
Dokter sudah memeriksa kondisi Velly, sekarang sudah pembukaan empat. Reno menggenggam erat tangan istrinya. Naya dan Randy ada di ruangan itu ikut menemani Velly. Reno begitu panik hingga wajahnya menjadi pucat.
"Pantas abang sangat gelisah. ternyata jika menghadapinya sendiri seperti ini rasanya" gumam Reno.
Randy menepuk bahu Reno, ia sangat mengerti rasanya. Velly menggelinjang menahan sakit. hanya rintihan yang terdengar. Mama dan papa Randy datang menemani putrinya yang akan berjuang melahirkan buah hatinya.
Hampir tiga jam menunggu. Papa, Randy dan Naya memilih untuk keluar. Hanya Reno dan mama yang menemani Velly. Dokter memberi arahan untuk Velly mengejan. Velly meremas tangan Reno sekuatnya. Reno hanya bisa menahan sakitnya tanpa bicara karena dia tau Velly juga pasti sangat sakit saat ini.
"Ini gara gara kamu mas! sakit sekali" entah Velly sadar atau tidak saat mengatakannya.
"Iya sayang, maaf ya" Reno menjawabnya dengan menyesal
"Sudah Ren jangan di tanggapi" Mama menyemangati Reno
"Iya ma" Jawab Reno pelan.
Dokter mengarahkan lagi pada Velly untuk mengejan lebih kuat. Velly pun mengejan sekuat tenaga dan akhirnya....
-----
Reno keluar dengan keadaan mual dan wajahnya pucat. Darah sudah pasti familiar di lihatnya, tapi soal istrinya sungguh membuat nyalinya seakan hilang entah kemana
"Kamu kenapa disini Ren bukannya di dalam bersama Velly" Tanya Randy yang melihat Reno masih menahan mual
"Maaf bang, biar mama saja bersama Velly, aku nggak kuat bang"
Randy mengerti apa yang di rasakan adik iparnya dan membiarkannya menenangkan diri daripada Reno pingsan dan akan membuat pekerjaan lain untuk para perawat. Papa memberi Reno minum agar menantunya merasa lebih tenang.
__ADS_1
Seorang perawat keluar dengan membawa seorang bayi, bayi laki laki. Bayi itu di serahkan pada Reno. Betapa bahagia hatinya melihat bayi kecil yang sekarang ada dalam gendongannya. Reno segera mengadzani bayinya lalu di serahkan lagi kepada perawat yang tadi membawa putranya.
Naya, Randy, dan papa ikut bahagia melihatnya. Rasa haru ikut terasa saat Reno menangis bahagia. Hingga Reno merasa kuat..mereka semua masuk ke dalam kamar rawat Velly setelah dia di pindahkan dari ruang bersalin.
***
Reno memeluk dan mengecup kening Velly sebagai ungkapan terima kasih karena sudah melahirkan anak untuknya.
"Dari mana mas" Tanya Velly pada Reno, dia kesal karena Reno meninggalkannya saat bayinya sudah lahir.
"Maaf sayang, aku beneran nggak kuat lihat kamu melahirkan tadi" Sesal Reno, dia sungguh merasa bersalah sudah meninggalkan Velly bersama mama tadi.
"Sudah Vell jangan marah lagi. Yang penting Reno selalu ada saat kamu membutuhkan" Randy menenangkan adiknya.
"Ngomong ngomong..siapa namanya? apa sudah ada nama Ren?" tanya papa. Velly menoleh ke arah suaminya yang terus memegang tangannya.
"Hhmm..ok juga Ren" Papa mengangguk senyum
"Jangan bilang ya mas kalau kamu mengikuti mas Randy mencari nama tergantung momentnya" lirik Velly
"Yaa..itu, aku meniru bang Randy" Reno menggaruk kepalanya di iringi gelak tawa keluarga.
***
Yara yang lelah sudah tidur karena mereka pulang dini hari. Setelah membersihkan diri Randy dan Naya juga menyusul untuk tidur. Naya merasa sangat lelah hari ini. Randy memijat punggung Naya.
"Sini aku pijat, wajahmu lelah sekali"
__ADS_1
"Tidak usah, yang lelah itu kamu mas.. Yara saja ada padamu terus" Yara memang ada di gendongan Randy sejak tadi, bahkan Yara berjalan kesana kemari juga di temani Randy tapi entah kenapa badannya sungguh sangat lelah.
Randy terus memijat tubuh Naya hingga istrinya tertidur baru setelahnya Randy menyusulnya untuk tidur.
-----
Pukul setengah 5 pagi Naya sudah bangun dan melakukan aktifitasnya. Randy juga mulai bangun dan lanjut berolahraga karena mendengar Naya yang sibuk di dapur. Tidur yang sangat sebentar membuat Naya menjadi semakin lelah.
Makanan sudah tersaji di atas meja makan. Mereka pun makan bersama. Sesekali mereka berbincang dan ingin menjenguk Velly lagi sore nanti.
Selesai makan Naya sudah membereskan peralatan makannya sedangkan Randy diam diam merokok di belakang rumah. Naya mendekati Randy dan menegurnya.
"Mas kapan bisa berhenti merokok" tanya Naya mengejutkan Randy, seketika itu Randy membuang sisa rokoknya dan mengibaskan tangannya menghamburkan asap rokok agar cepat hilang
"Pelan pelan kuhilangkan sayang, tidak bisa secepat itu"
Naya mendekati Randy lalu memeluknya, tentu saja perlakuan Naya membuatnya sangat senang sebab jarang sekali istrinya itu bermanja manja padanya. Naya mencium aroma maskulin dari tubuh Randy membuatnya sangat nyaman, Naya mengeratkan pelukannya.
"Ada apa ini? Apa istriku ini sedang ingin kumanjakan di pagi buta?" Randy merasakan jantungnya berdesir. Suasana pagi yang dingin sepi membuat keduanya bisa saling merasakan debaran jantung dengan sangat jelas. Naya mengangguk, pipinya memerah, tangannya meremas ujung pakaian Randy.
"Beri aku umpan dulu sayang" Randy berbisik gemas di telinga Naya.
Sebenarnya Randy sudah sangat tidak tahan, tapi ia ingin sekali memancing istrinya karena Randy tau istrinya sangat pemalu. Naya menggelengkan kepala, wajahnya semakin merah lalu melepas pelukannya dan meninggalkan Randy yang masih berdiri melihatnya di belakang rumah. Naya menoleh sekilas pada Randy di depan pintu kamarnya. Naya menjentikan jarinya sambil mengedipkan mata.
"Aaahh.. shiitt.. umpan ringan yang menakutkan" Randy yang sudah semakin tidak tahan segera menyusul Naya masuk karena istrinya sudah meliarkan pikirannya pagi ini.
.
__ADS_1
.