
Zein merengek dengan menenteng seragam sekolah PAUDnya. Putra kecil Randy sejak pagi sekali sudah ingin berangkat ke sekolah padahal jam masih sangat pagi.
"Maa.. ayo berangkat" ajak Zein.
"Sayang, ini masih jam 5 pagi. Tidur lagi ya!!"
"Nggak mau ma, Aku mau sekolah" rengek Zein
"Adik mau sama siapa disana? belum ada orang" Randy baru selesai olahraga pagi.
"Aku mau main prosotan pa"
"Ya nanti lah, kalau sepagi ini mau main sama siapa? Burung hantu??" ucap Randy.
Zein bergidik ngeri saat papanya membahas burung hantu. Akhirnya Zein tidur lagi.
"Keras kepala sekali anakmu itu ma?" ucap Randy
"Siapa dulu papanya" balas Naya
"Tapi kamu suka khan sama si keras kepala ini" Randy memeluk Naya dari belakang. Randy membalikkan badan Naya agar menghadap padanya lalu mengecup bibirnya.
"Main kucing kucingan dengan anakku begitu mendebarkan sayang" ucap Randy menyusuri pinggang Naya sambil mematikan kompor yang berada di belakang Naya.
"Aku masih masak mas, nanti mas sarapan apa kalau semakin siang belum matang" cegah Naya.
"Sarapan kamu aja" Randy mengarahkan Naya bersandar di tembok samping pintu belakang rumahnya. Randy melepas kaosnya dan menaikkan sedikit baju Naya dan melepas pengait di dalam sana. Baru saja Randy merasakan desiran mengaliri darahnya membuatnya bernapas berat, Putri kecilnya Yara bangun dengan rambut acak acakan.
"Kenapa papa gigit mama???" Randy refleks secepat kilat menurunkan pakaian Naya. Di benahi juga bentuk celana pendeknya yang sudah tidak singkron dengan arah menghadap Naya.
"aahhmm.. deehh..( lirih suara Randy kesal ) Apa sich!!! Papa tiup mata mama tadi kena debu" bual Randy dengan kesal dan tanggung yang ditahannya.
Naya masih gugup di tempatnya menyapa putrinya.
"Yara kenapa sudah bangun?"
"Mau minum" jawab Yara.
__ADS_1
Naya mengambilkan putrinya minum, Setelah selesai Yara kembali masuk ke kamarnya dan tidur bersama Zein.
"Sudah mas, mandi sana" Naya mendekati Randy yang berwajah masam sambil mengusap wajah Randy lembut.
Tak ada jawaban dari suaminya, hanya meneguk teh saja yang dilakukannya.
"Jangan cemberut mas, nanti malam kita lanjut lagi" Randy baru tersenyum kecil mendengar bujukan istri tercintanya.
***
"Pa tunggu sebentar ya. temanku belum di jemput mamanya" pinta Zein pada Randy yang berdiri di samping mobilnya sambil menjawab pesan di ponselnya.
"Iya Zein" jawab Randy. Kacamata hitam yang di pakai Randy menambah ketampanan bapak dari dua anak itu.
Tak lama teman Zein itu menangis. Randy memasukkan ponsel ke saku celana lorengnya.
"Mamamu mana sayang, siapa namamu?" Randy menggendong teman perempuan Zein tersebut.
"Namaku Azizah, mama belum jemput" jawab Azizah terisak.
------
"Itu rumahku om, itu mama" tunjuk Azizah. Randy keluar dan membukakan pintu untuk Azizah.
"Terima kasih ya pak sudah mengantar Azizah" ucap mama Azizah. Begitu Randy melihat mama Azizah, betapa terkejutnya Randy. Ia melepas kacamata hitamnya.
"Bang Randy???"
"Fahira???" Randy tak kalah kagetnya.
"Ayo masuk dulu bang!" ajak Fahira.
"Terima kasih. Istri saya menunggu di rumah" tolak Randy. Fahira tersenyum kecut.
-------
"Darimana mas? kok lama?" tanya Naya
__ADS_1
"Oohh.. mengantar teman Zein pulang" jawab Randy tidak bersemangat. Naya mengangguk menyudahi percakapan.
***
Hari ini ada acara temu wali murid di sekolah Zein. Naya sudah berada di sekolah. Tak lama pandangan mata Naya terkejut melihat sosok yang di kenalnya. Dia "Fahira".
Tak ada percakapan dan tegur sapa antara keduanya hingga acara temu wali murid selesai.
Randy menjemput Naya dan kedua anaknya di sekolah. Naya sudah keluar dari pintu ruang kelas, tapi wajahnya sedikit murung. Naya, Yara dan Zein mendekati Randy untuk segera pulang.
Tak lama ada suara menyapa membuat hati Naya begitu sakit.
"Abang mau langsung pulang? Tidak ke rumah Fahira lagi"
Seketika Naya menatap wajah Randy menuntut jawaban. Randy terlihat terkejut mendengat Fahira berkata seperti itu.
"Om main ke rumah Azizah lagi yuk" Ucapan Azizah menambah senyum kemenangan pada wajah Fahira.
"Om masih sibuk sayang" jawab Randy tersenyum pada Azizah.
"Jadi kalau tidak sibuk, mas akan menemuinya??" Sinis Naya.
"Tentu saja, tanyakan pada bang Randy yang kerumahku untuk mengantar anakku" ucapan Fahira membuat Naya sesak.
"Jangan membuat Fitnah Fa, aku tidak tau kamu ibu dari Azizah. Aku mengantar anakmu karena orang tuanya belum menjemputnya" Randy bernada tajam.
"Alasan.. kenapa abang tidak mau mengakui kalau abang mencariku juga anakku" ucap Fahira penuh percaya diri.
"Nggak usah ngarang kamu" tatapan tajam Randy menusuk perasaan Fahira yang tertolak.
"Kita bertemu lagi pasti karena jodoh bang" lirih Fahira.
"Hanya kenyataan yang menyakitkan untukku" tegas Randy lalu mengajak Naya pulang bersama Yara dan Zein.
.
.
__ADS_1