
Setelah kejadian malam itu Naya tidak pernah membahas soal anak lagi. Semua berjalan seperti biasanya.
"Bagaimana abang dengan Naya sekarang?" Reno bertanya karena Randy sempat menceritakan masalah kakak iparnya itu padanya
"Hanya sedikit canggung saja, tapi semua baik baik saja" jawab Randy sambil menyeruput kopinya di kantin kantor.
"Apa abang masih tetap minta jatah" Entah kenapa pikiran Reno jadi berpikir jauh kesana.
"Aku tidak akan melewatkan yang satu itu" Randy sedikit berbisik pada Reno. Mereka berdua pun tertawa renyah tanpa peduli orang di sekitarnya.
"Mana mungkin aku tidak menyentuh istriku, bagaimanapun juga sudah kewajibanku memberi nafkah batin untuk istriku..lagipula tidak ada suami yang tidak ingin merengkuh istrinya. aku mana bisa berlama lama menahannya. kau ini ada ada saja Ren" batin Randy dengan sedikit senyum yang ditahannya.
***
Pagi ini hari minggu yang sangat segar. Randy ingin mengajak Naya untuk pergi ke pantai bersama putrinya. ia ingin menghilangkan kecanggungan antara dirinya dengan Naya setelah kejadian itu.
"Apa hari ini anak papa mau jalan jalan?" Tanya Randy pada putri kecilnya yang bahkan belum bisa bicara "Tanya pada mama sayang, apa mama mau jalan jalan bersama kita"
Naya mendengar ucapan Randy yang sengaja mengajaknya melalui putrinya. Naya menyunggigkan senyum canggung "Iya papa"
Randy merasakan hatinya sejuk dan teduh mendengar Naya memanggilnya Papa. Bahagia karena keluarga itu terasa lengkap.
Naya segera menyiapkan kebutuhan Yara dan keluarga kecil itu pergi ke pantai yang tidak jauh dari rumah mereka.
***
Randy, Naya dan Yara bermain air di pinggir pantai dengan bahagianya. Si kecil Yara juga tertawa bahagia saat Randy menyentuhkan kaki Yara pada air laut di pinggir pantai. Cukup lama mereka bermain sampai panas mulai menyengat kulit.
__ADS_1
Randy mengajak Naya dan Yara duduk di gazebo cantik dan menikmati angin yang bertiup semilir. Naya membuat sebotol susu untuk Yara dan Randy memberi Yara sebotol susu buatan mamanya.
"Mas aku kesana membeli minuman dan makanan ya" tunjuk Naya pada lapak yang berjajar rapi tak jauh dari pantai
"Iya..mas menemani Yara disini" Jawab Randy
Naya berjalan ke arah pantai lalu membeli makanan dan minuman yang ada disana. Tak lama ada seorang pria menepuk bahu Naya, tampak mereka berbincang. Naya sesekali tersenyum pada pria itu. Randy melepas kacamata dan memperjelas pandangannya.
Tak lama Naya kembali membawa makanan dan minuman. Si kecil Yara juga sudah tertidur karena lelah.
"Siapa dek?" Tanya Randy yang penasaran
"Kakak kelasku mas, dulu dia sekelas dengan mas Reno. Namanya Feri. Dia bekerja di perusahaan RAVELL group induk" Penjelasan Naya membuat Randy mengeryitkan dahi.
"Perusahaan papa? dia kaeyawan kantor papa?" Tanya Naya memperjelas.
-----
"Naya..ini suami kamu?" tanya Feri sambil menyalami Randy.
Naya mengangguk. Feri melihat Randy dari atas sampai bawah membuat Randy jengah melihatnya. Feri terus berbicara pada Naya dengan tatapan genit memperhatikan tubuh Naya seolah menganggap Randy tidak ada. Naya tau suaminya mulai tidak senang
"Apa kita pulang sekarang mas? Yara bisa istirahat dengan nyenyak di rumah" Ajak Naya menyudahi acaranya hari ini
"Ayolah Nay..jangan terburu begitu..kita khan jarang bertemu. atau aku ajak kalian jalan dulu? Aku bekerja di perusahaan elit sekarang, aku mapan" Feri sesumbar dengan sombongnya di hadapan Randy
"Apa maksudmu?" Hati Randy memanas karena diremehkan di depan istrinya
__ADS_1
"Tidak ada maksud apapun, aku hanya ingin mengajak istrimu ini ke kota, naik mobilku dan membelikannya barang yang di inginkan. anggap saja ini hadiah pertemuanku dengannya..aku dulu sempat sangat menyukainya...yaaa.. tapi nasibnya sekarang begitu buruk. menikah dengan tentara.. apa dia akan bahagia?"
"Mungkin gaji kami tidak berharga di matamu, tapi kami mendapatkannya dengan tulus dan ikhlas..kami mengabdi bukan untuk di sombongkan.. tapi yang kami dapatkan dari negara adalah salah satunya hasil dari menjaga tidurmu agar mimpimu indah" Randy mengajak anak dan istrinya untuk pulang..menaiki mobilnya. Mata Feri menatap bengong kepergian mereka.
"Kamu pasti akan suka padaku Nay..gajiku tinggi" lirih Feri dengan sombong
***
"Sombong sekali, membuatku muak" Randy memukul setir mobilnya hingga membuat Naya kaget. "Begitu bahagianya kamu hingga tidak menatap suamimu yang sudah kesal disana?" bentak Randy
"Maaf mas, aku sungguh tidak tau kalau dia bisa bicara seperti itu" Naya membela diri
"Ingin kucolok matanya yang menatapmu penuh pikiran kotor, ingin kuhantam mulutnya yang sombong itu" Randy geram mengepalkan tangan. Suaranya yang keras penuh kemarahan membuat Yara menangis sepanjang jalan.
Naya membujuk putrinya yang menangis, Yara juga seakan tau bahwa mamanya juga ketakutan mendengar amarah papanya. Randy menepikan mobilnya lalu menyandarkan kepalanya pada jok mobil, mengatur napasnya agar marahnya mereda. Randy memejamkan matanya, tangan kanannya mengepal menyangga kepalanya yang disandarkan pada sisi pintu
"Mas.." Naya mengusap dada Randy mencoba meredakan amarahnya.
"Aku menyadari siapa aku, yang membawamu masuk dalam kehidupanku" Randy memegang tangan Naya dan menggenggamnya.
Randy membuka matanya lalu melajukan mobilnya lagi hingga sampai kerumah. Naya sudah menidurkan Yara. Putri cantik gembul itu sangat manis dalam tidurnya.
Randy masih terdiam. Dia memilih mandi untuk mendinginkan kepala dan hatinya yang terasa panas
.
.
__ADS_1