Prajurit Pilihanmu

Prajurit Pilihanmu
57. Rindu Yara


__ADS_3

Randy melangkah cepat masuk ke dalam rumah. Suara gemericik air terdengar saat Randy membuka pintu rumah. Kondisi Naya semakin hari semakin melemah, berbeda dengan saat hamil Yara dan si baby. Hyperemesis Naya tidak terkendali. Naya tidak bisa makan berhari hari bahkan minum saja muntah. Kehamilan Naya kali ini seakan menggoda papanya mengingat Randy selalu khawatir akan kehamilan Naya.


"Kita ke rumah sakit sekarang!" Randy memijat tengkuk istrinya yang sudah tidak bisa memuntahkan apapun lagi.


"Aku tidak suka bau rumah sakit mas" jawab Naya lirih


"Kamu sudah tidak punya tenaga lagi, anak kita butuh nutrisi" Randy menyandarkan Naya pada bahunya. Randy sudah merasakan Naya yang sudah tidak seimbang untuk berdiri.


"Kalau aku di rawat kasihan Yara mas" Randy mengangkat tubuh Naya yang terasa lebih ringan dari biasanya.


"Kita akan menerima setiap akibat yang kita perbuat. Sekarang kamu hamil anakku, dan keadaanmu seperti ini. Yara aman bersama ayah bundanya. juga oma opanya yang sayang padanya akan menjaganya. Sekarang cepat pulihkan kondisimu agar kita bisa leluasa bersama Yara setiap hari"


Naya menitikan air mata. dia tidak menyangka kehamilannya kali ini lebih parah dari kehamilan Yara dulu. Hatinya rindu pada putri kecilnya Yara.


Randy seakan tau perasaan istrinya. walaupun setiap saat bisa melihat Yara, tapi tidak bisa menggendongnya sangat membuat hati Naya menjadi sedih.


"Semua sudah terjadi, ini adalah keputusan kita.. jadi kita harus terima resikonya. tak ada yang tau ternyata kondisimu seperti ini. Anak kita ingin nyaman disini, jantungnya sudah berdetak.. apa kamu tega membiarkan anak kita lemah karena mamanya tidak mau makan" Randy membujuk mengusap perut datar istrinya dengan lembut.


"Aku mau makan mas" Naya mencoba menuruti Randy untuk mau makan. Randy pun tersenyum dan mengambilkan Naya makan


-----


Walaupun mual Naya tetap menelan makanannya dengan susah payah. Hanya dua suap saja yang bisa masuk. Randy juga memberinya susu ibu hamil.


Setelah makan Naya bisa tidur walau hanya sebentar. Randy menyandarkan punggungnya pada tempat tidur sambil mengusap wajah istrinya.


Aku sudah penuhi janjiku untuk membuatmu hamil lagi. Tapi kita harus berjuang dalam kondisimu seperti ini. Yara akan baik baik saja walaupun bukan tanganmu yang merawatnya secara langsung. Semoga kamu dan anakku selalu sehat sampai waktunya nanti. Aku tidak tahan melihatmu menderita sayang.


***


"Mama tiduull?" tanya si kecil Yara dengan bahasanya yang belum jelas


"Iya sayang, mama hanya lelah saja, karena Yara mau punya adik!" Randy menjelaskan pada putrinya

__ADS_1


"Dedek?" tanya Yara lagi


"Iya sayang, Yara mau?"


Yara hanya mengangguk. Randy tersenyum melihat Yara yang bahagia.


"Ayo Yara ikut ayah, bunda akan marah sama ayah kalau Yara terlambat makan" Reno mengajak keponakannya untuk makan dan tidur siang


Reno juga sangat menyayangi Yara. Randy sangat bersyukur Yara sangat bahagia.


***


Naya berlari ke kamar mandi. Mual membuat pandangannya kabur. Naya tidak memperhatikan jalan dan terpeleset, kepalanya terbentur sisi meja makan, darah mengalir dari pelipisnya.


-----


Randy turun dari piket jaga hari ini. Bolak balik ia memperhatikan jam tangannya, perasaannya begitu tidak enak. Naya tidak mengangkat ponselnya juga.


Kemana kamu sayang, perasaanku kok tidak enak ya


***


Saat di dapur istrinya sudah terbaring dengan darah di pelipisnya .


"Astagfirullah... kenapa kamu tidak hati hati sayang" Randy mengangkat Naya dan melangkah menuju mobilnya. Reno melihat dari kejauhan segera berlari membuang rokok yang di hisapnya melupakan dirinya yang hanya menggunakan celana kolor dan kaos lorengnya.


"Aduuhh.. Naya kenapa bang, banyak darah begitu"


"Nggak tau Ren, cepat bantu aku" Randy panik sambil membangunkan Naya.


Reno sesekali melirik ke arah belakang melihat wajah Randy yang sekarang pucat karena cemas.


"Ayo Ren, cepat"

__ADS_1


"Sabar bang, aku jadi panik nih melihat abang" seru Reno yang memperhatikan jalan.


Tak butuh waktu lama mereka tiba di Rumah sakit tentara, karena itu rumah sakit terdekat dari tempat mereka.


***


"Janinnya masih stabil pak, hanya ibunya yang kurang asupan gizi.. kalau lebih lama lagi tadi akan mempengaruhi janinnya" Dokter menjelaskan sambil memantau dari alat USG.


"Sudah 10 minggu ya pak!" dokter menunjuk gambar calon anak Randy yang mulai bergerak kecil.


"Sudah 10 minggu dok?? cepat sekali" Randy heran sampai melotot mendengar penjelasan dokter karena ia mengira kemungkinan usia calon anaknya baru sekitar 3 minggu.


"Abang aahh.. abang keseringan bikin sampai nggak tau kapan bikinnya" Reno tertawa geli melihat ekspresi Randy.


"Ehm..iya dok" Randy kembali ke gayanya yang sok cool padahal dia sendiri masih terkejut


"Dok.. saya pernah periksakan istri saya, diagnosanya hanya lelah dan vertigo. sudah banyak obat yang di minum.apakah itu berbahaya? ingatan Randy kembali pada obat yang selama ini di minum istrinya.


"Hentikan saja ya pak, akan saya ganti dengan obat khusus ibu hamil" resep pengganti di serahkan dokter pada Randy.


"Sementara biar di rawat inap dulu pak, agar psikis dan fisik istri bapak pulih dulu, riwayat asma ibu Naya juga berat. pak Randy pasti tau khan dari riwayat kehamilan sebelumnya?"


"Iya dok, saya paham. lakukan saja" pikiran Randy kalut. Anak dalam kandungan Naya sangat sehat, hanya Naya yang tidak kuat. Bagaimana nanti menghadapi kelahiran anaknya. Randy menatap Naya yang akan di pindahkan ke kamar rawat.


Reno paham sekali kegelisahan Randy.


"Aku harus mendinginkan kepalaku Ren, bagaimanapun Naya menyandarkan hidupnya padaku, kalau aku selemah ini.. bagaimana nasib mereka" Randy tertunduk lesu, tapi pandangannya langsung beralih menatap Reno dari atas sampai bawah.


"Tampaknya badanmu dingin lebih dulu Ren"


Reno pun melihat penampilannya sendiri. setelah menyadarinya ia menepuk dahinya dengan kuat


"Astaga bang, aku lupa"

__ADS_1


.


.


__ADS_2