Psychopath & My Possessive Devil

Psychopath & My Possessive Devil
Chapter 45. Save


__ADS_3

...Telah direvisi!...


...Tinggalkan jejak!...


...-----...


Pandangan Allard tidak lepas dari Katryn yang menunduk, meneliti wanitanya dengan cepat. Bibir bengkak, wajah kusut, lengan penuh luka dan dipastikan banyak lagi luka di tubuh istrinya.


Tangannya terkepal erat, Earnest bajingan itu memeluk Katryn, sengaja menghirup aroma leher sang istri di hadapannya. Ia tahu Katryn saat ini ketakutan, sesekali mata itu menatapnya seolah meminta tolong.


“Istrimu seksi dengan perut yang membesar seperti itu,” komentar Dagoberto. Allard menatap tajam pria ini, tak senang dengan ucapan tersebut.


“Lepaskan dia!”titah Allard.


“Mudah sekali. Berikan semua hartamu!”


“Aku tahu kau tak akan melepaskannya, walaupun aku sudah memberi semua hartaku,” ucap Allard terlampau tenang, menutupi kemarahannya yang siap meledak.


Katryn menatap Allard, matanya memuja pria itu. Merindukan pria, sangat ingin memeluk pria tersebut. Namun, tubuhnya di tahan. Earnest merangkulnya dari belakang, wajah pria itu mulai tenggelam di lehernya.


“Earnest, brengsek!” batinnya dalam hati.


Pria ini hanya ingin memancing kemarahan Allard. Kini Katryn menatap pada Allard secara penuh, seakan berbicara ‘jangan terpancing’. Sedangkan Allard semakin menggeram dengan kelakukan pria itu. Menghela nafas perlahan, Allard mundur dua langkah.


“Earnest. Sekarang kau bisa lepas dariku. Tapi ... aku bersumpah. Akan mengejarmu, dan membunuhmu dengan tanganku sendiri!” Allard menekan setiap katanya, sekali pun tidak menatap Earnest.


“Silakan saja jika kau bisa! Buktinya, aku selalu bisa kabur dari semua penjagamu!” Earnest meremehkan Allard.


Diamnya Allard, membuat ruangan ini sangat tidak nyaman. Pria ini mulai mengumbarkan sisi gelapnya. Anggelo yang berada disana, merinding melihat Allard menatap lantai tajam. Tak lama, pandangan Allard jatuh padanya lalu, beralih pada Dagoberto dan terakhir Mr. Thomp.


Jelas sekali, jika pria ini mengintimasi mereka. Tatapan tersebut tak berubah sedikit pun, malah membuat mereka di ruangan tersebut semakin gemetaran dan tak berkutik.


“Kau salah ingin memancingku, Ford!”gumam Allard.


“Aku tidak suka milikku disentuh sedikit pun! Dan kau melakukan itu!”tambahnya.


Setelah Allard mengatakan itu, tak lama suara ledakan terdengar cukup jauh. Detik berikut suara ledakan kembali terdengar.


“Kau membawa pasukanmu ternyata!” ucap Earnest. Ledakan kembali terdengar, suaranya semakin mendekat.


“Periksa apa yang terjadi!” teriak Dagoberto pada anak buahnya. Anak buah yang berada disana, tak bergerak sedikitpun.


“Kalian tuli?!”pekik Dagoberto berang.


“Percuma kau menyuruh mereka, Dagoberto! Mereka anak buahku!”kekeh Allard.


“****!”

__ADS_1


Dagoberto mulai panik dengan keadaan. Ia menghampiri Katryn, namun kalah cepat dengan Allard yang membantingnya ke lantai. Allard paham keadaan semakin tak kondusif. Earnest membawa Katryn dengan paksa sedangkan, dia tak bisa mengejar Katryn karena Dagoberto dan Thomp menghalanginya.


Mereka mulai adu kekuatan, Allard tak bisa meremahkan Thomp. Pria ini tahu cara bagaimana mengalahkan lawannya. Hatinya tak tenang, melihat bagaimana Earnest menarik Katryn. Khawatir jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Sekilas dia melihat Anggelo sudah tidak berada disini. Dan kesempatan besar, Thomp menendang perutnya keras.


Allard bangun, sambil menyeringai tenang, tidak terlihat kesakitan. Ruangan ini, penuh dengan perkelahian antara anak buahnya dan anak buah mereka. Ternyata anak buah mereka, bergerak cepat menyusul tuannya.


Thomp menyerangnya kembali, dengan lihai dia menghindar. Anak buah Dagoberto semakin banyak berdatangan, jelas mereka mendengar suara ledakan secara beruntun dan anggotanya tidak dapat menghalangi lebih lama.


Allard tahu mereka kekurangan anggota, anak buahnya kalah banyak dari mereka. Dagoberto dengan licik, menembak semua anak buahnya, tetapi mereka dengan lihat menghindar. Beberapa terkena tembakan, Allard memerintahkan lewat matanya untuk menyusun barisan di belakangnya.


“Kau pantas untuk lenyap, Helbert!” ucap Thomp, menodong senjata padanya.


“Kalian sedari tadi menodong pistol, nyatanya tidak ada satu peluru pun yang keluar padaku!” komentar Allard santai.


Thomp menatapnya penuh kebencian dan kemarahan. Allard ingat, dimana dia melenyapkan putra kesayangan Thomp, tepat dia hadapan pria ini.


“Jangan berlindung pada bawahanmu, perintahkan mereka mundur!” Allard jengah, dari mana jalurnya ia berlindung pada bawahannya.


“Matamu tidak lihat di mana anggotaku berada, huh? Buta?” Mr Thomp menekan pelatuknya, Allard menghindar dengan gesit.


Tepat setelah itu, Aleesa datang bersama Jordan, Selena, Nick dan anggota tambahan. Pandangannya beralih ke ruangan tersebut, tidak menemukan Katryn. Tembakan terdengar secara tiba-tiba, rupanya Dagoberto memuntahkan anak peluru mereka ke arah Allard. Aleesa mendatangi Thomp, tidak gentar dengan todongan pistol pria itu.


Sebelum Thomp menembaknya, dia memasukan tangannya ke kantong celananya yang dikhususkan untuk menempatkan pisau cutter. Lalu, dengan kilat ia melempar cutter tersebut tepat di leher Thomp.


“Good job, Baby!” teriak Nick.


“Allard, pergilah. Hubungi Anggelo, dia tahu di mana tempatnya!” lirih Alessa menahan perutnya dibantu Nick yang panik di sampingnya.


“Selena, Nick, bawa Alessa dan anggota yang terluka!” titahnya.


“Jordan, bereskan mayat-mayat itu!” ucap Allard dan kemudian meninggalkan semua orang seraya menghubungi Anggelo, pria itu segera menerima panggilannya.


“Pulau South, mereka membawa Katryn ke sana. Kita tidak banyak waktu, mereka menggunakan helikopter,” beritahu Anggelo langsung.


“Shit!” umpat Allard, waktunya tidak akan cukup.


“Darick di sana, membawa helikopter,” ucap Anggelo yang bertepatan dengan suara helikopter terdengar. Allard mendongak, ternyata benar Darick membawa helikopter. Segera ia naik setelah Darick menurunkan helikopter-nya.


“Kau tahu tempatnya?” tanyanya.


“Tahu.”


Sepuluh menit kemudian, helicopter mendarat di dekat pantai. Allard bergegas turun, dan melihat Earnest menarik paksa Katryn untuk menaiki sebuah yacht. Ia berlari ke arah mereka, Earnest yang sadar memuntah kan peluru ke arahnya.


Darick berjalan santai, sambil melihat Earnest yang menembak acak ke arah Allard. Tembakan itu berhenti, karena kehabisan peluru. Darick memegang sebuah pistol, lalu berteriak pada Allard,


“Allard, tangkap!” Dengan sigap Allard menangkapnya. Pistolnya tertahan oleh Dagoberto ketika memasuki rumah itu sebelumnya.

__ADS_1


Allard berhadapan dengan Earnest sedangkan Katryn, berada di belakang tubuh Earnest. Katryn ketakutan bukan main, pasalnya pria ini menyimpan cutter di saku celananya. Pisau itu akan ditusukan pada Allard, jika pria ini menemukan mereka. Katryn menatap Allard dari balik punggung Earnest, mengisyaratkan lewat mulutnya. Allard mengangguk mengerti.


“Kau menginginkan istrimu, bukan?”kata Earnest.


“Aku menginginkan dirimu mati di tanganku!” ucap Allard alih-alih menjawab pertanyaan Earnest.


“Sebelum itu, aku akan melenyapkan bayimu beserta ibunya!”tekad Earnest.


Allard menatap tajam pria di hadapannya ini. Dari arah belakang Katryn, Shian datang dan memaksa Katryn untuk menaiki Yacht itu. Dari atas Yacht itu, Shian memaksa Katryn meminum sesuatu dari gelas di tangannya, Allard benar-benar marah menembak kaki Earnest dan untuk kedua, ia menembak perut Eaenst.


Shian berteriak cukup keras, ia menatap tajam Katryn dan kembali memaksa istrinya. Allard segera naik ke atas yacht, lalu mendorong tubuh kecil Shian sehingga gelas ditangannya terlempar jauh. Katryn memeluknya erat, sambil menangis terisak-isak. Sedangkan Darick, memegang tubuh Earnest agar tak melakukan sesuatu hal yang lain.


Allard dan Katryn menikmati pelukan mereka saling menenggalamkan wajah mereka pada bahu pasangan masing-masing. Allard menenangkan Katryn yang terisak-isak, satu tangannya tidak lupa mengelus perut Katryn lembut.


“Allard di belakang Katryn!” teriak Darick, melihat Shian memegang pisau.


Seakan sadar, Allard membalikkan tubuh mereka mengorban punggungnya tertusuk. Dari bawah Yacht, Earnest tertawa senang. Dan untung saja, Selena dan Nick datang tepat waktu. Nick dengan cepat berlari dan menaiki Yacht tersebut. Lalu menangkap Shian, sedangkan Selena bergerak ke arah Allard.


Katryn yang mencium bau anyir merasa pusing, tapi dia menahannya. Kepala Allard kini berada di pahanya, ia semakin terisak-isak melihat Allard yang telah pucat. Kejadian itu sangat cepat, Katryn semakin tak bisa menahan rasa pusingnya.


“Bawa Katryn dari sini,” ucap Allard dengan nada perintah pada Selena.


“Tuan. Anda sedang―”


“Bawa dia!” potong Allard tak ingin di bantah.


Darick menyuruh beberapa pengawal yang datang bersama Selena dan Nick untuk memegang tubuh Earnest. Lalu, dia menghampiri Allard.


“Selena. Biar aku yang membawa Allard,” ucap Darick.


“Kau bisa berjalan dengan pisau itu?” Tanya Darick, Allard mengangguk.


“Selena berjalan lebih dahulu,” ucap Allard.


“Tapi, tuan―”


“Jalankan perintahku, Selena!”


“Allard...” lirih Katryn lemah.


“Berjalanlah, Amour. Aku di belakangmu,” ucap Allard.


Selena membantu Katryn untuk berdiri, tubuh Katryn benar-benar lemas, jadi Selena ekstra menahan tubuh istri tuannya. Kepala Katryn pusing disertai mual, ia turun perlahan, entah mana yang harus Katryn pikirkan dulu, Allard atau kandungan.


Setelah Katryn turun, Allard menyusul turun dibantu Darick. Ketika hampir mencapai helikopter terparkir, tubuh Katryn melamas dan jatuh pingsan dipelukan Selena.


“Biarkan Darick yang mengendongnya,” ucap Allard lemas.

__ADS_1


__ADS_2