
Randy mondar mandir menunggu di depan ruang IGD. Velly hanya bersandar pada pinggang Reno yang memilih berdiri. Reno memperhatikan raut wajah cemas pada wajah Randy.
"Kau lihat akibatnya bang, memang abang tidak salah, tapi foto itu memposisikan abang salah" Reno sangat menyayangkan sangat cepatnya berita ini naik ke permukaan.
"Itu bu Lindu bang yang menunjukannya pada ibu yang lain hingga mbak Naya mengintipnya" Velly menerangkan darimana musibah ini berasal
"Astagfirullah..ini tidak seperti itu, lihatlah akibatnya sekarang, jangan sok tau" Bentak Randy menggelengkan kepala menghadapi mulut ibu ibu yang sangat cepat melebarkan sayap gosip.
"Semoga Naya baik baik saja" Randy mengintip ke dalam melalui pintu kaca
----
"Bapak ini suami dari ibu Naya?" tanya dokter
"Iya dok, saya suaminya. bagaimana kondisinya dok" jawab Reno
"Kandungan ibu Naya sangat lemah pak, kami tidak bisa menyelamatkan janinnya, harus di kuret hari ini juga" Dokter menjelaskan
Randy bagai tertampar, tubuhnya terasa ringan dan sangat lemas. Reno segera menyangga tubuh Randy melepaskan Velly yang bersandar pada pinggangnya. Pusing mendera, dadanya pun sangat sakit.
"Bagaimana ini Ren..suami macam apa aku ini. aku bahkan tidak tau kalau Naya hamil" Randy mengacak rambutnya karena frustasi.
"Bisa sekarang di tanda tangani pak?" tanya Dokter
"Tolong beri kami waktu sebentar dok, setelah ini kami akan temui dokter" Reno menjawab ucapan dokter karena Randy tak bergeming dan terlihat sangat syok
"Baiklah pak, saya tunggu" Dokter pergi meninggalkan mereka bertiga
"Abang duduk dulu, abang tidak bisa begini..kasihan Naya di dalam. dia pasti juga sangat sedih bang"
Randy hanya tersandar pada bangku rumah sakit dengan derai tangis merasakan perasaanya yang campur aduk saat ini.
***
__ADS_1
Dokter mengambil surat yang sudah di tanda tangani Randy. Surat persetujuan kuretase
-----
"Apa aku hamil mas?" tanya Naya pada Randy
"Saat ini iya sayang, tapi tidak untuk sebentar lagi" Randy menggenggam tangan Naya erat
"Apa mas membuang anakku? Anak kita?" Naya sangat kecewa dengan jawaban suaminya
"Bukan begitu sayang, usia kandunganya 8 minggu, tapi dia tidak sekuat Yara" Randy ingin agar Naya sedikit lebih tenang
"Mas bohong..mas nggak mau khan anak ini. mas pernah bilang supaya Yara menjadi satu satunya anakmu. Kamu jahat mas" Naya mulai berpikir yang tidak masuk akal karena emosinya sangat labil saat ini
"Nggak akan ada satupun ayah yang akan menolak anaknya untuk hadir kedunia. begitupun aku, tapi ini belum rejeki untuk kita sayang"
Naya menangis pilu. ia ingin anaknya tetap ada. Sampai perawat datang untuk membawanya ke ruang tindakan. Randy menatap Naya yang pergi bersama para perawat. Hatinya resah dan kalut
*Sekarang aku harus bagaimana sayang??
Maafkan papa sayang, tanpa sadar papa lah yang menyebabkanmu harus pergi. taukah kamu..papa sangat menyesalinya. jika waktu bisa papa putar kembali papa akan menjagamu..tapi takdir tidak bisa papa ubah sayang...
Kehadiranmu walau hanya sesaat tetap akan selalu ada di hati papa*...
-----
***
Randy tertidur sangat pulas tertelungkup dengan duduk di samping ranjang Naya. hingga orang tuanya datang dan pergi, ia pun tidak menyadarinya. Tubuh dan perasaannya sangat lelah hari ini.
Naya tersadar dan melihat suaminya sedang tidur dengan menggenggam jemarinya erat. Wajahnya sangat lelah. Naya menyentuh wajah suaminya itu, terlihat wajah suaminya meninggalkan bekas sembab di wajah menandakan Randy juga sangat terpukul menghadapi ini semua.
Randy merasakan ada jemari yang menyentuh wajahnya, istri tercintanya sudah bangun rupanya. Naya bergerak perlahan menggeser tubuhnya
__ADS_1
"Kamu sudah bangun sayang? mau apa?" Tanya Randy
"Aku hanya mau....anakku" Naya masih bersedih harus kehilangan kehamilannya.
Randy berdiri dan setengah memeluk istrinya
"Pulihkan dulu kondisimu sayang, aku akan penuhi semua keinginanmu.. mau anak dua, tiga, atau empat akan aku turuti" Hanya itu saat ini yang bisa di katakan oleh Randy, sebab Yara juga masih terlalu kecil untuknya memiliki adik lagi.
Naya memeluk suaminya, dilepaskan semua beban yang ada dalam hatinya. Hanya Randy yang mampu membuatnya tenang saat ini.
"Kamu mau makan sayang, itu ada makanan di meja..sepertinya mama papa tadi kesini"
Naya mengangguk "Aku mau ke toilet dulu mas"
Randy menggendong tubuh Naya. ia tidak ingin membuat jarak dengan istrinya. sudah cukup rasa bersalahnya membuatnya menjadi gila memikirkannya
Setelah Naya kembali di tempat tidurnya.. Randy menyuapi istrinya makan.
"Mas belum makan juga khan? makanlah mas! Mas saja belum berganti pakaian"
"Aku akan ganti pakaian setelah menyuapimu sayang, makanlah yang banyak" Randy terus saja menyuapi istrinya
Randy melihat wajah istrinya penuh dengan pertanyaan, namun dia hanya diam. Randy sangat mengerti istrinya pasti salah paham dan ada banyak kesedihan yang di tahannya
"Kalau sudah keluar dari rumah sakit, kita temui pak Doni dan juga Reno. mereka tau jawaban dari pertanyaan di hatimu saat ini sayang" Randy mengusap pipi lembut Naya.
"Tapi kamu tidak...." Naya menatap suaminya lekat
"Tidak..saat itu aku hanya pusing dan tidur, aku tidak melakukan apapun..hanya kesalah pahaman itu saja" Randy pun menatap mata Naya..mengungkapkan tidak ada kebohongan sedikit pun. "Aku sudah janji, kamu satu satunya wanita yang aku titipi anak anakku kelak" Randy berdiri mengusap punggung Naya dan memelunya
"Wajahmu yang sedih itu menyayat hatiku sayang, aku minta maaf ya" Randy berucap tulus.
.
__ADS_1
.