
...Telah direvisi!...
...Selamat membaca! Selamat menikmati!...
...-----...
Katryn dan Alessa berada di kamar tamu yang Alessa tempati di mansion ini. Mereka saling bertukar cerita, terlebih Katryn menceritakan tentang Allard dan apa yang ia temui di ruangan kemarin.
“Allard mengerikan, lebih mengerikan dari Earnest.” Alessa mengangguk paham.
“Kenapa hidupku selalu dihadapkan dengan pria semacam mereka?!” keluhnya.
“Takdir.” Katryn memutar mata kesal.
“Mereka berbeda. Allard tidak pernah menyakitimu, dia melindungimu!” ucap Alessa.
“Jika suatu hari dia menyakitiku? Kita tidak tahu apa yang terjadi ke depannya,” balas Katryn.
“Apa pun itu, Allard orang pertama yang menyelamatkanmu!”
“Alessa, apa kau bisa membantuku kabur?” Katryn menatap Alessa berharap.
“Tidak semudah itu, Katryna. Allard akan menemukanmu, bahkan organisasi besar sekali pun tidak berani berurusan dengan suamimu itu, apalagi aku!”sahut Alessa.
“Sebenarnya, apa yang membuat Allard begitu ditakuti?” tanya Katryn.
“Penguasa samudera ini,” ucap Alessa dengan istilah.
“Aku tidak mengerti.”
“Kau akan mengerti seiring berjalannya waktu dan apa yang kau lihat! Intinya dia bukan orang biasa,” jelas Alessa.
Selesai Alessa berucap, seseorang mengetuk pintu. Alessa mempersilakan orang tersebut masuk.
“Mrs Helbert,” panggil orang tersebut, dia adalah Selena. Wanita itu datang dengan beberapa orang di belakangnya membawa koper make up set full.
“Ada apa?” tanya Katryn tidak terdengar ramah.
“Mr. Helbert meminta saya mendandani Anda.”
“Untuk apa?”
“Saya kurang tahu, tuan hanya mengatakan itu saja.” Terpaksa Katryn menuruti.
Sebelum didandani, Katryn mandi terlebih dulu. Selama Selena mendandaninya, wanita tidak mengeluarkan suara sedikit pun, Katryn pun tidak berniat membuka percakapan. Paling Alessa yang sedari tadi amat ramah berbincang dengan Selena. Dandan-mendandani selesai, Selena mengeluarkan beberapa baju agar Katryn memilih langsung pakaian mana yang ia sukai.
“Allard yang memilih semua ini?” tanya Katryn.
“Benar, Nyonya!” ucap salah satu pelayan.
Terlintas di pikiran Katryn memakai pakaian lain, pilihan Allard semuanya tertutup atau kata lainnya sopan.
“Aku tidak suka satu pun!” ucapnya, Selena dan beberapa pelayan lain saling bertatapan.
__ADS_1
“Ryn, jangan macam-macam!” peringat Alessa mengetahui rencananya.
“Hanya satu macam!” balas Katryn, lalu meninggalkan kamar tersebut dan berjalan ke kamarnya.
Alessa mengikutinya dari belakang, tetapi hanya sampai pintu kamar, tidak berani memasuki wilayah yang Allard tentukan. Kamar yang Katryn tempati ini adalah kamar pribadi pria itu. Katryn di dalam sana sedang mematut dirinya pada kaca full. Senyum mengembang lebar, puas dengan dress merah di tubuhnya.
“Perfect!”
Selanjutnya, Katryn keluar dari kamar dan menemukan Alessa di depan pintu. Ada Selena dan beberapa pelayan juga di sana.
“Are you kidding me? Ini namanya kau memancing Allard,” sembur Alessa tak percaya, sebab pakaian Katryn lebih dari kata terbuka.
“Mungkin saja!”
“Katryn, ganti!” pinta Alessa.
“No way!”
“Dimana Allard?” tanya Katryn pada pelayan di belakang Selena.
“Tuan menunggu Anda di mobil, Nyonya.”
Katryn berjalan santai menuruni tangga, para penjaga terpaku menatap penampilan Katryn. Sesampai di halaman mansion, Katryn langsung memasuki mobil yang terparkir di sana. Katryn disambut tatapan tajam Allard, tetapi ia berpura-pura tidak menyadari.
“Ingin menjual diri, hm?” sarkas Allard tajam.
“Jalan!” perintah Allard pada sopir, mengabaikan perkataan Katryn.
Sepanjang perjalanan, keduanya diam. Allard gerah, ia sedikit melonggarkan dasi yang terasa mencengkeram lehernya. Sampai di tujuan, Allard turun dan membuka pintu bagian Katryn.
“Turun, *****!” ucap Allard kasar, Katryn menatapnya kesal.
“Yes, Jerk!”
Belum sampai Katryn berdiri secara sempurna menginjak bumi, Allard merangkul bahunya kuat. Pasrah, Katryn membiarkan Allard berlaku sesukanya.
Memasuki gedung, Allard mengubah tangannya memeluk pinggang Katryn posesif. Postur tubuh Allard yang besar dan tinggi, mampu menutupi tubuh kecil miliknya. Suasana pesta amat ramai, semua mata tertuju pada Allard yang membawa seorang wanita. Sebelumnya, Allard dikenal tidak pernah membawa wanita mana pun menghadiri pesta.
Katryn paham arti tatapan wanita-wanita di sini, ada yang meremahkan, ada juga yang secara terang-terang menatapnya tidak suka. Mereka berbisik-bisik sambil melirik ke arahnya, tetapi Katryn mengambil ilmu dari sikap Allard, yaitu bersikap cuek dengan memasang ekspresi datar.
Dua puluh menit berkeliling menemani Allard menghampiri rekan kerjanya, kaki Katryn rasanya ingin putus dikarenakan high heels ia kenakan cukup tinggi.
“Bisa aku duduk?” tanya Katryn akhirnya, kakinya pegal bukan main. Sedari awal datang, Allard memonopolinya ke sana kemari tanpa mengistirahatkan kakinya.
Kesal tidak ada jawaban, Katryn melepaskan tangan Allard di pinggangnya. Namun, Allard sangat sigap menahan.
“Senang bekerja sama dengan Anda, Sir!” ucap Allard mengakhir percakapan dengan pria berwajah Asia tersebut dan pamit undur diri.
Allard masih memeluk pinggang Katryn seraya berjalan ke arah meja yang disediakan khusus untuknya. Katryn bernafas lega sesaat, ia melepas high heels yang melekat di kakinya.
Meja ini jauh dari kerumunan manusia, jadi sedikit nyaman. Dahi Katryn mengerut saat seseorang menatapnya intens. Pria itu memperhatikan tubuh bagian atas Katryn yang memang terbuka lebar. Senyum pria itu memberikan sinyal bahwa ia tertarik dengan tubuh Katryn. Katryn berbalik bermaksud membelakangi pria kurang ajar itu, ia berhadapan langsung dengan Allard.
__ADS_1
“Senang mempertontonkan tubuhmu pada pria lain, Katryna?” Katryn menggeleng, tubuhnya merinding mendapati wajah datar Allard.
“Ikut aku!” ucap Allard menarik pergelangan tangannya kuat. Allard menyeretnya hingga toilet tanpa menggunakan alas kaki.
“Kau seperti wanita malam yang haus belaian!” cerca Allard.
“Jaga ucapanmu, Allard!” sahutnya marah.
“Jadi, kau menggunakan pakaian ini guna melawanku, bukan begitu?” tandas Allard, Katryn terdiam.
“Jawab aku!”tuntut Allard.
“Aku tidak suka diatur!” ucap Katryn.
Reaksi Allard tetap tenang. Detik kelima, Allard merobek baju Katryn dari belahan dada. Katryn terkejut bukan main, ia menutupi tubuhnya dengan cara menyilangkan kedua tangannya. Allard marah, pakaian Katryn ini membuatnya tidak tenang selama menghadiri pesta.
Pria hidung belang tiada hentinya menatap Katryn penuh minat seakan ingin menjadikan Katryn penghangat ranjangnya. Secepat kilat Allard menyudutkan Katryn dan menaikkan tangannya tepat di atas kepala. Nafasnya memburu akibat marah, tatapan menajam ke arah Katryn.
“Bukan dengan cara murahan seperti ini melawanku, Amour!” tegas Allard, lalu ciuman kasar Katryn dapatkan.
Ciuman ini lebih kasar dari yang pernah Katryn dapatkan sebelumnya. Bahkan Katryn kehabisan nafas pun, Allard tetap menyerangnya brutal.
...***...
Sebuah rumah kosong terpampang di mata Katryn, gelap dan menyeramkan. Katryn ketakutan, ia ingin pulang. Setelah peristiwa Allard merobek baju dan menciumnya brutal, pria itu membawanya ke tempat tanpa berpenghuni ini.
“Allard, tempat apa ini? Aku ingin pulang!” ucap Katryn mengutarakan keinginannya.
“Dimana Jordan?” tanya Allard pada seseorang di sana.
“Di ruangan bawah, Tuan.”
“Allard...” lirih Katryn, tetapi Allard masih mendiamkannya.
Saat ini Katryn mengenakan jas hitam milik Allard guna menutupi tubuhnya dan sobekan besar pada gaunnya. Pada sebuah ruangan Katryn mencium sesuatu yang tidak mengenakkan, anyir. Ia menutup mulutnya, bau itu menyengat kuat di indra penciuman siapa pun. Berbeda dengan Allard, pria itu tampak santai.
“Aku tidak mau masuk!” ucap Katryn mencegat langkah Allard.
“Ayo!” balas Allard menarik tangannya paksa.
Sungguh demi apa pun di dunia ini, Katryn rasanya ingin pingsan memandang yang ada di depan sana. Pegangannya terhadap lengan Allard semakin kencang, nafasnya memburu tak karuan. Di depan sana, pria itu—yang berada di pesta tadi—tergantung mengerikan. Katryn menolak tarikan Allard untuk lebih mendekat ke arah korban itu.
“Allard, tidak.” Katryn kalah, Allard ke sekian kalinya memaksa Katryn. Rasanya dia ingin muntah, darah memenuhi pria malang itu.
“Lawan perkataanku lagi, kau akan menemukan hal baru yang menyenangkan!” bisik Allard, Katryn menggeleng kuat.
“Kau jahat, kau iblis!” cicitnya, Allard hanya tersenyum miring.
“Aku tidak suka caramu melawanku, Katryna. Setiap perlawananmu, akan ada nyawa baru yang hilang! Camkan itu!” tegasnya.
Sesuatu terasa aneh di kaki Katryn, dia sedikit menunduk melihat apa yang ia pijak di bawah sana. Darah... Katryn memeluk Allard, menjerit pun rasanya Katryn tak mampu. Persendiannya kaku, Katryn linglung dengan kondisi saat ini. Akhirnya... Katryn jatuh pingsan. Allard membopong tubuh ringkih Katryna, ia keluar dari ruangan tersebut.
“Jordan, bereskan semuanya!” perintah Allard sebelum pergi meninggalkan rumah kosong itu.
__ADS_1