Psychopath & My Possessive Devil

Psychopath & My Possessive Devil
Chapter 37. Mi Amour


__ADS_3

...Telah direvisi! ...


...Selamat membaca! ...


...---...


Jam dua pagi, Allard dan Jordan masih berada di markas utama mengevaluasi tahanan. Benar-benar tidak ada tidur untuk Allard, kepalanya amat pusing saat ini.


“Jordan, aku serahkan padamu!” ucap Allard lelah.


“Baik, Tuan. Lebih baik Anda beristirahat,” ucap Jordan prihatin.


Allard mengangguk, ia berjalan keluar markas. Selena yang berada di luar markas bersama beberapa angggota menyapa Allard.


“Anda akan pulang, Father?”


“Ya. Bantu Jordan, dan setelahnya kau bisa pulang!” titahnya.


“Tuan, tidak apa-apa?”


“Ketahui tempatmu, Selena. Aku tidak suka kau bertanya seperti itu!” ucap Allard memasuki kemudi. Selena menatap sendu kepergin Allard.


Selama di perjalanan, Allard memijit keningnya. Kembali menarik ingatannya kemarin, Alessa menemuinya dan memakinya habis-habisan. Marah pun ia tidak bisa, Alessa benar. Allard memukul kemudi, ia merindukan Katryna-nya.


Allard memutar kemudi, kali ini ia mengikuti kata hatinya menemui sang istri. Ia berkendara dengan kencang agar cepat sampai di mansion utama keluarga Helbert. Sesampai di mansion, Allard turun tanpa mematikan mesin mobil.


Semua orang sudah tertidur, Allard berjalan ke kamar Katryn berada, tetapi tidak menemukan siapa pun. Ketika mencari ke kamar pribadinya juga tidak ada. Kemudian, Allard melangkah ke kamar Evelyn, akhirnya dia menemukan Katryn tertidur pulas.


Melihat Katryn di jarak sedekat ini mengobati kerinduannya. Tidak mau menganggu sang istri, Allard membaringkan tubuhnya di sofa kamar Evelyn dan matanya terpejam.


Evelyn terbangun sejam kemudian, kebiasannya yang suka bangun di jam segini. Sedikit trekejut keberadaan sang kakak di sofa. Walau begitu, senyumnya mengembang menatap kakak iparnya. Allard merindukan rumahnya, dan rumah Allard adalah Katryn.


Tidak tega melihat wajah kakak yang letih, Evelyn membangunkan sang kakak dan memintanya tidur di ranjang.


“Pindah, Kak. Aku tidur di kamar sebelah setelah ini,” ucap Evelyn.


Allard bangun, berpindah ke atas ranjang tanpa protes. Tubuhnya lelah sekali, matanya memarah. Evelyn melihat itu kasihan, sang kakak pasti belum mengistirahatkan tubuhnya.


Di ranjang sana Allard memeluk Katryn perlahan agar tidak membangunkannya. Allard mengelus perut Katryn yang membesar dari terakhir kali dia lihat. Hatinya memuncah bersentuhan dengan perut Katryn, dia menyayangi ibu dan calon anaknya ini.


“Daddy menyayangimu kalian,” bisiknya dan kembali ke alam mimpi.


...***...


Katryn merasakan sebuah tangan melingkar di perutnya, penasaran ia membuka mata dan menemukan Allard di sampingnya. Senyum tipis terlihat, ia suka ketika tangan ini berada di perutnya. Jam menunjukkan pukul sembilan, Katryn menyingkirkan tangan Allard, tetapi sang empu menahannya.


“Biarkan seperti ini sesaat,” pinta Allard serak.


“Awas.”


“Amour, aku merindukanmu.”


“Lepas. Aku lapar,” ucap Katryn ketus.


Allard melepaskan, hanya saja dia mengikuti langkah Katryn menuju kamar yang ia tempati di mansion ini. Katryn tersadar saat ia berbalik ingin menutup pintu.


“Kenapa mengikutiku?” sewotnya.


“Mengikuti istriku, tidak ada larangannya.” Katryn berdecih.


“Istri pertama maksudmu? Yang benar saja! Pergi!” usir Katryn terang-terangan.

__ADS_1


“Istriku hanya satu, dan itu kau.” Kenapa pria ini mengatakannya dengan sangat santai? Ah, Katryn menjadi kesal.


“Oh, ya? Kedepannya tidak!” balas Katryn dan berbalik, pintu ia biarkan saja terbuka. Allard pasti akan memaksa masuk jika Katryn larang.


Katryn sengaja berlama-lama di toilet, apalagi bukan menghindari Allard. Sekitar tiga puluh menit, Katryn selesai. Ia mengira Allard akan pergi, nyatanya tidak. Sekarang pria itu duduk di atas ranjang memangku album yang Katryn temukan tiga hari lalu.


“Jadi, kau menemukan album ini?” tanya Allard seraya mengangkat album tersebut, Katryn mengedikkan bahunya seolah tidak peduli.


Allard mendekati Katryn dan memegang kedua pundaknya. Katryn ingin menghindar, Allard dengan cepat meraup bibirnya. Tautan mereka terlepas, Allard memegang dagunya agar leluasa saling memandang. Katryn tentu tidak sanggup, ia memejam matanya kuat.


“Mi Amour...” bisik Allard membuat bulu kuduk Katryn berdiri.


“Dulu, kau sering memanggilku dengan sebutan amour. Apa kau juga memanggil wanita itu dengan sebutan yang sama?” tanya Katryn pelan masih dengan mata terpejam.


“Tidak, hanya satu wanita yang kusematkan, kau.”


“Kau mengingat semuanya, Amour?” Katryn mengangguk.


“Open your eyes, please.” Katryn tertegun mendengar kata di akhir itu, Allard sekali pun tidak pernah memohon. Katryn membuka kelopak matanya, mata mereka bertemu.


“Kau mengingatnya, jangan lagi meragukan hatiku,” ucap Allard.


“Tapi, kenapa kau melakukan ini padaku? Kenapa wanita itu ingin kau nikahi?” tanya Katryn menahan tangis. Allard mengusap pipi sang istri dan mengecupnya lama.


“Ayo, kau harus makan dulu. Setelahnya akan aku jelaskan,” ucap Allard lembut.


Katryn tanpa kata berjalan lebih dulu. Di lantai bawah berbagai makanan tersedia, Katryn makan dalam diam. Sedangkan Allard juga ikut sarapan bersama Katryn. Suara decitan kursi terdengar, Katryn bangkit dan berjalan menjauhi meja makan.


“Mommy dimana?” tanya Katryn pada salah satu pelayan.


“Nyonya di ruang keluarga, Nyonya.” Katryn mengangguk dan mengucapkan terima kasih.


Allard yang belum menyelesaikan sarapan meninggalkan makanannya. Ia melangkah mengikuti Katryn menaiki lift menuju ruang keluarga. Sesampai di ruang keluarga, Katryn menyapa Caroline dan Evelyn yang tengah berbincang.


“Rindu, Mom. Pagi hari dia tertidur di sofa kamarku,” ucap Evelyn.


“Bagaimana tidurmu? Tidak terbangun, kan?” Kini Caroline memfokuskan perhatiannya pada sang menantu.


“Tidak. Malam ini tidurku lebih baik dari sebelumnya,” balas Katryn.


“Bagaimana tidak nyenyak, Allard memelukmu.” Caroline tersenyum mendengar celetukkan sang putri.


“Dad dimana, Mom?” tanya Katryn.


“Tadi menerima telpon.” Katryn mengangguk.


Allard yang duduk di sampaing Katryn memperhatikan betapa luwesnya sang istri berbincang dengan sang ibu. Wanita ini tampak nyaman sambil memakan snack pada toples yang ia peluk.


“Kalian jadi keluar?” Evelyn mengangguk cepat dan bersemangat.


“Kemana?” Allard membuka suara tidak suka.


“Jalan-jalan,” jawab Evelyn.


“Katryn tidak boleh keluar,” ucap Allard.


“Tidak bisa begitu, Katryn sudah berjanji!”


“Aku sendiri yang membatalkannya. Katryn harus di sini, bersamaku!”


“Daddy... Allard tidak memberiku izin keluar bersama Katryn...” adu Evelyn bertepatan Fillbert memasuki ruang keluarga.

__ADS_1


“Beri mereka waktu. Kalian bisa berjalan-jalan besok,” ucap Fillbert menengahi.


“Allard, apa kau akan menikahi wanita itu?” Tiba-tiba Caroline bertanya, suasana menjadi hening.


“Aku akan menjelaskannya nanti. Biarkan aku menjelaskan ini terlebih dahulu pada istriku,” pinta Allard.


Selesai mengatakannya, Allard bangkit dan mengulurkan tangannya pada Katryn yang disambut ragu Katryn.


“Keluargamu juga berhak tahu lebih dulu. Jelaskan saja di sini,” ucap Katryn sebelum Allard menariknya menjauh dari keluarga mereka.


“Pergilah, Nak.” Fillbert tersenyum pada Katryn.


Pada akhirnya Allard membawa Katryn ke kamar pribadinya. Ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang, tubuhnya masih lelah sebenarnya. Dan Katryn duduk membelakangi Allard yang berbaring.


“Aku meminta maaf padamu, aku harus menikahi wanita itu.” Kalimat itu yang terucap pertama kali.


“Maka, ceraikan aku!” ucap Katryn alih-alih bertanya kenapa.


“Katryna, aku tidak suka kau berkata seperti itu!” balas Allard menatap punggung Katryn tajam.


“Aku mengerti perasaanmu. Tetapi, semua ini aku lakukan agar kau dan anak kita aman,” sambungnya.


“Kenapa? Apa alasannya?” tanya Katryn memegang ujung ranjang kuat.


Allard mendudukan dirinya, lalu memeluk Katryn dari belakang. Dagunya tertumpu pada bahu Katryn, sejenak ia menghirup aroma rambut Katryn dengan mata terpejam.


“Musuhku mengetahui keberadaanmu. Mereka tahu kau berharga untukku, Amour. Orang-orang harus tahu bahwa kelemahanku bukanlah kau, melainkan Tania,” ucap Allard.


“Allard, kau mengorbankan wanita itu...” lirih Katryn.


“Ya. Asal bukan kau,” jawab Allard.


“Tidak, tidak seperti itu. Bagaimana nantinya wanita itu mati?” tanya Katryn pelan.


“Jordan akan melindunginya, kau tenang saja...”


“Lalu, apa kau yakin mereka akan beranggapan bahwa rencanamu adalah kebenaran? Beberapa kali kau membawaku ke acara relasimu, apa kau yakin?”


“Mereka akan percaya.” Kecuali seseorang yang memboncorkan rencanaku, batin Allard.


“Baiklah. Tetapi, jika kau tetap menikahi wanita itu, aku ingin kita bercerai!” ucap Katryn.


“Stop mengatakan cerai, Katryna. Kau milikku dan aku milkku, tidak ada yang bisa berubah tentang itu!” Katryn menghela nafas, tubuhnya ia sandarkan sepenuh pada dada bidang Allard.


“Bisa saja wanita itu mendapatkan dirimu sepenuhnya, hatimu, cintamu, dan kepemilikanmu.”


“Tidak akan pernah!” ucap Allard tegas dan serius.


“Jangan sampai ini menjadi boomerang untukmu dan juga anakku.”


“Dia anakku juga! Jangan mengatakan seolah dia hanya anakmu saja!”


“Allard, aku mencintaimu,” ucap Katryn membuang rasa gengsinya.


Allard terperangah mendengar ungkapan Katryn, senyumnya mengembang lebar dan hatinya memuncah tak karuan. Sekali tarikan, Katryn saat ini berada di atas tubuhnya.


“Katakan sekali.”


“Allard, aku hamil!” ucap Katryn berteriak, takut perutnya tergencet.


“Maaf,” ucap Allard dan langsung membaringkan Katryn di sampingnya. Dengan lihai dia mengangkat kepala Katryn agar berbaring di langannya.

__ADS_1


“Kau milikku. Tidak ada satu orang pun yang bisa memilikimu, kecuali aku!” bisik Allard.


__ADS_2