Psychopath & My Possessive Devil

Psychopath & My Possessive Devil
85# Katryna on Action


__ADS_3

...Telah direvisi!...


...---...


Katryna memandang kolam Teratai dengan kosong, pikirannya berkecamuk memikirkan semua tentang perilaku Allard kepada Selena, begitu manis dan perhatian. Hatinya tidak dapat berbohong, ia tidak nyaman dengan kebaikan Allard pada Selena. Katryn tahu betul Selena sedang memanfaatkan keadaan untuk menarik perhatian suaminya.


Sudah cukup permainanmu, Selena! batinnya.


Senyuman sinis penuh tekad terpantri di wajah Katryn, sebuah rencana sudah tersusun di otaknya. Kali ini Katryn akan melakukan sesuatu agar Selena sadar, bahwa Allard adalah miliknya. Langkah pertama, Katryn mengirim pesan pada Jeff berisi:


[Hubungi semua keluargaku dan keluarga Helbert, katakan seperti yang pernah aku katakan kemarin.]


^^^[Baik, Mother.]^^^


Setelah mendapat balasan dari Jeff, Katryn melihat Selena berjalan bersama Allard, mereka pasti dari kandang peliharaan Allard. Pandangan Katryn dan Allard bertemu, namun Katryn tersenyum sinis dan berbalik meninggalkan mereka yang terlihat ingin mendekat ke arahnya.


...***...


Tawa Allanzel begitu menghangatkan untuk Katryn, melihat putra kecilnya begitu gembira, cukup membuat Katryn senang dan melupakan kegundahannya.


“Mommyy... daddaaa...” oceh Allanzel.


“Iya, Sayang.” Katryn mencium gemas Allanzel, bayi ini hanya tertawa senang. Sampai akhirnya Allanzel menunjuk satu arah sambil berucap,


“Dadaa!” Katryn hanya terdiam menatap permadani lembut yang sedang ia duduki. Posisi Katryn membelakangi apa yang ditunjuk Allanzel, namun tanpa melihat Katryn tahu siapa yang putranya panggil.


“Amour!”


“Don’t call like that!” –Jangan panggil seperti itu!- Katryn berteriak keras.


Allanzel yang antusias melihat sang ayah, terdiam ketika bentakan itu. Katryn memejamkan matanya, ini yang tidak dia ingin. Emosi yang menguasainya akibat Allard datang tiba-tiba setelah memberi perhatian pada betina itu.


“Bisa tidak membentak dihadapan putra kita, Katryna?!” Allard menatap tajam punggungnya.


“Jeff, bawa Allanzel! Aku ingin berbicara dengan istriku!” ucap Allard tegas. Jeff membawa Allanzel ke dalam gendongannya, dan membawa Allanzel menjauh dari majikannya.


“Kau ingin menanyakan, kenapa aku menghindar, bukan?!” Tembak Katryn tepat sasaran.


Allard menghela nafas, dia berjalan mendekat ke arah Katryn dan mendudukan dirinya tepat dihadapan Katryn. Katryn mengangkat dagunya berani, dan tersenyum penuh kesinisan. Mata Allard memicing, senyum Katryn itu terlihat lagi, sangat mengesalkan dipandangannya.


“Kau tahu dengan sangat-sangat jelas, Hellbert!” ucap Katryn menekan setiap katanya.


“Akan sangat lebih baik, kau menikah dengannya dan ceraikan aku!” Katryn berkata datar.


“Kau menentangku, Katryna?!” Allard memicing matanya tidak suka.


“Ya! Karna aku tidak peduli dengan apapun lagi, Helbert!”


“Sekalipun kau membunuhku, aku tidak takut!”


“Katryna! Kau sadar dengan apa yang kau katakan, ha?!!” Allard menatap tajam Katryn, jelas dia tidak suka dengan perkataan Katryn.


Katryn tertawa sinis. Sejenak ia menunduk, lalu kembali menatap Allard penuh keberanian.


“Kau tahu apa yang aku katakan padamu bulan lalu, Helbert?”


“Semakin kau memberi perhatianmu pada betina itu, semakin pula hatiku goyah padamu! Dan itu terjadi sekarang!”


“Katryna, dia seperti adikku, sama seperti Evelyn.” Allard berucap tenang.

__ADS_1


“Cukup dengan kebaikanmu padanya, Helbert! Dia memanfaatkan semua kebaikanmu!”


“Katryna...”


“Cukup! Percuma kita berbicara seperti ini, tidak akan ada ujungnya!”


“Seberapa banyak aku mengatakannya padamu. Tetap saja, karna hatimu sedikit terbuka untuknya!” Suara semakin melemah di akhir kalimat.


Allard memejamkan matanya, hatinya sakit mendengar ucapan itu. Itu benar, akan tetapi Allard selalu menolak itu, ia berusaha menjaga hatinya untuk sang istri. Dia tidak menginginkan ini, walaupun begitu Allard tak bisa mengelak. Ya, sedikit sayangnya pada Selena menjadi boomerang untuk hubungan mereka.


Entah sejak kapan linangan air mata di wajah sang istri, dada Allard diremas kuat melihat itu.


“Kau memang berengsek!” makinya pada dirinya.


“Helbert, aku menyerah!” Katryn berkata lirih, Allard menggeleng tidak terima.


“Kau tidak boleh menyerah, Amour!”


“Kau yang menyakitiku lebih dulu, Helbert! Ingat perkataan dulu? Aku bertahan, asal jangan ada wanita lain,” ucap Katryn lirih. Allard meraup wajahnya, frustasi dengan perkataan Katryn. Kenapa dirinya begitu bodoh, membiarkan semuanya begitu saja.


“Katryna, maaf. Aku bersumpah, wanita yang aku cintai hanya kau.”


“Aku mohon, jangan menyerah. Tunggu sebentar lagi, aku mohon.” Allard berkata dengan memohon.


“Apa yang kau tunggu sebenarnya? Memastikan hatimu untuk kedua kalinya?” Katryn tersenyum saat Allard diam.


“Berapa kali aku harus menunggu? Nyatanya, rasamu tetap ada!”


“Baiklah. Aku akan membuat dirimu sadar, siapa betina itu sebenarnya!” Terakhir, Katryn beranjak dan meninggalkan Allard seperti yang sudah-sudah.


Keterdiaman Katryn selama ini adalah peringatan untuknya. Tapi, Allard seakan tidak mengerti dengan semua sikap Katryn. Memang, Katryn tidak pernah membahas hal Selena, terakhir saat di markas beberapa minggu yang lalu.


...***...


[Semua sudah berkumpul di ruang keluarga, Mother.]


[Ok.]


Katryn sengaja tidak turun setelah mendapatkan pesan itu. Dia menunggu Allanzel tertidur lebih dulu. Tak berapa lama, Allanzel tertidur pulas. Katryn tetap pada posisinya. Dua puluh menit kemudian, Katryn pelan-pelan bangun agar tidak membangun Allanzel. Sebelum turun, Karyn menghubungi Jeff untuk meminta Mila menjaga sang putra.


Sesampainya di ruang keluarga, Katryn mendengar kemarahan Marcell. Katryn tersenyum, dia merindukan adik tersayangnya itu.


“Selamat malam semuanya!” sapa Katryn tersenyum manis.


Baru saja dia menyelesaikan perkataanya, Allard menatap penuh kemarahan. Tidak terpengaruh, dia berjalan mendudukkan dirinya di samping Allard dengan anggun.


“Sepertinya, perdebatan kalian sangat seru!” komentarnya. Pandangan matanya menatap Marcell yang menatap Allard tajam, seperti ingin membunuh.


“Ceraikan pria itu!” seru Marchell.


“Tenanglah, Marcell...” ucap Katryn lembut.


“Tidak, ceraikan dia, dan kau akan tinggal bersamaku dan mama!”


“Diam, Marcell! Dia akan selamanya menjadi istriku!” ucap Allard berteriak, sangat jelas dia membenci Marcell berkata seperti itu. Lalu, Allard menatap Katryn tajam. Sungguh dia tidak menyangka Katryn melakukan hal ini. Semua orang tahu akan masalah ini, termasuk orangtua mereka.


“Bisa kau jelaskan semuanya, Mrs Helbert?!” Allard menahan emosinya.


“Benar, bukan? Kau menghamili Selena?!” Katryn memasang mimik tidak berdosa.

__ADS_1


“Amour, kau tahu semuanya. Kenapa kau mengatakan kebalikannya?!”geram Allard tertahan.


“Bukankah itu salahmu? Kenapa tidak memberitahu semua orang? Kenapa kau selalu menundanya?” Katryn bertanya bertubi-tubi. Semua yang berada di ruangan ini terdiam mendengar perdebatan sepasang suami-istri ini.


“Kau sengaja melakukan ini?”


“Ya, aku sengaja!”jawab Katryn berani.


“Bukankah semua keluarga harus mengetahui hal ini, Helbert?” Katryn berkata seolah tidak peduli.


“Aku tidak terima kau mengatakan kebalikannya, Katryna!” balas Alard datar.


“Aku hanya mengatakan, seperti apa yang orang-orang asumsikan.”


“Kau istriku, bukan orang lain. Kau tahu semua kebenarannya!” Katryn menatap semua orang yang meminta penjelasan.


“Baiklah, bisa kau jelaskan kenapa kau menunda mengatakan semua kebenarannya pada semua orang?” Allard terdiam, memejamkan matanya lelah.


“Karena betina itu, bukan?” ucap Katryn, lalu menatap Selena penuh kedataran.


“Benar begitu, Selena?” Yang ditanya, hanya menunduk tidak berani menatap balik.


“Katryna, apa yang sedang kau rencanakan?” tanya Allard berbisik.


“Selena, katakan semuanya!” perintah Katryn tegas.


“Katakan!” Suara Katryn naik satu oktaf.


“Anak ini ... anak Tuan Keynand,” ucap Selena takut merasakan aura yang tidak menyenangkan dari Katryn.


“Katakan pada tuanmu ini, yang sangat kau hormati dan yang kau cintai ini!” ucap Katryn sambil menunjuk Allard dengan matanya. Selena menunduk, malu dengan perkataan Katryn di hadapan semua orang.


“Tidak masalah kau tidak mengatakan. Bayi itu akan mati di tanganku!” Katryn berucap tanpa perasaan, semua orang menatap Katryn tidak percaya, termasuk Allard.


“Tapi, tenang saja. Bayimu akan mati di tanganku!” katryn berkata tanpa perasaan.


“Se―se―m―mua yang aku katakan―adalah kebohongan...” ucap Selena pelan.


“Apa maksudmu?” Tanya Allard.


“Aku tidak disekap oleh seseorang. Aku sengaja mengatakan itu agar bisa dekat denganmu, Father.” Selena menunduk takut dengan berlinang air mata.


Allard menatap Selena penuh kebencian. Jadi, selama ini Selena membohonginya, pantas saja sangat susah mendapatkan semua titik terangnya, ditambah Selena menutupi pelakunya. Dari awal pun memang Allard sengaja tidak mengatakan apapun. Katryn tahu itu, Allard akan mengatakannya nanti ketika semua mendapatkan titik terang, namun Katryn merasa muak dengan drama yang diciptakan Selena.


“Ini yang akau katakan padamu, Helbert. Kebaikanmu, dimanfaatkan!” Katryn berucap tepat di telinga Allard.


“Kau memang wanita ******, Selena! Apa kau juga merayu saudaraku?” Keynand bersuara datar


“Tidak.”


Tanpa di sangka, Allard bangkit dan ingin menyerang Selena. Dengan cepat Katryn menahan Allard. Katryn tahu akan seperti ini, Allard sangat tidak menyukai kebohongan dan pengkhianatan. Kenapa Katryn melakukan ini? Karena Katryn sudah cukup diam dan memberi peringatan pada Selena untuk menghentikan semua permainannya.


Kesabaran Katryn diuji Selena, wanita itu semakin berani memonopoli Allard. Lagipula, dia tidak ingin Allard semakin menjatuhkan hatinya pada Selena, dan berakhir hubungan mereka kandas. Ini juga salahnya yang terkesan membiarkan.


Saat itu, Jeff menemuinya dan memberikan sebuah cincin berukir nama Selena dan Allard. Katryn menanyakan langsung pada Keynand saat itu, dan Keynand mengatakan itu adalah cincin tunangan Allard dan Selena dulu.


Pertanyannya adalah, siapa pemilik cincin ini? Keynand mengatakan, Allard sudah membuang cincinnya. Hanya satu kemungkinan, Selena. Dari sana Katryn meminta Jeff menyelidiki Selena secara diam-diam. Satu fakta, Selena aman-aman saja selama berada di Swiss.


“Di sini kau yang terlalu bodoh, Helbert!” komentar Fillbert santai.

__ADS_1


“Sekecil itu saja tidak bisa kau ketahui. Malah menantuku yang paling lihai menyelidiki kebenaran yang ada,” lanjut Fillbert. Allard menatap Fillbert datar. Tanpa banyak membuang waktu, Allard menarik Katryn dan membawa Katryn keluar dari mansion ini.


“Anak itu!” Geram Fillbert.


__ADS_2