
Naya yang baru mengangkat dress hingga ke pinggang terkejut dan keluar dari dalam kamar, Naya melihat Randy sedang menghajar Feri hingga wajahnya berdarah. Naya menarik lengan suaminya. Naya takut suaminya akan terkena masalah di Batalyon.
Keributan itu membuat Yara menangis kencang, Bang indro yang mendengar keributan langsung masuk mengambil Yara dan membawanya keluar.
"Apa kamu membelanya? kamu mengundangnya karena tau aku hari ini tidak di rumah?" bentak Randy sambil mengibaskan dengan keras tangan Naya yang menariknya.
"Nggak mas, sumpah aku nggak tau darimana mas Feri tau rumah ini" Naya menangis berusaha meraih tangan Randy yang sedang mencengkeram kuat kerah baju Feri
"Kenapa dia bisa sampai di depan kamar kita? pakaianmu ini sangat tidak pantas untuk di lihat pria lain Nay" Randy menatap tajam mata istrinya
"Tentu saja dia menyambutku, aku khan sudah mengabarinya kemarin" Feri menyambar ucapan Randy
"Apa benar kata katanya Nay?" Randy melonggarkan cengkeramannya sambil menarik Feri untuk berdiri menunggu jawaban istrinya
"Jawab" bentak Randy tegas. Naya mengangguk menangis karena takut, Naya memeluk Randy dari belakang
"Maaf mas, aku tidak berani bilang padamu"
"Apa apaan kamu Nay..kamu mengijinkan lelaki lain datang ke rumah??" Wajah kekecewaan Randy sangat terlihat.
Feri tersenyum melihat amarah Randy. seketika darah Randy naik dan memiting leher Fery. Naya berteriak takut dan mencegah tangan Randy. Tarik menarik itu sempat menghantam bahu Naya. Randy sempat terkejut, tapi amarahnya mengalahkan segalanya.
"Sabar Ran..jangan emosi dulu" Rekan Randy berhasil menarik Randy. Feri di bekuk dan di amankan ke ruang tamu sebelum Randy menghajarnya lagi. Randy melihat banyak rekannya di dalam rumah segera melepaskan seragam luarnya untuk menutup baju bagian dada Naya yang sedikit terbuka dan transparan, Randy melindungi tubuh Naya di belakang punggungnya.
__ADS_1
------
"Saya sudah bilang kalau akan datang kesini dan memberinya hadiah" Wajah seolah mengejek Feri menunjuk hadiah mahalnya di meja ruang tamu.
Lengan Randy masih di pegang oleh rekannya, karena setiap Fery bicara Randy selalu saja ingin menghajarnya. Reno baru saja tiba setelah di hubungi seniornya bahwa kakak iparnya terlibat perkelahian.
"Kamu Fer? belum puas kamu dulu mau merusak Naya sekarang kamu ulangi lagi" Reno ikut terpancing emosi melihat Feri duduk di ruang tamu
"Apa katamu?? Merusak Naya?" Jantung Randy berpacu cepat mendengar ucapan Reno.
"Apa benar mas, kamu yang menyekapku dulu?" Naya menangis, dia sangat malu saat ini karena banyak orang yang tau masalah rumah tangganya.
"Jangan munafik lah Nay, mana ada gadis baik baik di jaman sekarang ini" Feri mencomooh Naya di depan orang banyak
"Kenapa?? Kamu menyesal menikah dengannya karena dia bunga layu??" Feri yang terus saja bicara membuat Randy tidak tahan. bagaimanapun dia harus menutup masalah rumah tangga dan melindungi istrinya.
Sekuat tenaga Randy melepaskan diri dari rekannya, Randy meluapkan amarahnya, tangannya mencabut sangkur dari pinggangnya dan hendak menancapkannya pada Feri.
"Buka telingamu, dia kuncup bunga yang mekar saat kusentuh" bentak Randy pada Feri.
Reno menendang sangkur itu. dan menghadang tubuh Randy.
"Tenangkan dirimu bang"
__ADS_1
Naya berlutut di depan Randy dan memeluk pahanya.
"Aku salah mas sudah membuat keributan ini, aku tidak tau harus melakukan apa saat Feri terus menghubungiku" Naya terisak. Rekan Randy segera menarik Feri pos untuk di mintai keterangan karena sudah membuat keributan. Mereka memberi ruang pada Randy untuk menyelesaikan masalahnya.
Randy menarik kakinya, hatinya masih terasa sakit karena Naya tidak jujur padanya hingga Feri mengikutinya ke arah kamar dan hampir melihat Naya mengganti pakaian.
Aku merasakan sakit hatimu Nay.. Pasti sangat sakit menyadari aku bersama wanita lain. Apa ini hukuman untukku. Kali ini aku merasakannya.. sakit rasanya Nay.
Reno melepaskan tangannya pada tubuh Randy.. Naya masih berlutut walau Randy menolaknya. Dadanya mulai sesak karena banyak menangis. Randy membuka laci mengambil inhaler dan memberikan pada Naya lalu menghempaskan kakinya dan masuk ke dalam kamar.
Randy mengatur napasnya.. rasa cemburu pada lelaki lain sungguh menyiksa batinnya. Naya menyusul masuk ke dalam kamar.
"Mas..aku sungguh nggak mengundang Feri"
"Aku ingin tenang dulu Nay, saat ini pikiranku sedang kacau menjauhlah dariku" Randy berucap datar
"Mas, aku mengaku salah saat itu aku takut kamu marah" Jelas Naya
"Berpikirlah dulu sebelum mengambil keputusan, apa sekarang kamu puas setelah semuanya terjadi? kamu pikir apa yang akan terjadi kalau aku terlambat pulang?" bentak Randy. Naya memejamkan matanya, ia memang merasa sangat bersalah.
"Kamu taruh dimana harga diriku Nay. Kemarin dia sudah merendahkanku, sekarang dia melemahkanku melalui istriku, dan kamu...tidak jujur padaku Nay" Randy menendang rak pakaian hingga patah. Naya merasa sesak hingga perutnya merasa panas terpelintir.
.
__ADS_1
.