
Bell sekolah berbunyi. Ini adalah hari terakhir Zein mengikuti ujian nasional. Zein menatap pemandangan dari luar pintu kelasnya. Kedua tangannya bersandar pada pagar beton setinggi pinggang di lantai atas kelasnya.
Aku yakin ujian ini telah aku selesaikan dengan baik. Aku akan penuhi janjiku pada pada dan akan kutunjukan pada mama kalau aku tidak pernah mengecewakan mama. Untuk kamu Mutia.. aku akan menghidupimu dengan layak, dengan hasil keringatku yang halal.
----------
Zein berhenti di sebuah gedung dan masuk ke dalamnya.
"Ijin pak, saya mau mengikuti seleksi jadi tentara" tegas Zein. Seisi gedung melihat ke arah Zein. Mereka tau betul yang berada di antara mereka adalah putra dari Randy Prawira.
"Besar juga nyalimu!" seringai seorang anggota menggoda Zein.
"Kuat push up nggak??" ejek seorang lainnya.
"Siap..kuat" jawab Zein tegas
"Laksanakan 20 kali" perintah seseorang yang jelas sekali di kenal oleh Zein suara tersebut.
"Siap laksanakan" Tanpa pikir panjang Zein melaksanakan perintah tersebut.
***
"Kamu mau daftar tentara nak???" Naya terkejut saat Zein meminta ijinnya. Zein berlutut di hadapan Naya memegang lutut mamanya meminta restu.
"Iya ma, doakan aku ya ma" pinta Zein.
"Nggak Zein, tentara itu tidak semudah yang kamu bayangkan. Kamu akan sering meninggalkan keluargamu, bersakit sakit dalam pekerjaan. Gaji tidak seberapa dan nyawa taruhannya" Naya menangis menyingkirkan tangan Zein. Randy bersandar pada gawang pintu menyaksikan kesungguhan putranya.
"Aku tau ma, aku paham. Mama jangan cemaskan aku. Sakit itu hanya sebentar ma yang penting nantinya yang aku dapatkan adalah rejeki yang halal. Aku laki laki ma, aku harus memikirkan masa depanku" mendengar itu Naya menangis terharu, kini sudah dirasakannya anaknya tumbuh dewasa.
"Mas, bisakah mas membujuk anakmu ini agar tidak memilih jalan sepertimu?" Naya menggapai tangan Randy masih tak ikhlas kalau Zein mengikuti jejak papanya. Randy duduk di samping Naya dan membujuknya.
"Apa yang salah dari permintaan anakmu? Itu sudah tugasnya memikirkan masa depannya. Yang perlu kamu lakukan hanya ikhlas dan doakan anakmu agar sukses dan membanggakanmu di kemudian hari. Kelak dia akan punya keluarga yang harus di hidupi. Apapun pekerjaan anakmu, asal halal..restuilah sayang!!!"
__ADS_1
Naya diam dan berpikir sejenak menatap wajah putranya. Masih jelas dalam ingatannya saat masa mengandung Zein hingga melahirkannya dengan penuh suka duka.
Naya memeluk Zein dengan hati bercampur baur.
"Mama restui kamu nak. Berjanjilah selalu sehat dan jaga dirimu dalam pendidikan. Mama bahagia jika kamu bahagia" air mata Naya mengalir deras membasahi pipi.
Zein memeluk kedua kaki mamanya.
"Aku akan membuat papa dan mama bangga, terutama mama. Maafkan aku ma yang selalu membuat mama sedih, aku akan mengikuti pendidikan dengan benar agar mama tau tidak hanya papa pria sejati dalam hidup mama" ucap Zein serak menahan tangisnya.
"Iya sayang" Naya mengusap punggung Zein menenangkan hati putranya.
"Pria sejati tidak ingusan di hadapan wanita Zein" Randy menghilangkan rasa harunya sendiri. Sungguh hatinya tidak tega Zein akan menempuh pendidikan. Bagaimanapun Randy sangat memahami sakit dan sulitnya pendidikan militer.
"Ma, aku titip Mutia" Zein menggenggam tangan Naya.
"Siapa Mutia?" tanya Naya heran.
"Calon menantu mama" jawab Zein santai.
"Makanya aku berusaha keras ma, karena ada wanita yang aku jaga disana. Titip semua yang dia perlukan ma. Aku akan menggantinya suatu saat nanti, aku akan sangat berterima kasih kalau mama mau menjaganya untukku" Zein mengeratkan tangannya meyakinkan Naya. Naya menatap Randy meminta persetujuan dan Randy meluluskan permintaan putranya.
"Baiklah nak. Mama akan menjaganya untukmu" Naya tersenyum membuat semangat baru untuk Zein.
***
Zein membawa berkas untuk persyaratan pendaftarannya. Satu persatu seleksi Zein hadapi dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab. Candaan menggoda dari rekan Randy tidak menyurutkan semangat dan mental Zein.
Tanpa sepengetahuan Zein. Randy selalu mengawasi perkembangan test tersebut. Rasa bangga memenuhi hati Randy. Putranya yang dulu selalu ia gendong kemana pun, sekarang akan mengikuti jejaknya.
"Aku akan mengalaminya nanti. Vernan ingin mengikuti jejakku bang" Reno mengagetkan Randy. Tampak Randy menghapus air matanya.
"Sekarang pikiran kita hanya tinggal menunggu jodoh Yara dan Vallery. Mudah mudahan jodoh mereka sayang padanya" ucap Reno.
__ADS_1
"Aamiin Ren" Randy tertunduk sendu.
Tiba tiba Randy bersandar pada tembok merasakan sakit kepala. Reno mengawasi tiap gerak gerik Randy.
"Abang sering sekali seperti ini. kita ke kesehatan aja bang" usul Reno.
"Bukan hal besar Ren. Aku baik baik saja" tolak Randy.
"Umur kita tidak muda lagi. Menjaga stamina itu penting bang. Keluarga kita masih sangat membutuhkan kita!" Randy terdiam sejenak dan membenarkan ucapan Reno.
"Ayo kita ke kesehatan!" Randy berjalan lebih dulu kemudian diikuti oleh Reno.
--------
"Pak Randy ada tekanan darah tinggi" Dokter menjelaskan keadaan Randy.
"Kok bisa dok??" Randy tidak percaya penyakit itu bisa menyerangnya.
"Makanya pak Randy jangan memikirkan hal yang berat, yang ringan saja" nada ucap Dokter perempuan itu sedikit berbeda. Yaa.. walau bagaimanapun Randy masih nampak kegagahannya walaupun sudah di anggap berumur.
"Terima kasih banyak penjelasannya, saya paham dok" jawab Randy tersenyum sekenanya.
--------
"Bagaimana bang?" tanya Reno sambil melirik dokter yang tersenyum aneh melihat Randy keluar dari ruangannya.
"Darah tinggi Ren" ucap Randy datar
"Apapun yang berhubungan denganmu pasti ketinggian jadinya bang" Reno memberi kode mata menunjuk dokter di dalam ruangan.
"Aku tidak mau yang tinggi lagi. Kalau Naya sampai menarikku, bisa jatuh terjungkal sampai lembah aku nanti" Randy membuang napasnya dengan kasar.
.
__ADS_1
.