
Naya yang sedang menikmati setiap sentuhan Randy menjadi bingung "Ada apa dengan mas Randy? apakah karena wanita di dusun itu hingga mas Randy tak menginginkanku? Atau segitu tak inginnya kah mas Randy soal anak?" Pikiran Naya melayang kemana mana hingga terdengar suara tangisan putri kecilnya.
----
"Aku tidak bisa begini terus, sampai kapan aku bisa bertahan. Istriku akan selalu ada di depan mataku, tidak mungkin aku tidak merasakan apapun..aku harus mencari akal" batin Randy sambil menarik napas panjang melegakan dadanya yang terasa sesak menahan hal yang tak terlampiaskan
***
"Minum obatnya sayang biar kamu cepat sehat" Randy memberikan obat pada Naya
"Ini apa mas, seminggu ini khan aku minum?" tanya Naya pada Randy
"Ini hanya vitamin seperti biasanya supaya kamu lebih sehat"
Semyum Randy sungguh manis malam ini
"Oohh" Naya segera meminumnya dan berjalan menuju kamarnya.
Sudah satu minggu ini Randy memberi Naya vitamin tambahan agar Naya lebih sehat
Setelah mereka di dalam kamar Randy segera menutup pintunya rapat, dipeluknya tubuh istrinya dengan erat. Randy menyingkirkan rambut Naya yang menutupi leher belakangnya, diciumnya tengkuk leher istrinya dengan lembut membuat Naya menjadi merinding
"Mas pengen??" Randy hanya mengangguk dengan mata nanar menjawab pertanyaan istrinya.
"Kemarin nggak mau mas, tumben.." Randy tetap tidak menjawab pertanyaan istrinya, yang dia tau saat ini dirinya sangat menginginkan istrinya.
Randy menggendong tubuh Naya dan di rebahkan pada kasurnya yang tidak begitu besar. Randy meluapkan apa yang diinginkannya.. menikmati tiap lekuk tubuh istrinya. Napasnya terdengar berat. Naya sedikit mendorong tubuh suaminya
"Mas yakin?? apa mas akan pakai pengaman?"
__ADS_1
Randy seakan tak sanggup menjawab pertanyaan istrinya, ia hanya menggeleng. Naya yang ingin bertanya lagi di bungkam dengan ciuman hangatnya.
Malam ini...Randy menyelesaikannya.
***
Sudah satu bulan ini hampir setiap malam Randy meminta jatah pada Naya. Entah lelah atau tidak suaminya itu, tapi Randy selalu melakukannya tanpa takut jika Naya tiba tiba saja bisa hamil. Hari ini Randy lembur di kantor hingga pulang telat. Naya melangkah ke arah dapur dan meminum vitaminnya seperti biasa.
"Assalamualaikum" terdengar suara lelah Randy yang baru saja tiba di rumah.
"Waalaikumsalam mas, mas mau mandi atau makan dulu" Naya mendekati suaminya dengan pelukan manja serta ciumannya.
"Mandi dulu dek" Randy mengecup kening Naya "Tolong siapkan seragam khas ya, besok ada jajar pasukan untuk persiapan minggu depan"
"Iya mas, mas mandi dulu. aku siapkan makan" Naya menyiapkan makan untuk suaminya dan membuat teh hangat.
Randy mandi tidak begitu lama karena hari sudah malam. Selesai berganti pakaian Randy pun mulai makan. Randy makan dengan cepat makanan yang sudah di siapkan istrinya di meja
"Yang terbaru sayang, coraknya paling berbeda" Randy sudah menyelesaikan makan malamnya dan berjalan menuju kamar
----
"Apa ini???" Naya melihat dua blister yang isinya telah kosong. "Bukankah ini pil kontrasepsi? lalu dimana isinya?"
Randy membuka pintu kamarnya
...deeegg...
Naya memegang blister itu..apa yang akan terjadi setelah ini, ****** aku
__ADS_1
Naya keluar kamar melewati Randy dengan tatapan tajam mengarah pada mata suaminya. Naya sampai di dapur dan mengambil 'vitamin' yang selama ini dia minum. Naya menghitung pil yang tersisa pada plastik obat itu "sisa 10 butir...pas dengan blister ini"
Randy sudah mengamati istrinya yang mulai tau tentang ulahnya. Sebulan yang lalu Randy membeli pil kontrasepsi di apotik, sampai di rumah dia mengeluarkan seluruh isinya dan memasukannya pada plastik obat.
"Jelaskan ini mas!! kenapa mas tega membodohiku seperti ini, kamu sungguh tidak jantan mas!!!" Naya sangat marah dan membuang 2 bungkus blister kosong ke segala arah. Naya berjalan meninggalkan dapur, setelah berpapasan dengan Randy.. tangan Randy menghadang langkah Naya hingga bibir Naya tepat di depan bahu Randy.
"Tidak jantan dalam arti apa??? Apa dua hasil karyaku belum membuka matamu???" Suara Randy terdengar dingin. Naya meronta ingin berjalan ke kamar tapi Randy semakin erat melingkarkan tangannya ke pinggang istrinya
"Biasakan mendengarkan suamimu kalau sedang bicara" Suara tegas Randy membuat Naya berhenti meronta seketika.
"Aku hanya bisa lakukan itu...terus terang aku belum siap. saat melihat Yara lahir di depan mataku di tempat yang tidak semestinya..itu membuat hatiku sangat hancur. juga kehilangan anak kita karena aku yang sulit mengendalikan diri juga membuatku sangat terpukul..sama sepertimu"
"Tapi mas tidak berunding denganku" Naya meninggikan suaranya membuat Randy terpancing emosi
"Apa saat itu kamu mau mendengarkanku? kamu hanya ingin anakmu kembali..Yara masih sangat kecil.. mentalmu sedang down dan aku tidak mungkin memenuhi secepat itu keinginanmu untuk memberi Yara seorang adik lagi"
"Jadi mas hanya ingin membuatku tenang? mas bohong padaku kemarin" Naya menangis menahan kesalnya. Randy seakan memberi harapan palsu padanya
"Apa yang bisa kulakukan, ada banyak faktor..dokter juga melarangmu untuk hamil cepat, agak sulit untuk kita punya anak lagi....dan dokter menyarankan kita tidak memiliki anak lagi karena asmamu itu terlalu parah, kamu nggak akan kuat. aku tidak mau mengambil resiko apapun tentang hal ini" Akhirnya Randy mengatakan yang sebenarnya, tidak ada gunanya menutupi semua dari Naya.
"Kalau memang benar sesulit itu kenapa mas harus menyuruhku mengonsumsi pil itu? Apa ada faktor lain yang membuat mas tidak mau punya anak lagi?" Arah mata Naya menyiratkan pertanyaan yang sangat di mengerti oleh Randy.. Yaa istrinya mulai mengingat masalah kemarin dan menyambungkannya pada masalah ini.
Randy yang sudah sangat lelah sekarang hilang kesabaran. di lepasnya tangan yang saat ini melingkar pada pinggang istrinya dan melangkah ke arah meja makan. Randy mengambil bungkusan pil itu.
"Aku sungguh sangat lelah hari ini dek, ini khan masalahmu. aku akan buang ini.. setelah itu apa yang akan terjadi, aku pasrah" Randy merusak bungkus plastik pil itu dan membuang jauh isinya lalu berjalan ke kamar.
Naya menangis hari ini. Ada rasa penyesalan hanya ia sendiri yang tau setelah apa yang sudah terjadi. Naya menelungkupkan wajahnya di meja makan menangis tersedu sedu sendirian. Randy melihat istrinya yang menangis dari balik pintu kamar
Semoga kamu mengerti sayang...
__ADS_1
.
.