
Randy mengusap kening Naya yang tertidur pulas, setelah mendapat cairan infus mualnya berkurang drastis.. Naya bisa tidur nyenyak dan wajahnya sudah tidak pucat.
Ponsel Randy berdering. Randy membaca pesan group wa batalyon. Ada kerusuhan di pulau A.
deeeegg
Perasaanku tidak enak. Jangan sampai ada pertikaian apapun. Saat ini tidak mungkin aku meninggalkan anak istriku
Randy menyimpan lagi ponsel dalam sakunya. Seorang perawat masuk dan mengontrol keadaan Naya.
"Bu Naya sudah jauh lebih baik pak, sudah lewat tengah malam bapak juga sebaiknya jaga kondisi" Perawat mengingatkan Randy agar tak lupa menjaga kesehatannya.
Perawat jaga yang tadi memeriksa kondisi Naya berbisik tentang sosok Randy yang manis dan tampan, pria yang sangat menyayangi istrinya. Suami yang sangat cemas pada istrinya mulai dari Naya tiba hingga saat ini.
***
"Makan dulu sayang" Randy menyuapi istrinya dengan telaten sampai makanan di piring Naya habis tak bersisa.
Reno dan Velly baru datang kesana juga.
"Mbak Naya apa sudah enakan?" tanya Velly dengan khawatir. dia membawa bayinya dalam gendongan hangat sedangkan Yara di gendong oleh Reno.
"Sudah beib, kenapa kesini. kasihan anakmu" kata Naya
"Gapapa Nay, Ini Yara kangen sama mamanya, dia juga mencari papanya sejak tadi" Yara sudah turun dari gendongan Reno dan berlari ke Randy
"Mama sakit? Dedek?" pertanyaan polos Yara pada Randy
"Adik Yara masih di perut mama, sabar ya..kalau sudah waktunya nanti Yara pasti bertemu adik" Randy menjelaskan pada putri kecilnya
Reno mengisyaratkan mata untuk bicara penting berdua dengan Randy. Randy pun keluar dengan menggendong Yara yang masih ingin bersama papanya
"Soal kerusuhan di pulau A, sepertinya kita akan di kirim berangkat kesana bang" Reno mengutarakan kecemasannya
"Aku juga berpikir begitu Ran, berapa orang yang akan di kirim?" Randy juga mulai cemas
__ADS_1
"2 kompi bang" Jawab Reno
"Bagaimana ini, Aku berat meninggalkan Naya dalam keadaan seperti ini. kita tunggu saja informasi selanjutnya" Randy membuang napas panjang.
***
Siang hari di hari ke tiga Naya sudah bisa pulang karena sudah sehat, tapi dokter menyarankan untuk kembali di rawat jika kondisi Naya kembali seperti ini
----
"Istirahatlah, kondisimu tidak seperti yang lainnya dek!" Randy menemani Naya sebelum mengambil Yara di rumah adiknya
"Iya mas, maaf ya" Randy hanya tersenyum, hatinya penuh dengan pikiran yang bersliweran.
----
"Beib..mana Yara?" Tanya Randy pada Velly yang tidak mendengar keributan Yara dan Reno seperti biasanya.
"Ada di kamar mas, tidur sama mas Reno dan Vernan.. lihat saja disana" Jawab Velly menunjuk kamarnya
"Biar saja Yara tidur mas, nanti mas Reno yang akan mengantarnya pulang" ucap Velly melihat wajah kakaknya penuh dengan tekanan.
"Ada apa mas, wajahmu kusut"
"Tidak ada, hanya kepikiran istriku saja" Velly menghampiri Randy. Velly memegang lengan Randy dan memeluk kakaknya yang sudah duduk di sofa ruang tamu
"Aku tidak pernah melihat kakakku selemah ini. Maaf ya mas aku menyakiti hati mbak Naya, aku tidak akan mengulang hal bodoh dan mendengarkan gosip apapun lagi"
"Aku hanya merasa tidak punya daya apapun saat melihat Naya seperti ini. Aku juga mengkhawatirkan anak anakku beib" Randy menyandarkan punggungnya. Velly melepaskan pelukannya dan bergegas ke dapur membuatkan teh untuk Randy. Velly melihat mata kakaknya sangat merah.
"Mau bagaimana lagi dek, kita harus hadapi ini" batin Randy berusaha melegakan hatinya sendiri.
Velly sangat paham sekali perasaan kakaknya sangat gelisah memikirkan kehamilan Naya. Tapi ia juga tau kakaknya itu sangat menyayangi Naya melebihi apapun tidak bisa di bandingkan saat masih berpacaran dengan Alana dulu.
----
__ADS_1
Reno terbangun dan perlahan turun dari kasur dan mencari istrinya. di lihatnya Velly sedang mengaduk dua cangkir teh tapi Reno tidak menggubris untuk siapa teh itu.
"Kenapa kamu sibuk saja dari tadi?" Reno memeluk Velly dan mencium pipinya.
"Maass.. nanti lah.. jangan di sini!" tolak Velly yang melepaskan diri dari pelukan Reno
"Oohh..jadi maunya di mana? di kamar ada anak anak sayang.. aku rindu kamu" Reno mulai sedikit memaksa memeluk Velly lagi karena istrinya sudah selesai masa nifas dan ia sangat kelabakan pada dirinya sendiri setelah berpuasa beberapa waktu.
"Maass..iihh..nanti dulu donk" Velly melepaskan tangan Reno dan berbalik mendorong pelan dada Reno. Reno tidak peduli dan kembali mencium gemas tubuh istrinya.
Randy mendengar pembicaraan adiknya karena jarak ruang tamu dan dapur tidak begitu jauh. Kesedihannya berubah menjadi rasa geli.. Reno tak ada bedanya seperti dirinya, ia beranjak dari sofa dan menuju ke dapur
"Jangan sampai kelakuanku yang bodoh harus kamu ulang disini Ren. Pakai pengaman.." Randy menggelengkan kepala melihat Reno yang sedang memaksa Velly.
"Eehh..iya bang" Reno menoleh ke arah kakak iparnya dengan senyum menyadari karena kebodohannya.
Reno mengusap wajahnya
"Astahfirullah bang.. hampir lupa" Reno berjalan ke arah Randy
"Sabar sedikit.." Randy menertawakan adik iparnya itu.
***
"Situasi aman dan kondusif. kita berjaga saja" Komandan memberi pengarahan
"Siap.." jawab anggota dengan serempak
"Kita hanya akan mengawal mahasiswa saja dalam acara diklat bela negara" lanjut Komandan
"Aseeeeemmm.." Gumam Randy yang di iringi tawa Reno yang menunduk di sebelahnya.
.
.
__ADS_1