
...Telah direvisi!...
...Happy reading! ...
...***...
Kehidupan keluarga Vinson membaik semenjak terlepas dari psikopat itu. Contohnya Aleysia, ia telah kembali memulai kegiatannya seperti dulu, memasak berbagai macam dan mengurus bunga-bunga di taman belakang. Sedangkan Thomas, ia kembali bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang keuangan dan Marchell meneruskan sekolahnya.
Walau tidak begitu sama seperti sebelumnya, mereka menikmati semuanya. Setiap kehidupan pasti ada perubahan di dalamnya, baik itu kecil ataupun besar, begitulah yang Thomas ajarkan pada keluarganya.
Alessa memberi kebebasan untuk mereka melakukan apa pun. Bagi Alessa sendiri, adanya Katryn dan keluarganya membawa keramaian dalam kehidupannya.
Setengah hari penuh Katryn menghabiskan waktu bersama sang ibu di dapur. Dan pada siang harinya, barulah ia berangkat bekerja. Karena ini weekend, maka ia tidak mengajar kursus musik.
Katryn amat menyukai bekerja di kafe ini, ia cepat berbaur pada karyawan lainnya. Berbeda jauh ketika ia berada di Indonesia, setiap pergerakannya diawasi dan itu yang membuat dia risih dan takut setiap dalam keadaan apa pun.
“Semenjak Elena bekerja di sini, kafe ini ramai pengunjung!” ujar Vinland, salah satu karyawan.
“Tidak juga,” ucap Katryn merendah.
“Benar, El. Menurutku, itu karena mereka penasaran denganmu!” sambung salah satu teman lainnya yang Katryn lupa siapa nama.
“Elena. Kau diminta seseorang tampil!” seru Lily sebelum Katryn membalas ucapan orang tersebut.
“Oke. Thanks, Lily!” ucapnya.
“Aku ke depan dulu,” pamitnya.
Tepat jam delapan malam, Katryn bersiap-siap untuk pulang. Sebenarnya, jam bekerjanya telah usai dari beberapa jam yang lalu, tetapi Bernard lagi-lagi memintanya untuk mengisi hiburan sampai Lala kembali dari urusannya.
Karyawan lainnya masih sibuk dengan urusan masing-masing. Setelah pamit, Katryn melangkah keluar dari pintu depan. Dia memutuskan untuk berjalan kaki, lagi pula jarak antara rumah dan kafe tidak begitu jauh. Orang-orang juga masih ramai berkeliaran pastinya.
Namun, ketika Katryn mulai memasuki jalan yang lumayan sepi, ia menyadari ada pria berpakaian hitam mengikutinya. Katryn semakin mempercepat langkah, berusaha untuk menjauh dari pria asing.
“Tuhan, tolong aku!” batinnya berdoa.
Tiba-tiba, pria itu sudah berada di depannya dan menutup mulut Katryn dengan sebuah sapu tangan yang sudah diberi obat bius. Dalam hitungan detik, Katryn merasa pusing dan jatuh pingsan.
...***...
Terbangun dengan rasa pusing yang hebat, membuat Katryn memejamkan matanya erat. Berkali-kali menyesuaikan pandangan, tetapi kepalanya tetap berat. Katryn kembali merebahkan tubuhnya sambil memijit pelan keningnya.
__ADS_1
Perlahan pusing itu hilang, barulah Katryn dapat membuka kedua bola matanya sempurna. Lalu, memandang ke sekitar ruangan yang ia tempat sekarang.
“Dimana aku?” lirihnya.
Ruangan ini sangat mewah, tata letak barang-barangnya seperti sebuah hotel. Katryn beranjak dari kasur, tetapi seseorang muncul dari balik pintu yang ia yakini itu adalah kamar mandi.
“Nona, Anda sudah bangun? Saya sudah menyiapkan air hangat untuk Anda mandi,” ucap orang tersebut pertama kali.
“Maaf, siapa kau? Dan kenapa aku bisa berada di sini?” tanyanya.
“Saya tidak memiliki hak untuk menjawab itu, Nona. Mari, saya akan membantu Anda membersihkan diri,” ucap orang itu lagi sopan.
“Tidak, terima kasih. Aku bisa sendiri,” balas Katryn.
“Baik, Nona. Pakaian Anda akan letakkan di atas ranjang,” ucapnya lagi menunduk dan pamit.
Katryn terdiam cukup lama di posisinya, berpikir apa yang sedang terjadi pada dirinya. Panik pasti, tetapi Alessa mengajarkannya untuk bersikap santai jikalau nanti ia berada di posisi ini. Katryn yakin ia tengah dicuri, di kepalanya sebuah nama yang ia yakini adalah orang di balik penculikan, Earnest.
Berusaha menenangkan ketakutan di dalam dirinya, Katryn menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Akhirnya, Katryn beranjak membersihkan diri.
Selesai membersihkan tubuhnya, Katryn menggunakan pakaian yang terletak di atas ranjang. Namun, Katryn terheran sebab jika memang Earnest di balik penculikan ini, mengapa ia tidak langsung saja menampakkan diri sebagaimana yang sudah terjadi sebelumnya?
Di ruangan lain, Allard melihat semua yang Katryn lakukan. Bibirnya menyunggingkan senyuman geli, Katryn tampak kebingungan. Jelas di sini Allard senang Katryn berada di dalam genggamannya.
“Sudah, Tuan!”
“Bagus. Awasi gadisku, perintahkan pada Alfi untuk melakukan tugasnya dengan baik. Aku tidak ingin mendengar gadisku kabur atau terluka sedikit pun!” perintahnya tegas.
“Tapi, Tuan. Bukankan sebaiknya Nona Katryn ikut bersama tuan saja?” tanya Jordan hati-hati, tidak setuju sebenarnya dengan keputusan sang tuan.
“Tidak, Jo. Dia harus mengerti bagaimana kehidupan di luar sana dan aku harus memastikan Ford menjauh dari gadisku!”
Setelah mengatakan kalimat tersebut, Allard berdiri dan meninggalkan Jordan. Dia harus melihat gadisnya sebelum mengerjakan pekerjaan penting.
Sedangkan Katryn, saat ini tengah mengikuti langkah seorang wanita cantik berpenampilan amat seksi dengan dress merah melekat ditubuhnya. Katryn akui, wanita ini memiliki wajah yang cantik dan tubuh profesional bak model, tetapi ia tidak begitu menyukai wanita itu.
Mereka memasuki sebuah restoran mewah dan duduk di salah satu meja yang jauh dari para konsumen. Seorang pria bertubuh gempal menghampirinya, memberi salam penghormatan yang tidak ia pahami. Lalu, pria itu memperkenalkan diri sebagai Alvi.
“Maaf, untuk apa saya berada di sini?” tanya Katryn tak tahan. Baik wanita itu dan Alvi memilih diam, mengabaikan pertanyaannya.
“Aku ingin pulang, keluargaku pasti mencariku!” ucap Katryn, mereka kembali terdiam.
__ADS_1
Katryn kesal, lantas ia berdiri bermaksud untuk pergi. Wanita bernama Selena itu menggenggam pergelangan tangan Katryn.
“Akan kami jelaskan setelah sarapan,” ucap Selena.
Tak lama, beberapa pelayan menghidangkan berbagai makanan. Katryn menuruni perkataan Selena, dia hanya ingin cepat pergi dari sini.
“Silakan di nikmati, Nona!” ucap Alvi sopan, Katryn tersenyum kaku.
Selama menyantap makanan, Katryn tidak mengeluarkan suara. Sedangkan Selena yang mulai bosan mengedarkan pandangannya. Tak sengaja, matanya menemukan Allard yang menjadi atasannya tengah memperhatikan gadis yang duduk di hadapannya, Katryn.
“Pandangan itu seolah sangat mendambakan gadis ini,” batinnya, ia merasa risih sang atasan memandang gadis itu.
Sarapan selesai, Katryn menyilangkan kedua sendok di atas piring. Ia menunggu Alvi menyelesaikan sarapannya.
“Jadi untuk apa saya berada di sini?” tanya Katryn setelah Alvi meminum air putih terakhir kalinya.
“Karena itu takdir!” ucap Selena gamblang, tersirat kekesalan di dalam suaranya.
Katryn menatap Selena ketus, ini yang membuat Katryn tidak begitu menyukai Selena. Entah sebab apa Selena menatapnya datar dan berucap ketus setiap kali mengeluarkan suara kepadanya.
“Aku tidak bertanya padamu, *****!” balas Katryn ketus memelankan suara di akhir kata. Selena menatap tajam pada Katryn, sedangkan Katryn bersikap tidak peduli.
“Selena,” tegur Alvi.
“Nona Elena, saya ingin menawarkan pekerjaan kepada Anda!” ucap Alvi beralih pada Katryn.
“Pekerjaan apa?”
“Bekerja di sebuah club,” jawab Alvi. Katryn menegakkan tubuhnya, mulai waswas dengan ucapan Alvi, apakah dia akan dijadikan seorang pelacur?
“Bukan sebagai wanita penghibur, Nona. Saya sedang mencari seorang wanita yang bisa bermain biola, dan saya dengar ... Anda mengeluti dalam bidang tersebut!” jelas Alvi.
“Tunggu, kau tahu dari mana?” tanyanya kaget.
“Itu adalah hal yang mudah!”
“Anda tidak perlu khawatir, selama bekerja akan ada penjaga dan kami juga akan membayar lima kali lipat dari hasil pendapatan Anda sebelumnya!” sambung Alvi.
Otaknya berpikir keras, belum memahami apa yang terjadi di sini. Tujuan mereka menculik hanya untuk menawarkan pekerjaan sebagai pemain musik, terdengar aneh sebenarnya. Apalagi gaji yang ditawarkan, Katryn tergiur dengan ucapan Alvi, tetapi bagaimana jika itu hanya ucapan semata dan pada akhirnya Katryn dijadikan budak?
“Saya menolak!” tegas Katryn.
__ADS_1
“Sayangnya... Anda tidak dapat menolak, Nona!” ucap Selena.
...***...