Psychopath & My Possessive Devil

Psychopath & My Possessive Devil
Chapter 44. Meet Katryna Part 2


__ADS_3

...Telah direvisi!...


...----...


“Paman Jo, bagaimana ini?”


“Tenanglah, Nona. Jangan panik,” ucap Jordan.


“Bagaimana kau tidak panik, pria itu nekatnya luas biasa!” gerutu Alessa.


“Pasti Allard memberi petunjuk pada kita,” ucap Nick tenang.


“Dimana petunjuk itu?” tanya Aleesa sarkas.


Aleesa tak bisa tenang, dia ingin masuk ke dalam rumah tersebut. Namun, di tahan oleh Nick. Lama mereka berdebat, Anggelo menghampiri mereka.


“Paman jo, apa kau mengetahui rencana Allard?”


“Jika kami tahu, apakah kau ingin membongkarnya pada bosmu?” ucap Nick sarkas.


“Tidak berniat membongkarnya, sedikitpun!” balas Anggelo lebih sarkas.


“Oh, ya? Lalu, kenapa kau menjadi pengkhianat?”


“Lalu, kenapa kau berada disini, seolah sebagai pahlawan. Tapi nyatanya, kau juga ingin menjatuhkan Allard!”


“Setidaknya, aku bukan seorang pengkhianat!”


“Cukup!” teriak Aleesa jengah.


“Kalian berdua sama-sama pengkhianat!” Ucap Aleesa kesal, menatap keduanya tajam.


Bagaimana tidak kesal, di keadaan genting seperti ini, mereka masih sempat berdebat. Aleesa memutar kembali pikirannya saat bersama Allard. Apakah ada sebuah petunjuk, dari semua ini.


“Aish, pria itu tidak memberikan petunjuk apapun!” batinnya menggerutu.


“Anggelo. Apa yang sedang terjadi di dalam sana?” tanya Aleesa.


“Allard berhadapan langsung dengan mereka,” ucap Anggelo menjelaskan keadaan di dalam sana.


“Dia tidak memberi petunjuk sedikit pun?” tanya Anggelo, Aleesa menggeleng.


“Paman Jo?” Alessa menatap Jordan penuh harap, Jordan menggeleng.


“Tuan tidak mengatakan apapun.”


Dari arah belakang Aleesa dan Nick, seseorang mendatangi mereka dengan cara yang tenang. Anggelo memicingkan matanya, pria ini baru kali ini ia lihat. Alessa yang sadar reaksi Anggelo berbalik, was-was jika manusia ini adalah salah satu anak buah Dagoberto.


“Ibra, kau diperintah tuan kemari?” Jordan pertama kali membuka suara.


“Benar, Tuan. Saya diperintahkan father untuk memberi beberapa arahan,” ucap Ibra tenang.


“Oh, thanks god!” ucap Alessa lega.

__ADS_1


“Baiklah. Kalian harus waspada, penjaga disini tidak akan segan-segan mengeluarkan senjata mereka!” Peringat Anggelo lalu, pergi.


“Aku tidak yakin dengan pria itu,” ucap Nick, memandang kepergian Anggelo.


“Aku juga tak yakin kau hanya berada di pihak Allard,” balas Aleesa ketus.


“Kau selalu membelanya!”debat Nick.


“Karena di sahabatku!”geram Alessa.


“Cih, bersahabat katamu? Bertemu saja baru sekali!”dengus Nick.


“Ada masalah, Tuan Fernand Terhormat?! Atau kau cemburu?!” ucap Aleesa memandang mata Nick sebal.


“Tutup mulutmu sekarang juga, sebelum aku merobeknya!” peringat Alessa.


“Oh! Cukup dengan ciuman saja, maka aku akan menutup mulutku!” balas Nick santai. Alessa benar-benar melakukan, dia mencium bibir Nick dan memberi tamparan keras di bibir itu. Reaksi Nick terlihat santai dengan senyum bodohnya.


“Jelaskan!” titah Aleesa pada Ibra.


Ibra menjelaskan arahan tersebut, sangat jelas Allard sengaja mengumpankan dirinya. Untuk membuat perhatian mereka tertuju padanya, lalu pasukan Allard sedikit mudah masuk ke rumah tersebut.


“Di sini cctv-nya berfungsi semua?” tanya Alessa.


“Ya. Saya sudah meretas beberapa cctv agar jalan yang kita lewati tidak diketahui mereka,” jelas Ibra.


“Oke. Kita masuk sekarang,” ucap Aleesa. Ibra mengangguk dan Nick hanya menatap Aleesa takjub.


“Ayo, Paman!” ajak Alessa pada Jordan menghiraukan Nick.


“Nona dan Tuan. Ikuti permainan saya,” ucap Ibra.


Sebelum Aleesa menanyakan apa permainan itu, Ibra membuka pintu rumah tersebut. Terdapat banyak orang yang sedang duduk disana.


“Lendri, siapa yang kau bawa itu?” Tanya salah satu orang disana.


“Tawanan!”


“Anak buah Helbert?”


“Ya.”


Aleesa menunduk, jantungnya berdegup kencang. Dalam hati, Alessa memaki pria di hadapannya ini. Apa dia tidak tahu, Aleesa pernah disekap di rumah ini, Jordan sebagai tangan kanan Allard yang pasti cukup dikenal di kalangan mereka dan Nick pernah menyelamatkannya pun pernah menginjak kaki di tempat bangsat ini. Kemungkinan besar mereka mengetahuinya. Namun, dia menghela nafas lega, ketika mereka sudah jauh dari ruangan tersebut.


“Mereka tidak mengenali kita?” tanya Nick heran.


“Mereka tengah mabuk,” ucap Ibra.


“Paman, perkiraanmu apakah kita akan kalah jumlah?” tanya Alessa serius.


“Tidak, orangku menahan pasukan mereka di pemukiman itu agar jumlah kita lebih mendominasi,” jawab Jordan. Pria ini hanya berbicara ketika ditanya, dia mengkhawatirkan tuan dan nyonya yang mungkin terdesak di dalam sana.


“Ayo, jangan berlama-lama di sini.” Jordan berucap dan berlalu.

__ADS_1


...***...


“Mati saja kau!”umpat Dagoberto.


“Sebelum aku mati, kau yang lebih dulu mati,”balas Allard santai.


“Kau menantangku?”


“Aku mengatakan kebenaran,”jawab Allard sama santainya.


“Tak usah banyak bicara! Serahkan semua kekayaanmu!”


“Sudah aku katakan berapa kali, lepaskan istriku terlebih dahulu.” Allard sangat santai menjawabnya. Mereka berada di ruangan tersebut kesal bukan main melihat ketenangannnya.


“Oke. Setelah kau menyerahkan kekayaanmu, aku akan melepaskan istrimu,” ucap Dagoberto.


“Penawaran menarik. Tapi, kau membodohi dirimu sendiri!”


Merasa tersindir dengan perkataan itu, Dagoberto berdiri menodongkan pistol kepadanya. Allard berdiri, lalu memandang sekekelingnya. Semua di ruangan ini berpihak pada Dagoberto, sedikit saja dia memberontak mereka tak akan segan melempar pisau atau menembakan pistol padanya.


“Siapa yag akan menolongmu? Tidak ada! Kau akan mati di tanganku!”


“Kau lihat dia,” tunjuk Dagoberto ke Anggelo.


“Sahabatmu sendiri menghianatimu dan dia tidak akan menolongmu,” sambungnya.


“Dia berkhianat, kenapa kau yang repot!” balas Allard santai, Dagoberto tertawa kencang.


“Aku senang tidak ada yang setia padamu.”


Allard menatap Anggelo lama, lalu matanya beralih pada Dagoberto. Pria ini salah, Anggelo berpihak padanya. Seketika Mr. Barala maju menodong pistol padanya. Pandangannya beralih kepada Mr. Yoland dengan gaya santainya dia tersenyum pada pria tua itu.


“Apa kabar dengan putri kesayangamu?”


“Kau bedebah! Kau menjual putriku!” maki Mr. Barala yang tidak kuasa menahan kekesalannya sedari tadi.


“Biarkan anakmu bersenang-senang dengan pria itu.”


“Kau!”


“Putri kesayanganmu itu penasaran dengan hal-hal kekerasan, Barala. Jangan mengurungnya di dalam sangkarmu,” ucap Allard menceramahi pria itu.


“Kau memang brengsek, Helbert! Kau membuat keluarga kami ketakutan,” ucap Mr. Zaccy.


“Karena kalian bermain-main denganku. Hanya peringatan bagi kalian, tapi sayangnya kalian tidak mengindahkan itu.”


“Maka, akan ada sedikit pembalasan yang sesungguhnya pada keluarga kalian,” ucap Allard, mereka yang berada di ruangan tersebut bergetar ketakutan. Allard tak main-main dengan ucapannya.


“Hubungi keluarga kalian, dan kalian akan tahu hadiah kecilku,” ucap Allard.


Mereka mengikuti perkataannya, dan benar saja. Anak buah Allard bergerak cepat sudah menyekap keluarga mereka. Allard tersenyum puas, mereka satu persatu mundur tak mau berurusan dengannya. Tertinggal Dagoberto, Anggelo dan Mr Thomp di sana bersamanya. Delepan orang yang bekerja sama, hanya tiga orang ini yang bertahan.


“Kau lihat Dagoberto? Mereka mementingkan keluarga. Tapi, kau?”remeh Allard.

__ADS_1


“Ah ya, aku lupa. Kau tidak memiliki keluarga, kau membunuh keluargamu sendiri demi kekuasaan,” ucap Allard, memancing kemarahan pria itu.


“Bawa wanita itu, kemari!” teriak Dagoberto marah.


__ADS_2