
"Kenapa mas? Agar kamu bisa bermesraan sama perempuan ini? Karena anak ini membebanimu??" Naya menangis melihat tangan Randy masih di genggam Dinar, Perutnya terasa kram.
"Bukan dek, bukan begitu" Randy sedih mendengar perkataan Naya sambil melepas tangan Dinar saat sadar Dinar semakin mengeratkan genggamannya.
Naya berlari memegang perutnya. Langkah Naya terhenti saat napasnya juga mulai tersendat. Randy melepas tangan Dinar dengan kasar dan segera mengejar Naya yang tidak berlari kencang.
"Dek..kenapa? apa yang sakit bilang padaku" Randy mendekap tubuh Naya yang merosot terduduk di pinggir jalan raya. Naya terus saja memegang perutnya dan meronta ronta tidak mau di tolong oleh Randy.
Tak lama Reno datang dengan berlari dan mendapati Naya duduk dengan menangis dengan Randy yang mendekapnya. Hal itu membuatnya cemas
"Ada apa bang, Kamu kenapa dek?"
"Mas, bawa aku dari sini.. bantu aku berdiri mas!" pinta Naya pada Reno. Gurat kecewa nampak dari wajah Randy karena istrinya lebih memilih Reno untuk menolongnya, tapi saat ini yang terpenting adalah keselamatan istri dan anaknya. Randy tidak ingin membuat istrinya lebih stres jika mereka berdebat.
"Ren..tolang bawa istriku dengan mobilku ke bukit, aku menyusul kalian dengan truk karena aku masih harus mengawal warga" pinta Randy pada Reno. Reno mngangguk sambil menerima kunci.
"Tolong jaga istriku sepanjang perjalanan" Randy menghentikan tangan Reno yang hendak membuka pintu mobilnya, tatapan nanar Randy pada Reno sudah menjelaskan bagaimana cemasnya pria itu terhadap istrinya
---
"Dek..kalau kamu berpikir suamimu mengkhianatimu, aku rasa tidak mungkin. sebagai seorang pria aku bisa merasakannya"
"Dinar memeluknya dan mas Randy menerimanya, Dinar memegang tangannya, mas Randy juga diam saja, bahkan dia tidak menjawab pertanyaanku dan memilih mengantar Dinar ke bukit" Naya meluapkan kemarahannya hingga mulai dadanya sangat sakit
"Tarik napas dulu dek, pelan - pelan lalu hembuskan!
__ADS_1
Dengar dek..suamimu sangat sayang padamu. Disaat seperti ini kami sedang mengalami pergolakan batin, dimana anak istri di rumah menjadi taruhannya tapi menyelamatkan warga adalah kewajiban..kami berpacu dengan waktu. itu janji kami pada negara...
Soal Dinar aku sudah sedikit banyak mendengarnya..tidak mungkin abang memulainya
Abang memilih naik truk itu karena mengawal warga, banyak warga di dalam truk itu dan bukan hanya Dinar. Kamu salah mengatakan kalau abang memilih Dinar"
Tanpa sadar tangan Reno mengusap rambut Naya
----
"Istriku..apa baik baik saja kamu saat ini..aku harap kamu dan anakku kuat bertahan sampai saatnya nanti" Randy berdiri berpegangan pada besi di sisi luar truk.
"Abang..duduk disini donk sama Dinar" Dinar memilih duduk pada bangku truk agar bisa dekat dengan Randy dan Dinar mengusap pinggang Randy. Randy tak menjawab apapun dan hanya menatap sisi luar. Pikirannya hanya penuh dengan Dinar dan anak yang ada dalam kandungannya.
Malam semakin larut.. Dinar menyandarkan kepalanya pada pinggang Randy bahkan dia memeluk paha Randy yang sedang berdiri. Randy melepaskannya berkali kali tapi Dinar kembali lagi. Randy tau Dinar sengaja melakukan itu apalagi Dinar sadar tak mungkin Randy akan membentaknya di saat darurat seperti ini. Dinar sudar tertidur, Randy kembali melepaskan tangan Dinar dari pahanya dan menyandarkan kepalanya pada sisi dalam truk dan beralih berdiri di sebelah rekannya. Dinar sangat kesal saat ia merasakan Randy melepaskan tangannya.
Para warga dan masyarakat sudah memasuki tenda masing masing. Mobil Reno dan Truk Randy baru saja tiba. Randy segera menghampiri mobilnya dengan berlari untuk melihat keadaan Naya. Randy sudah pamit pada rekannya. Mereka tau pasti istri Randy juga sangat membutuhkannya saat ini.
"Dek..bagaimana kondisimu sayang" tanya Randy cemas saat melihat Naya meringis kesakitan sambil memegang perutnya
"Maaf mas, aku tidak mau merepotkanmu, aku dan anakku bisa berjuang sendiri" Naya berjalan tertatih melangkah menuju tenda darurat yang sudah berdiri.
"Lalu siapa yang mau kamu repotkan? Reno?? Siapa suamimu sekarang.. Reno atau aku??" Randy kesal dan meninggikan suaranya
"Lhoooo.. abang khan sedang bertugas disana, kenapa malah disini. Istri abang khan sudah ada yang urus! "Dinar datang dengan memegang lengan Randy
__ADS_1
"Cukup Dinar.. pergilah dari hadapanku, kamu jangan melewati batasmu. Aku sudah menikah..aku harus menjaga istriku, berhentilah mengikutiku seperti ini" bentak Randy yang sudah tidak tahan pada sikap Dinar. Wanita itu menghentakkan kakinya dan berlari dengan menangis
Naya sangat terbakar cemburu melihat hal itu. Seketika ia merasakan ada sesuatu yang mengalir kecil dari bawah perutnya. Randy menoleh dan mengambil alih istrinya dari Reno. Naya masih tetap menolak Randy, ia terus menepis tangan Randy yang ingin membantunya.
"Naya..hentikan kelakuanmu ini. kamu bisa marah padaku nanti. Sekarang kamu pilih..kita berdebat disini atau menyelamatkan anak kita?" Randy terpaksa membentak Naya, suara Randy yang tegas membuat Naya sedikit mengurangi tenaganya dengan terisak di pelukan suaminya
"Katakan padaku, apa sekarang sangat sakit?" Randy melembutkan suaranya, mengusap punggung Naya.
"Sakit sekali mas, sangat sakit" Naya meremas baju Randy sangat kuat. Randy menggendong istrinya ke tenda perawatan, ia merasakan ada yang basah di kaki dan rok Naya. Randy meminta petugas mengosongkan salah satu tenda yang baru saja berdiri.
Di luar sesekali terasa ada gempa..terdengar suara gemuruh ombak laut. Angin berhembus sedikit menggoyangkan tenda mereka diiringi gerimis yang menambah dinginnya suasana menjelang pagi.
Naya gelisah memiringkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan secara bergantian. perutnya sudah sangat mulas dan wajahnya teramat pucat. Randy berunding dengan team medis mencari solusi terbaik untuk istrinya
"Kalau kita merujuk istrimu ke rumah sakit kota akan membutuhkan waktu yang lama, alat medis yang kita punya hanya itu, akses jalan ke bawah sedang di tutup dan saat ini kita kehilangan sinyal" Rekan Randy menunjukan beberapa box alat medis yang dibawa dari rumah sakit. Randy menghembuskan nafas kasar
"Apa tidak ada warga yang berprofesi bidan yang ikut dalam rombongan kita?"
"Sayangnya tidak ada Ran, kami sudah bertanya tadi" Rekan Randy sedikit melamun sambil berpikir.
Randy menatap wajah istrinya dengan tidak tega hatinya seperti tersayat melihat Naya yang kesakitan, andai saja rasa sakit itu bisa berpindah padanya seperti saat mengidam dulu, ia rela walaupun harus nyawa taruhannya. Air matanya menetes sambil mengusap peluh istrinya. Sungguh pengorbanan seorang Naya untuk melahirkan anak darinya.
"Maaass..rasanya sakit sekali, aku nggak kuat menahannya mas" Naya terus saja merintih kesakitan. Randy menggenggam tangan Naya untuk menguatkannya
"Haruskah kamu melahirkan anak kita saat ini sayang? Di tenda?" Randy tertunduk menangis pilu.
__ADS_1
.
.