pertama Zein dan Mutia bertemu tapi malah harus hancur dan rusak karena supervisor itu.
Zein berdiri ingin menenangkan diri di ruang tamu, tapi Mutia menarik tangan Zein.
"Apa kamu masih marah mas?" tanya Mutia takut.
"Nggak" singkat kata Zein.
"Kenapa mas keluar??" Suara tangis Mutia terdengar manja di telinga Zein. Entah hanya perasaannya atau apa, yang jelas suara Mutia membuat jantungnya berdebar semakin kencang.
Zein memakaikan kembali jilbab segi empat yang tadi sempat di pakai Mutia.
"Aku tidak yakin bisa menahan diri kalau terus disini. Pakailah jilbabmu!!! Aku keluar sebentar" titah Zein.
"Mas, jika kamu yang minta.. aku ikhlas" ucap Mutia tetap berlinang air mata.
Senyum Zein tersungging manis menanggapi ucapan Mutia.
"Yakiiiiinn???" Ledek Zein. Mutia hanya mengangguk. Zein duduk kembali di sebelah Mutia.
"Kalau memang aku nanti tidak bisa menahannya dan kalau sampai itu terjadi. Setidaknya aku tidak di pendidikan lagi. Aku hanya memikirkan nasibmu saja sayang" Zein membelai lembut rambut Mutia yang belum sempat tertutup jilbab.
.
.
####
Haii pembaca semua. Disini saya beri sentuhan visual. Mohon maaf jika mungkin jauh atau tidak sesuai dengan selera pembaca semua ya๐
Bisa tidak ya kalau ini jadi masa muda Randy๐๐, jujur saya kurang cocok dengan visual wanitanya๐
Terima kasih pembaca setiaku. Tetap sehat selalu. Tetap dukung karyaku ya!! Jangan lupa like, comment, vote and bintang. ๐ฅฐ๐ฅฐ๐ฅฐ๐๐๐.
__ADS_1