Prajurit Pilihanmu

Prajurit Pilihanmu
97. Mantap Jiwa


__ADS_3

Zein masih mengikuti tahap demi tahap test masuk tentara. Ada rasa takut dalam hati Zein tapi segera di tepisnya jauh karena saat ini hanyalah pembuktian yang ingin di lakukannya.


"Anak dari Letda Randy ini pintar juga akademisnya ya!" seorang panitia memperhatikan postur tubuh Zein mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Bagaimana tampan papanya, beginilah anaknya" ucap dokter wanita sambil mencatat hasil testnya lalu pergi memeriksa peserta yang lain.


"Eehh..masuk tentara itu tidak mudah lho. Apa papamu mengarahkanmu masuk tentara?" tanya panitia bernama Baroto.


"Siap..tidak" Zein menjawab dengan lantang menatap arah depan.


--------


"Apa tujuanmu ingin menjadi seorang tentara?" tanya Serka Vinda.


"Mengabdi kepada bangsa dan negara" tegas Zein.


"Kamu kira mudah menjadi seorang prajurit, terutama pemimpin? Apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu?" uji panitia Vinda lagi.


Zein diam sejenak tapi hatinya memang sudah mantap dan pantang untuk mundur.


"Siap..saya yakin. Saya terlahir di tanah ini dan saya akan berjuang dan membela negara kesatuan. Saya berikan jiwa dan raga saya untuk negara"


Pelatih itu tersenyum, tidak ada bedanya seorang Zein dengan Randy.


***


"Mutia, besok adalah pengumuman apakah aku akan berangkat pendidikan atau tidak" Zein menatap ke arah lautan luas.


"Bisakah aku menunggumu?" lirih Mutia menunduk.


"Kamu memang harus menungguku, tidak kuijinkan pria lain mendekati kamu" Zein menegaskan menoleh pada Mutia kemudian tangannya merogoh saku jaketnya mengeluarkan sesuatu.


"Aku lamar kamu" Zein membuka kotak kecil berisi cincin emas. Mutia terbelalak, bahagia, sedih bercampur menjadi satu.


"Kamu beli pakai..." Mutia berucap ragu.


"Ini pakai tabunganku, jangan berfikir yang tidak tidak" Zein tau Mutia pasti akan menanyakannya.

__ADS_1


"Mulai sekarang kamu sudah ada yang punya, jangan melirik pria lain selama aku pendidikan. Jaga dirimu baik-baik, jaga kesehatan. Aku tidak akan mengkhianati kamu disana" cincin emas yang indah itu di sematkan di jari manis Mutia. Mutia terharu hingga tidak sanggup berkata apapun.


"Panggil aku dengan panggilan indahmu!!" titah Zein. Mutia menggeleng karena merasa malu.


Zein tersenyum melihat tingkah polos Yara.


Kamu tidak ada bedanya dengan kakakku Yara. Kini aku tau rasanya memiliki sesuatu yang spesial.


"Adek ciMutku sayang.. itu panggilan sayangku untukmu biarpun kita seumuran. Aku menjunjung tinggi kamu dalam hatiku" senyum Zein membuat jantung Mutia berdebar kencang.


"Mas honeyku.. itu panggilan sayangku untukmu biarpun kita seumuran. Aku menghargai ketulusanmu" Mutia tidak mau menatap wajah Zein.


"Apa lehermu itu patah hingga tak mau menatapku?" Mutia menjadi salah tingkah.


"Sanggupkah kamu menungguku tujuh tahun kedepan dek?" Zein berubah sendu menggenggam tangan Mutia. Wajah Mutia bersemu merah karena pertama kalinya Mutia di perlakukan lembut oleh seorang pria.


"Aku sanggup mas" senyum meyakinkan dari Mutia membuat kegelisahan Zein menjadi berkurang.


Zein memeluk erat Mutia untuk pertama kalinya. Pertama kali itu juga Zein seperti di sengat listrik jutaan volt karena pelukannya sendiri. Zein yang menyadari apa yang terjadi segera melepaskan diri.


"I love you Cimut" senyum Zein.


***


Zein duduk rapi mendengarkan nama nama yang lulus akan mengikuti pendidikan. Tak lama telinganya mendengar


"ZEIN ARMEDYA PRAWIRA"


"LULUS"


Terhenyak sesaat Zein mendengar namanya. Jantungnya berdebar kencang kemudian berdiri.


"Siap"


Dari kejauhan Randy bersandar pada tembok ruangan, tangis haru tak bisa ia tahan melihat Zein lulus untuk menjalani pendidikan.


Naya yang jauh jauh dilarang datang akhirnya datang dengan memaksa Reno untuk mengantarnya. Randy tak mampu menghalangi kasih seorang ibu, di biarkannya Naya melihat putranya yang akan berangkat pendidikan.

__ADS_1


"Jangan menangis, tangismu memberatkan langkah Zein. Relakan dia pergi" Randy menghapus air mata Naya.


"Aku nggak tega mas" lirih Naya


"Apa kamu pikir mas setega itu?" Randy mengusap kepala Naya yang tertutup jilbab.


"Biarkan Zein berjuang dalam hidupnya, menjalani kodratnya sebagai seorang pria, apapun pekerjaannya asalkan halal untuk dirinya juga untuk keluarganya nantinya" Naya memeluk Randy.


Semakin dirasakannya pengorbanan seorang suami yang selalu berusaha menghibur dan membahagiakannya. Tak pernah sekalipun Randy lalai dalam kewajibannya.


***


"Ma, untuk apa baju sebanyak ini!!!!, mie instan ini juga untuk apa ma!!!" Zein menahan teriakannya melihat Naya menyiapkan banyak baju untuk di bawa Zein pendidikan, tak lupa banyak makanan yang totalnya hampir lima koper.


Zein sudah pusing, ingin menolak tapi tidak tega pada mamanya. Randy paham situasi ini melihat ekspresi putranya.


"Ma..anakmu itu mau pendidikan, bukan mau fashion show. Mie instan ini tidak perlu, anakmu tidak akan menjadi kucing kelaparan disana" Randy menghentikan tangan Naya yang terus memasukan makanan ke dalam koper. Naya tidak menggubris dan tetap mengerjakan tugasnya.


"Hentikan atau anakmu akan sakit typhes dalam seminggu karena terlalu banyak makan mie" Naya menghentikan tangannya dan akhirnya menitikkan air mata.


"Mama khawatir karena Zein hanya bisa masak mie saja pa!" ucap Yara ikut bersedih.


"Kamu pikir aku sebodoh itu??" Zein melotot mendengar celotehan Yara.


"Terus apa yang kamu bisa" ketus Yara memonyongkan bibirnya.


"Bisa kangen kamu nantinya" lirih Zein melunak menangkap bibir mungil Yara. Zein merasa sangat tidak tega meninggalkan kakak yang begitu polos.


"Kalau aku pergi nanti, jangan pergi dengan sembarang pria dan termakan rayuan gombalnya yang tidak berguna..kau sangat bodoh dalam hal itu"


"Apa kamu tidak percaya aku bisa dapat lelaki yang baik" Yara menimpali Zein. Zein mengacak rambut Yara dengan sayang menampilkan senyum indah.


"Percaya.."


.


.

__ADS_1


__ADS_2