
...Telah direvisi!...
...Happy reading!...
...***...
“Jordan, bagaimana mereka?” tanya Allard tiba-tiba.
“Sudah saya atasi, Tuan.”
“Bagus! Kau boleh keluar!”
“Jordan!” panggilnya ketika Jordan hampir membuka pintu.
“Iya, Tuan?”
“Apa mereka memiliki keluarga?”
“Gord dan Stevan, mereka memilik anak dan istri, Tuan.”
“Beri kebutuhan untuk anak dan istri itu sampai kedua manusia itu pulih!”
“Baik, Tuan!” ucap Jordan sedikit tersenyum, sang tuan bukanlah seorang pemimpin kejam.
Tentang Katryn, sejak terbangun dari tidurnya sekalipun tidak menyentuh makanan, dia hanya melamun dan menangis. Allard khawatir dengan kondisi sang gadis, ia terpaksa memberi obat tidur berdosis sangat rendah.
Di kamar Allard sana, Katryn sedang menyesuaikan cahaya yang masuk dari balik gorden. Kemudian, ia menyibak selimut tebal itu dan bangkit menuju balkon. Pemandangan kolam renang menyapa matanya, begitu indah dan sejuk untuk dilihat.
Tiga hari berada di sini, Katryn nyaman. Sedikit ia melupakan kejadian lalu, tetapi masih ada ketakutan jika ia bertemu lagi dengan pria gila itu. Sepertinya, Katryn harus berterima kasih pada pria penolong itu, dia telah berbaik hati memberi tumpangan dan ketenangan selama ia berada di rumah ini.
Katryn kembali masuk, ia akan membersihkan diri. Setelah itu, ia memberanikan diri keluar dari kamar tersebut. Namun, dia kebingungan di mana letak tangga. Kebetulan, ada seseorang pelayan yang baru saja keluar dari sebuah kamar di pojok sana, Katryn menanyakan pada pelayan tersebut.
“Mari saya tunjukkan, Nona!”
“Terima kasih,” ucapnya, lalu mengikuti pelayan tersebut yang menuntunnya ke ruang makan.
“Silakan, Nona. Tuan meminta Anda untuk makan siang terlebih dulu,” ucap pelayan tersebut dan pergi meninggalkan Katryn seorang diri.
Katryn yang ingin menanyakan keberadaan pemilik rumah ini mengurungkan niatnya. Menghela nafas perlahan, Katryn memilih memakan makanan di hadapannya. Matanya tak lepas mengagumi setiap desain yang ia lihat, modern dan sedikit campuran klasik. Dia jadi penasaran bagaimana bangunan lain yang ada di rumah ini, pasti sangat indah.
“Maaf, Nona. Apakah ada yang ingin Anda lagi?” tanya seseorang membuat Katryn menoleh seketika ke arah seorang tersebut.
“Ah, tidak ada. Terima kasih, tapi apakah aku boleh melihat-lihat rumah ini?”
“Tentu boleh, Nona!” balas pelayan itu tersenyum hangat.
“Oh, ya ... kenalkan aku Elena,” ucap Katryn memperkenalkan diri sambil menyodorkan tangannya.
“Saya Mila, kepala pelayan di sini!” Pelayan tersebut ragu ingin menyambut tangannya.
__ADS_1
“Tidak ada balasan untuk sambutan ini?” Buru-buru, pelayan itu membalas dan tersenyum kaku.
“Senang bertemu denganmu, Aunty!” ucap Katryn terkekeh melihat reaksi kaku wanita tua itu.
“Cukup Mila saja, Nona!”
“Baiklah, Mila...”
“Apakah Anda sudah selesai?” Katryn mengangguk dan berdiri.
Mila menemaninya berkeliling rumah megah ini, dan ia menjelaskan setiap keunikan di dalam ruang demi ruang. Ada satu keunikan yang Katryn temui di ruang musik, yaitu sebuah lukisan yang menampilkan seorang gadis tengah memainkan biola terpajang di antara lemari hias. Gadis tersebut hanya terlihat dari punggungnya, tidak memperlihat wajahnya. Lukisan tersebut dihias sedemikian rupa, seolah pemiliknya sengaja memperindah pinggiran lukisannya.
Mila kembali membawanya ke lantai dua. Katryn menemukan beberapa foto keluarga, ketika lebih memperhatikan satu foto, dadanya berdebar kencang. Seorang pria duduk di atas kursi jati, berpose sangat tampan dan terkesan seksi.
Mengapa Katryn merasa mengenal pria ini, padahal ia tidak pernah bertemu dengan pria itu? Jujur, Katryn tidak begitu mengingat wajah pria yang menolongnya malam itu, tetapi hatinya yakin bahwa pria itu adalah pria yang berada di dalam foto ini.
“Apakah dia tuan rumah ini?” tanya Katryn menunjuk foto itu pada Mila.
“Benar, Nona!”
“Dimana dia sekarang? Aku ingin menemuinya dan mengucapkan terima kasih,” ucap Katryn.
“Tuan sedang bekerja, Nona. Kemungkinan tuan akan pulang sore nanti,” balas Mila dan Katryn mengangguk paham.
“Mungkin Anda ingin ke taman?” tawar Mila.
“Boleh. Tapi ... apakah tuanmu tidak marah?”
“Tuanmu sangat baik,” pujinya.
Katryn mengikuti langkah Mila hingga ke taman belakang. Mila menunjukkan sebuah kolam kecil di balik tanaman, Katryn senang bukan main sebab teratai adalah bunga kesukaannya. Dan kolam itu penuh dengan teratai, mirip seperti kolam teratai miliknya di rumah dulu.
“Kolam teratai ini terhalang oleh tanaman itu, tapi aku suka! Sangat bagus!” komentarnya.
“Tuan Allard yang memintanya,” ucap Mila.
“Tuan Allard? Tuanmu bernama Tuan Allard?”
“Benar, Nona.”
“Nama yang bagus,” pujinya tersenyum.
“Apakah dia menyukai teratai?” Mila menggeleng dan menjawab,
“Tuan tidak, tetapi dia iya.”
“Tuan Allard menyukainya?” tanya Katryn sekali lagi tak mengerti ucapan ambigu Mila.
“Dia yang menyukainya,” jawab Mila. Malas menanyakan kembali keambiguan, Katryn hanya mengangguk.
__ADS_1
Sebenarnya dia penasaran, jarang sekali orang menumbuhkan teratai dan merawatnya dengan baik. Biasanya, Teratai tumbuh di tempat kotor dan bersemak. Hebatnya, dia terus memperlihatkan keindahannya!
Pada intinya, Katryn kagum dengan pria bernama Allard. Seorang pria pasti malas mengurus segala macam bunga, tetapi pria itu berpikir membuat kolam teratai, bersih dan terawat baik pula. Baiklah... kolam teratai ini menjadi spot favoritnya.
“Ehem!” seseorang berdehem dari arah belakang.
“Tuan,” ucap Mila menunduk sopan.
“Kau boleh kembali pada tugasmu, Mila!”
“Baik, Tuan!” ucap Mila dan pamit.
Katryn bertatap dengan mata biru milik Allard, tidak ada sepatah kata pun keluar dari bibir mereka. Tatapan Allard menyiratkan kerinduan yang ia tutupi di balik mata tajamnya, sedangkan Katryn mengernyit tanpa sadar. Dia tidak asing dengan mata sebiru laut itu!
“Aku suka mata biru milikmu!”
Tidak, Katryn tidak mengatakan secara langsung. Tetapi, kepalanya seperti mengingat kembali kalimat itu. Menunduk, Katryn memejamkan mata merasa kepalanya sakit tiba-tiba.
“Are you okey?” tanya Allard lembut.
“I am okey!”
“Tuan Allard!” ucap Katryn setelah menjawab pertanyaan Allard.
Allard menunggu perkataan gadisnya, dia memperhatikan setiap gerakan kecil yang Katryn lakukan. Sedangkan Katryn merasa berat melanjutkan ucapannya, pria di hadapannya ini mempunyai aura kuat dan tegas, sehingga Katryn tak berkutik dibuatnya. Ditambah lagi, tatapannya yang tajam membuat lawannya gentar menatap balik mata biru itu.
Katryn simpulkan, karakter yang ditampilkan Allard adalah cerminan dari seorang pemimpin, berwibawa, kuat, mungkin sedikit arogan. Orang seperti Allard ini sedikit sama dengan Earnest, posesif nan juga dingin terhadap sekitar.
“Jadi, kau mengetahui namaku, Amour?” ucap Allard pertama kali setelah keheningan lama terjadi.
“Amour?”
“Kau mengingat itu?” Katryn terdiam, lagi dan lagi ia seperti pernah mendengar kata itu.
“Siapa namamu?” tanya Allard tak tertarik.
“Elena,” jawabnya.
“Bukan, kau adalah Katryna Helena Vinson!” ucap Allard membantah.
Bola mata Katryn melebar, tak percaya pria ini tahu nama aslinya. Allard sendiri menikmati keterkejutan gadisnya, ia merekam dalam benaknya raut wajah Katryn yang menggemaskan.
“S—siapa kau sebenarnya?” tanyanya gugup.
“Menurutmu?” balasnya singkat.
“Anda salah, saya Elena, bukan nama yang Anda sebutkan tadi!” ujar Katryn meyakinkan dan Allard terkekeh.
“Jangan membodohi dirimu, Amour.”
__ADS_1
Setelah mengucapkannya, tak ada balasan dari Katryn. Mereka kembali bertatapan, menyampaikan semuanya lewat tatapan. Entah bagaimana, Katryn berani menatap mata biru itu dan candu untuk terus menatapnya.
“Welcome back to my word, Amour!” ucap Allard, lalu ia maju menghabiskan jarak antara mereka dan tanpa aba-aba ia mencium bibir Katryn lembut.