
...Telah direvisi...
...Selamat membaca! ...
...---...
“Keguguran?!”
“Sejak kapan Selena, hamil?” ucap Katryn tidak percaya pada dokter yang baru saja memeriksa Selena.
“Kehamilan Miss Selena menginjak minggu keempat, Nyonya.” Katryn menggeleng tidak percaya, Selena tidak mengatakan bahwa dia tengah hamil.
“Kalau begitu, saya permisi, Tuan, Nyonya.” Setelah menjelaskan semuanya, dokter tersebut pergi.
Selena dirawat untuk beberapa hari. Katryn menemani Selena, tetapi Allard melarang dan memaksa Katryn pulang.
“Akan ada yang menjaganya!” ucap Allard.
“Allard, dia tidak punya siapapun, dia butuh dukungan dari orang terdekatnya!” ucap Katryn tidak setuju dengan Allard.
“Allanzel membutuhkanmu!” balas Allard, ia malas berdebat dengan Katryn yang tengah dalam mode keras kepala.
Selena sadar, Katryn menyadari itu menghampirinya. Ia membantu Selena minum dan kembali membaringkan tubuhnya.
“Nyonya, maaf merepotkanmu...” ucap Selena tak enak.
“Oh, tidak. Kau tidak merepotkan sama sekali.” Jawab Katryn.
“Tidurlah lagi!” Sambung Katryn.
Selena hanya menatapnya, entah sadar atau tidak, Selena memegang perutnya. Katryn mengerti, wanita ini mempertanyakan kandungannya.
“Dia ... tidak selamat...” cicit Katryn. Dan Selena menangis terisak-risak.
Hari sudah gelap gulita, Katryn tertidur dipelukan Allard. Tubuhnya sakit tertidur di posisi duduk, ia memutuskan bangun. Matanya memandang Selena yang terjaga menatap langit kamar. Perlahan Katryn bangun, agar tidak mengusik Allard. Tapi sama saja, Allard sangat mudah terbangun, hanya saja dia tetap memejamkan matanya.
“Kau memikirkannya?” tanya Katryn pelan.
“Aku menyesal sempat berpikir untuk melenyapkannya,” ucap Selena lirih.
“Dan sekarang aku merindukannya. Meski, aku belum tahu wajahnya....”
“Selena ... boleh aku tahu siapa pria itu?” Selena menatap tepat di matanya.
“Keynand...” Katryn ternganga tak percaya. Pasalnya, Keynand akan menikah bulan depan. Dia mengira hubungan kedua insan ini hanya sebatas Keynand yang menyukai Selena, akan tetapi ini lebih rumit.
“Aku menggodanya.” Selena mengakuinya.
“Aku kalut. Rasaku terhadap father, tidak bisa hilang.” Katryn mengalihkan tatapannya pada Allard di sofa sana.
“Maafkan aku, Nyonya.”
__ADS_1
Katryn diam, ingin menyalahkan Selena rasanya tak layak, bagaimana pun rasa Selena kepada Allard bukanlah sesuatu kesalahan. Katryn tahu tidak mudah menghilangkan perasaan terhadap seseorang yang pernah menjadi miliknya. Apalagi, ketika cinta yang dimiliki itu adalah cinta yang berasal dari ketulisan hati. Itu akan berlipat-lipat lebih sulit.
“Kau tidak salah. Namun, caramu yang salah,” ujar Katryn.
“Tapi, Selena... jangan gunakan cara yang semakin menjerat perasaanmu.”
“Maafkan aku...” Selena terisak.
...***...
Katryna POV~
Tepat hari ini adalah hari kelahiran Allard yang ke 27 tahun. Aku ingin merayakannya karena Evelyn mengatakan, Allard tidak pernah mau merayakan ulang tahunnya. Bahkan, dulu ketika kami bermain bersama, Allard berat sekali memberitahu tanggal kelahirannya.
Sebenarnya, aku ragu untuk merayakannya. Seperti Evelyn katakan, Allard menginggalkan setiap perayaan ulang tahunnya diadakan oleh keluarga. Aku nekat, bagaimana reaksi Allard, biarlah nanti. Aku ingin sekali merayakan hari di mana ia dilahirkan, sekaligus hari pernikahan kami. Ya, meskipun sudah lewat beberapa hari yang lalu.
Aku meminta pada Alessa dan Selena membantu mendekor kamar kami. Aku tersenyum puas melihat dekoran di atas ranjang ‘Happy Anniversary and Happy Birthday, My Husband’.
Malam harinya, Allard pulang. Aku berdiri di depan pintu sambil memegang sebuah kue menunggu Allard membuka pintu. Tak lama, Allard membuka pintu.
“Happy anniversary and happy birthday, My Husband!”
Allard terdiam memandangku dalam. Secara bergantian ia memandang dekoran di atas ranjang. Kemudian, ia berjalan ke arahku, lalu mengecup bibirku.
“Happy anniversary, Amour!” ucapnya dan berlalu ke kamar mandi.
Seperti dugaanku, Allard tidak merespon ucapan selamat ulang tahun yang aku ucapkan. Aku meletakkan kue tersebut di atas meja rias dan berjalan ke arah box bayi, Allanzel tertidur pulas. Setelahnya aku membaringkan tubuhku di ranjang.
“Kau belum tidur!”
Aku membuka mata, wajah Allard pertama kali kulihat. Aku menahan dadanya agar tidak mendekat. Namun, dia dengan mudahnya menarikku ke dalam pelukannya.
“Marah, hm?” tanyanya datar, aku menggeleng.
“Aku kecewa.”
“Hal seperti itu, tidak perlu kau kecewakan!” ucapnya sangat gampang.
“Ya. Tidak perlu,” ucapku berniat menjauh.
Hal yang tidak kuduga, Allard menindihku dengan badan besarnya. Dia menahan setengah badannya, agar tidak menimpaku sepenuhnya.
“Kau tahu, aku tidak suka itu. Lalu, kenapa kau melakukannya?” ucapnya lirih, aku membuang wajah, malas menjawab pertanyaan. Allard selalu saja memiliki rahasia-rahasia lain yang tidak kuketahui.
Dengan kasar Allard memegang daguku dan mengarahkan wajahku untuk melihatnya. Dia mencium bibirku dengan rakus, sampai aku kewalahan menyeimbangi ciumannya.
“Beri aku alasan, kenapa kau tidak suka merayakan ulang tahunmu?” tanyaku dengan nafas terengah-engah akibat ciuman dahsyat itu. Dia tidak menjawab, tapi ia menciumku lebih kasar dan kuat. Sebelum melepas ciumannya, Allard mengigit bibirku.
Pria ini kembali berbuat kasar padaku, seperti yang pernah dia lakukan padaku dulu. Dia mengunci pergerakan tanganku di atas kepala, kembali mencium leherku dengan rakus. Tidak berhenti di situ, Allard menggodaku dengan sentuhannya.
“Allard, jika kau marah, bukan dengan cara seperti ini!” ucapku kesal.
__ADS_1
Katryna POV end~
Setelah malam panjang terlewati, Allard membanting tubuhnya di samping Katryn. Mengambil nafas sebanyak-banyaknya, lalu memeluk tubuh Katryn yang membelakanginya.
“Katryna, aku benci diingatkan kembali pada kejadian itu,” ucap Allard pelan seraya mengelus punggung Katryn lembut.
“Terakhir, aku merayakan ulang tahun ketika berumur enam tahun.”
“Di umur ketujuh, Nyle membawaku merayakan ulang tahun di panti penampungan anak. Setiap lilin itu padam, aku harus membantai habis kehidupan mereka.”
“Itu berlangsung selama lima tahun.” Katryn seketika membalikan badannya menghadap Allard. Dia menangkup wajah Allard dan menyatukan kening mereka.
“Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?” bisik Katryn.
“Berat menceritakannya. mom dan dad tidak mengetahui tentang itu...” bisik Allard.
...***...
Caroline berkunjung ke mansion Allard, kebetulan Evelyn dan Javier juga berada di sini. Pasangan ini sangat romantis menurut Katryn, sesekali mereka bercanda tawa dan duduk saling berpelukan. Katryn ikut senang melihatnya, setidaknya kebahagian Evelyn terlihat jelas di wajahnya.
Pandangan Katryn beralih pada Allard di sebelahnya, ia fokus menonton siaran berita. Jika dipikir, Allard jarang sekali menampakkan sisi romantisnya di depan banyak orang.
“Astaga, Javier!!” Suara Eve mengalihkan perhatian semua orang.
“Bermesraan di kamar, bukan di sini!” tegur Caroline, keduanya tertawa geli.
Katryn meminta izin ke kamar untuk menyusui Allanzel. Ini sudah waktunya Allanzel untuk menyusu. Benar saja, ketika memasuki kamar, Allanzel telah bergerak-gerak gelisah di box-nya. Katryn menggendong Allanzel, dan kemudian memberi asih.
Raut wajah Katryn berubah sendu, ia mengelus pipi Allanzel sayang. Ketika memikirkan Allanzel dewasa nanti, Katryn merasa tidak berdaya. Dia takut Allanzel seperti Allard yang akan membunuh orang-orang.
“Semoga Tuhan menyertai setiap langkahmu, Nak...” bisik Katryn meneteskan air mata.
Katryn sering merenung seorang diri memikirkan nasib Allanzel di masa depan. Tidak selamanya ia dan Allard sebagai orang tua ada untuk menjaga serta melindungi anak-anak mereka. Katryn berharap Allanzel memiliki kehidupan baik tanpa adanya pertumpahan darah.
Setengah jam berlalu, Allanzel telah selesai menyusu. Katryn beranjak dan membawa Allanzel bergabung dengan yang lainnya. Evelyn yang lebih dulu melihat kedatangan Katryn, melompat ke arah Katryn guna mengambil alih Allanzel ke dalam gendongannya. Allard langsung menatap sang adik tajam.
“Gendong Allanzel dengan baik!” Evelyn hanya tersenyum manis seolah tak merasa bersalah karena menggendong Allanzel yang hampir jatuh.
Allanzel memegang pipi Evelyn, kebiasaan Allanzel ketika digendong oleh seseorang. Sama seperti Allard sewaktu bayi, dan kesamaan lainnya adalah, Allanzel tidak suka digendong oleh Nyle, dia akan menangis kencang.
“Mom, bagaimana persiapan pernikahan Keynand?” tanya Katryn, Caroline menghela nafas.
“Keynand meminta pernikahannya dengan Lyla dibatalkan,” ucap Caroline.
“Kenapa?” tanya Katryn tegang.
“Entahlah, tiba-tiba dia membatalkannya.”
Katryn tahu sebab mengapa Keynand membatalkan pernikahan mereka, kemungkinan keynand tahu Selena mengandung anaknya. Seandainya Katryn mengatakan hal itu, apa yang akan terjadi? Nan pun, bukan ranah Katryn ikut campur.
...***...
__ADS_1