
...Telah direvisi!...
...Selamat membaca! ...
...---...
“Kemana semua orang?” tanya Katryn seorang diri.
Pasalnya, Selena tidak terlihat sejak pagi tadi, demikian juga Alessa yang akhir-akhir ini berada di mansion tidak terlihat setelah memberitahu Allard ke Fransisco. Katryn memutuskan untuk menghubungi Selena, tidak diangkat. Beralih pada Alessa, nomor wanita itu tidak aktif. Jika ponsel Aleesa aktif, tandanya ia tidak bertugas. Sebaliknya, jika tidak aktif maka Aleesa sedang bertugas.
Katryn beranjak dan menanyakan langsung pada penjaga, mereka mengatakan tidak tahu. Sampai sore hari, keduanya belum juga menampakkan batang hidung. Lelah, Katryn menyandarkan tubuhnya pada sofa di belakangnya. Ia khawatir, pikirannya tidak begitu tenang, tidak biasanya semua orang menghilang. Mansion ini tampak sepi sekali!
Baru saja dua hari yang lalu ia tertawa senang karena berlibur bersama keluarganya dan juga keluarga Allard. Semuanya baik-baik saja, bahkan Nyle berkata, kita seperti keluarga normal. Setelah berlibur bersama, Allard menyerahkan harta milik keluarga Vinson yang berada di tangan Earnest sebelumnya. Sekarang keluarganya tinggal di California, tempat kelahiran Thomas.
“Dimana Katryn?” Dahi Katryn berkerut mendengar suara Alessa dari balik pintu ruang keluarga.
“Sepertinya di kamar.” Itu suara Selena.
“Jadi, bagaimana?”
“Kita bicarakan saja di ruang keluarga.” Katryn terkesiap, mereka ingin membicarakan sesuatu yang serius, Katryn berdiri dan bersembunyi di toilet.
“Bagaimana ini, father tak bisa di hubungi sejak pagi tadi” Suara Selena terdengar, Katryn yang mendengar itu segera menghubungi nomor Allard, tidak aktif.
“Lokasinya juga tidak terlacak?”tanya Alessa.
“Tidak ditemukan, eror!” Katryn termenung, pikirannya berkecamuk, dimana Allard?
Makan malam tiba. Aleesa dan Selena juga ikut makan bersama, mereka tampak biasa saja. Jelas mereka berbohong padanya, mereka mengatakan jika mereka ada urusan di luar dan baru saja tiba.
Katryn makan dalam diam. sedikitpun tak memandang kepada mereka. Selesai makan, Katryn memasuki ruang musik, dan kedua orang itu mengikutinya bak anak bebek. Katryn menggesek biola perlahan seraya memejamkan matanya. Hatinya terasa tidak tenang memikirkan Allard. Nada yang dimainkan Katryn terdengar menyedihkan.
“Dimana Allard?” tanya Katryn masih dalam posisinya.
“Jawab!” Kini Katryn menghentikan permainannya.
“Ryn―”
“Katakan dengan jujur, dimana Allard?!” tanya Katryn tanpa ekspresi.
“Dia hilang, kami tidak bisa menemukan dia,” cicit Alessa.
“Seharusnya kalian tidak menutupi tentang itu!” ucap Katryn dan beranjak.
Ketika melewati ruang tamu, Nyle berada di sana beserta kedua orang tua Allard, Evelyn dan Javier. Nyle menghalangi, Katryn menghela nafas, ia duduk di samping Caroline.
“Saya permisi!” pamit Selena.
__ADS_1
“Kau tetap disini!” titah Nyle. Selena berdiri di sebelah kursi yang diduduki oleh Aleesa.
Nyle duduk di single sofa dengah wajah yang marah. Pandangannya menatap Katryn tajam, yang ditatap menunduk takut tak berani bergerak.
“Kau tahu dimana cucuku?!” Katryn menggeleng.
“Seharusnya, aku tak membiarkan Allard menemui jejakmu!” sarkas Nyle pada Fillbert.
“Kau tidak bisa melakukan apapun. Hanya Selena yang pantas mendampingi cucuku, bukan kau!” Jantung Katryn diremas kuat, sakit sekali dengan perkataan Nyle.
“Cucuku dalam bahaya karenamu!” ucap Nyle lebih tajam.
“Kenapa Anda menyalahkannya?!” Aleesa berucap tidak terima.
“Diam kau bocah!” ketus Nyle. Aleesa ingin menjawab, tapi Katryn memegang tangannya erat, melarangnya untuk menjawab.
“Reval. Jelaskan pada mereka!” Perintah Nyle pada tangan kanannya.
Yang hanya tahu adalah Nyle. Baik Fillbert dan Caroline, tidak tahu apa yang terjadi dengan anak mereka. Reval mulai menjelaskannya. Dan yang terjadi adalah, keluarga Haven yang masih hidup mengancam Allard jika pria itu tidak datang, maka Katryn dan calon bayi mereka akan mati seperti yang pernah Allard lakukan pada anak-anak mereka.
Ancaman itu tidak main-main, mereka hampir mencelakai Katryn di saat liburan bersama keluarga Vinson. Mulanya Allard datang ke tempat yang mereka katakan itu, anehnya mereka memberi izin Allard pergi setelah percakapan singkat mereka. Namun saat di perjalanan, mobil rem tak berfungsi. Mereka menjebak Allard, di tengah itu pula salah satu mereka menembak ban mobil yang mengakbatkan hilangnya kesimbangan mobil dan terhun bebas ke dalam jurang.
“Kau hanya menjadi kelemahannya!” Nyle menyerang Katryn dengan kata-katanya.
“Cukup, Dad!!” Bentak Fillbert.
“Kau yang diam! Dia celaka, karena kau! Kau menyuruh dia menghabisi keluarga itu!” ucap Fillbert menumpahkan emosinya. Nyle tertawa remeh.
“Semua akan baik-baik saja, jika putramu menghabis ratakan keluarga itu! Semua akan baik-baik saja, jika wanita ini tidak hadir di hidup putramu, dia tidak akan lemah!” cecar Nyle.
“Lebih baik lemah karena wanita, daripada merendahkan harga diri wanita tersebut!” ucap Fillbert sarkas.
Sedangkan Katryn saat ini memejamkan matanya di dalam pelukkan Caroline, tangannya digenggam oleh Aleesa. Perutnya mulai terasa sakit, tanpa sadar dia meremas tangan Alessa kuat.
“Ryn, are you okey?” tanya Aleesa khawatir. Katryn tidak menjawab, ia meremas tangan Alessa semakin kuat.
“Katryn,” ucap Caroline memegang perutnya, matanya dengan cepat melihat betis Katryn.
“Dad, Katryn pendarahan!” teriak Caroline.
Fillbert mendekat ke arah mereka, ia segera menggendong dan membawa Katryn ke rumah sakit.
“Allard...” lirih Katryn.
“Bertahanlah, Nak.”
__ADS_1
Sesampai di rumah sakit, Fillbert langsung membawa Katryn ke ruang UGD, dengan cepat dokter memeriksa keadaan Katryn. Mereka menunggu di luar dengan panik. Tak lama, dokter keluar dan mengatakan kandungan Katryn dalam keadaan sangat lemah. Aleesa tak dapat menahan tangisnya, pada akhirnya pecah.
...***...
Sehari berlalu, Katryn terus menanyakan Allard. Apakah dia sudah kembali? Dimana Allard? Apa yang terjadi padanya? Jawaban mereka selalu menenangkan Katryn, walau pada kenyataan ia tidak tenang sebelum melihat sang suami. Termasuk Caroline, dia amat terpukul atas kejadian yang menimpa anaknya. Namun, yang lebih membutuhkan semangat adalah Katryn.
“*Mommy*, Allard berjanji akan menjaga kami...” lirih Katryn memegang perutnya.
“Tenanglah, dia akan menjaga kalian. Allard tidak pernah mengingkari janjinya,” ucap Caroline.
Katryn baru saja meminum obat yang diberikan dokter. Wanita itu tampak mengantuk, tetapi dia tahan.
“Tidurlah, kau butuh istirahat.” Katryn menggeleng.
“Kau mengantuk, Sayang. Tidurlah...”
“Jika Allard kembali, tolong beritahu aku.” Caroline tersenyum seraya mengangguk. Fillbert masuk setelah Katryn tertidur pulas.
“Bagaimana?” tanya Caroline mendekati suaminya, Fillbert menggeleng.
“Allard tak ditemukan. Dia tidak berada di bangkai mobil yang Jordan temukan,” terang Fillbert.
“Apa Allard melarikan diri?”
“Dugaanku seperti itu, tetapi kita tidak tahu, bisa saja dia tertangkap oleh musuh.”
“Allard dalam bahaya...” lirih Caroline.
“Tenang, Mi amour! Allard tidak mudah tertangkap, jika itu terjadi aku akan menghabisi mereka!” ucap Fillbert dengan nada serius.
“Fill, kau berjanji untuk berhenti.” Caroline menatap Fill sendu.
“Aku tidak bisa diam melihat putraku dalam bahaya!” ucap Fillbert lemas.
Pada malam hari, Caroline dan Eve menjaga Katryn yang belum juga tidur. Jam menunjukkan pukul setengah satu, Katryn terjaga disebabkan punggungnya sakit. Caroline meminta Katryn tertidur berbaring menyamping, di belakang punggungnya Caroline memijat pelan.
“Terima kasih, Mom...”
“Tidak apa. Ibu hamil memang begitu, apalagi kandungan besar rentan sekali terkena sakit punggung.”
Katryn sudah mulai merasakan kontraksi palsu, seringkali dia kaget dengan sakit yang tiba-tiba datang beberapa saat. Jika sudah seperti ini, dokter menyarankan untuk tenang dan mengatur nafas.
“Hai, jangan menangis,”ucap Caroline.
“Aku mengantuk, tapi punggungku sakit,” keluhnya.
__ADS_1
Caroline tersenyum lembut, dengan sabar dia memijit punggung Katryn. Sampai suara teriakan nyaring Eve membuat mata Katryn secara ajaib terbuka lebar.