Psychopath & My Possessive Devil

Psychopath & My Possessive Devil
Chapter 57. Allard Sick


__ADS_3

...Telah direvisi!...


...Selamat membaca! ...


...-----...


Allard termenung di ruang kerjanya. Sejak kejadian itu, Allard memutuskan meninggalkan mansion keluarga Helbert dan kembali ke mansion pribadinya. Mereka kembali seperti dua orang asing, Katryn lagi-lagi menghindar. Sudah seminggu Katryn menghindar, dan Allard membiarkan terlebih dahulu. Dan hari ini, ia ingin berbicara dengan Katryn.


Allard menghela nafas, lalu mengambil gelas berisi vodka dan meminumnya sekali teguk. Dia membuka kemejanya dan melemparnya asal. Dia berjalan ke arah toilet dan membiarkan aliran air membasahi tubuhnya. Ini sama seperti dulu, Katryn mendiaminya dan meminta perceraian. Sampai kapanpun, Allard tak pernah mengatakan iya atas perceraian itu. Tidak, dia tidak akan melepaskan wanita itu.


Allard menghabiskan waktunya setengah jam di bawah shower. Pikirannya sama sekali tidak bisa tenang. Dia mengambil sebuah handuk, melilit handuk tersebut ke pinggangnya. Ketika keluar dari toilet, Jordan berdiri di samping meja kerjanya.


“Aku tidak akan pergi ke acara itu!” ucap Allard sebuah penekanan.


“Transaksi dengan Mr. Jwell di tempat acara itu, Tuan...”


“Kau yang menggantikan-ku.”


“Baik, Tuan!”


“Saya permisi!” Pamit Jordan.


Allard memijit kepalanya yang terasa berat. Tak lama, dia keluar dari ruang kerja dengan handuk yang melilit di pinggannya. Dia memasuki kamar, Katryn tidak terlihat, akan tetapi pintu balkon terbuka dan memperlihatkan siluit Katryn di sana.


Berjalan ke arah walk in closet, Allard mengambil celana panjang dan memakainya, lalu keluar dari ruangan tersebut tanpa mengenakan atasan. Perlahan dia melangkahkan kakinya ke pintu balkon. Allard memperhatikan Katryn yang berdiri membelakanginya. Allard memeluk Katryn dari belakang dan berkata,


“Hai!” Katryn tidak membalas ucapannya.


Allard menenggelamkan wajahnya di bahu Katryn, menghirup aroma Katryn ditambah dengan parfum yang selalu dikenakan oleh wanita-nya menjadi satu perpaduan yang pas dipenciumannya. Allard melepaskan pelukannya, ia membalikkan tubuh Katryn agar berhadapan dengannya.


“Maaf.” Satu kata terucap dari bibir Allard.


Kata Maaf dan terima kasih, tidak pernah keluar dari mulutnya selama dia menjadi ketua mafia. Baru kali ini, dan kata itu Allard ucapkan lagi kepada sang istri.


“Allard.” Allard menatap mata Katryn, tangannya memegang tangan Katryn erat.


“Dunia kita berbeda jauh,” ucap Katryn lembut. Allard menggeleng, dia tidak terima dengan ucapan itu.


“Duniamu penuh dengan kekejaman. Aku tidak bisa memasuki duniamu,” lirih Katryn.


“Katryna,” ucapnya tercekat.


“Sedari awal kau telah memasuki duniaku,” sambung Allard menatap mata itu dengan risau.


“Kau tidak bisa keluar dari duniaku!”


“Allard, dari kejadian itu aku mengetahui satu hal. Jika aku dalam hal terdesak, misalnya seseorang ingin membunuhku. Mau tidak mau, aku juga harus bisa melawannya untuk membunuhnya terlebih dahulu!”


“Aku tidak bisa itu,” tambah Katryn.


“Amour, aku tidak ingin berpisah!” balas Allard, dia tahu kemana ujung dari pembicaraan mereka. Katryn tersenyum manis mendengar jawaban Allard.


“Jangan perlihatkan senyum itu!” pinta Allard resah.


“Allard, aku tidak mau berada di dunia yang bertolak belakang kehidupanku.”


“Kau hanya perlu berada di sampingku!” balas Allard cepat.

__ADS_1


“Kelemahanmu, adalah aku. Jika aku tidak pandai melawan mereka, itu memudahkan mereka untuk menjatuhkanmu. Aku tidak ingin menyakiti orang lain. Aku tidak bisa membunuh, baik itu hewan atau pun manusia!”


“Amour...” lirih Allard. Dia menunduk, menenggelamkan wajahnya pada bahu Katryn.


“Dan aku akan membawa bayi ini bersamaku. Aku tidak ingin dia menjadi seperti dirimu!” ucapan Katryn itu menyentil Allard, hatinya seperti ditikam keras.


Allard mengangkat wajahnya dan sebulir air mata jatuh begitu saja. Katryn tampak terkejut dengan penglihatannya, Allard menangis. Allard sendiri tidak peduli apabila Katryn mengatakan dia lemah.


“Kau mengatakan pada Grandpa, meninggalkan anak ini bersama Allard, atau pun menyuruhku membawa anak ini tanpa ayahnya, aku tidak mau―” Allard mengulang perkataan Katryn.


“Artinya kau tidak akan meninggalkanku!”


“Allard,” bisik Katryn, lalu menghapus air matanya.


“Amour, kau tidak perlu melakukan apapun. Kau hanya perlu berada di dekatku, itu saja!”


“Dunia kita berbeda, Al.”


“Bagiku, dunia kita sama. Yang berbeda adalah keadaannya,” balasnya membuat Katryn tidak mengerti.


“Kau terlahir dari keluarga baik-baik. Sedikit banyaknya, kau mendapatkan masa kecil yang menyenangkan. Sedangkan aku terlahir dari keluarga penjahat, tidak pernah merasakan masa kecil yang menyenangkan, hidupku penuh dengan aturan dan aturan.”


“Tapi, aku beruntung bisa seperti ini. Aku bisa mendapatkanmu dari psikopat itu!” Mereka terdiam cukup lama, masing-masing membatin. Katryn menatapnya dengan sendu dan kebingungan terbaca di mata itu.


“Aku tahu kau hanya terobsesi padaku,” ucap Katryn.


“Cukup, Katryna. Kau tidak pernah mengerti perkataanku! Aku mencintaimu! Oke, kau mengatakan ini obsesi, tetapi aku yang merasakan perasaanku, bukan kau!”tegasnya.


“Arah pembicaraanmu ini perpisahan, kan? Dengar ini baik-baik, seberapa banyak kau mengatakan itu, sebanyak itu pula aku mengatakan tidak!” ucap Allard setelah cukup lama mereka berdiam.


...***...


Allard mengerti, bahwa Katryn membutuhkan waktu untuk menenangkan dirinya. Dia tak ingin menambah pikiran Katryn, apalagi kandungan Katryn melemah diarenakan terlalu banyak berpikir.


“Tuan, keluarga nyonya sudah datang,” ucap Jordan memberitahu, dia hanya mengangguk.


“Tuan, tidak menemui mereka?” tanya Jordan, Allard menggeleng.


“Jika mereka menanyakanku, katakan aku sibuk!” ucapnya sambil membalikkan kertas-kertas penting.


“Baik, Tuan.”


Allard menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Tubuhnya terasa sangat lelah, dia tahu ini karena istirahat yang kurang dan pikiran yang menumpuk. Jam sudah menunjukan pukul dua siang, Allard harus menemui sang kakek.


Dia menuruni anak tangga dan terlihat Katryn beserta keluarga mereka berkumpul di ruang tamu. Perlahan Allard menghela nafas, ia mengira mereka berada di ruang keluarga.


“Allard, kemana kau akan pergi?” Caroline bertanya.


“Urusan kantor.”


“Jam berapa kau pulang?!” tanya Aleysia antusias.


“Jam makan malam.”


“Baiklah. Hati-hati!” Allard mengangguk. Matanya melirik Katryn yang menatapnya bertanya. Allard pamit pada semuanya dan langsung pergi menuju mansion Helbert.


Tiba jam makan malam. Allard belum menampakkan batang hidungnya, semua keluarga Katryn menanyakan hal itu. Katryn hanya diam, tidak tahu ke mana perginya sang suami. Dari malam kemarin, Allard pulang di atas jam dua pagi. Mereka memutuskan makan terlebih dahulu, seraya menunggu Allard yang tak kunjung datang.

__ADS_1


“Selena, dimana Allard?” Selena menggeleng.


“Paman Jo?” tanyanya pada Jordan.


“Saya tidak tahu, Nyonya.”


“Dia tak mengatakan apapun?”


“Tidak, Nyonya.”


...***...


Di pagi hari Katryn tidak menemukan Allard, laporan pelayan mengatakan Allard tidak pulang sejak kemarin.


“Kalian bertengkar?” tanya Alessa, Katryn mengangguk. Ia menceritakan permasalahan mereka, dan Alessa mengangguk mengerti bagaimana perasaan Katryn.


“Itu sebuah konsekuensi. Sedari awal kau tahu pekerjaan berbahayanya dan pergelutan di dalamnya,” tanggap Alessa.


“Aku tidak menyangka dengan persyaratan gila itu,” balas Katryn.


“Kejadian itu membuatku sadar, dunia kami berbeda.”


“Berbeda itu yang menjadikan kalian bersama. Aku tidak membela siapa pun, sejak awal kau mengetahui pekerjaan Allard sebagai mafia, aku tidak melihat kau keberatan dengan itu. Menurutku, kau belum siap menerima tradisi Helbert yang bagi orang luar tidak masuk akal.” Katryn menunduk memainkan jari-jarinya.


Tengah malam Allard pulang di saat Katryn sudah terlelap. Allard membuka pakaiannya dan melempar ke sembarangan arah. Tubuhnya lemas sampai ia sendiri tidak sanggup menopang berat badannya. Allard terjatuh berlutut di atas permadani yang berada di bawah kaki ranjang.


Katryn mendengar suara itu terbangun, ia melihat Allard dan segera menghampiri sang suami. Ketika Allard mengangkat kepalanya, Katryn melihat wajah Allard pucat pasi. Ia panik dan secepat kilat mengambil ponsel di atas nakas guna menghubungi Jordan. Setelahnya Katryn menghampiri Allard kembali.


“Katryna..,” lirih Allard.


“Kau butuh sesuatu?” Allard menggeleng.


“Aku ingin tidur dipelukanmu.”


“Ke rumah sakit, okey?” Allard menggeleng.


Tak lama Jordan datang dan terkejut melihat sang tuan kacau dengan wajah pucatnya. Jordan membantu Allard untuk berbaring di atas ranjang.


“Paman, ayo, bawa Allard ke rumah sakit!” ucap Katryn. Jordan terdiam, menatap Allard yang menggeleng.


“Paman, ayo. Kondisinya drop!”


“Nyonya, biarkan saya memasang infus untuk tuan.” Katryn menyerah. Jordan keluar mengambil peralatan infus. Lima menit kemudian, Jordan datang dan segera memasang infus dengan telaten.


“Berapa hari tuan tidak makan?” tanya Jordan.


“Aku tidak ingat!” Jordan menghela nafas.


“Pergilah.” Allard hanya membutuhkan istrinya.


“Saya permisi, Nyonya.” Jordan pamit setelah selesai.


Katryn mendudukkan bokongnya di samping Allard. Dia menangis, tidak tega melihat Allard yang sakit seperti ini.


“Apa yang kau inginkan?”


“Peluk.” Katryn tersenyum, ia melangkah ke samping ranjang yang kosong dan membaringkan tubuhnya seraya membawa kepala Allard ke pelukannya. Allard tersenyum samar, ia menenggelamkan wajahnya pada dada sang istri.

__ADS_1


...***...


__ADS_2