
...Telah direvisi! ...
...Selamat membaca! ...
...---...
“Amour...” Katryn tersentak mendengar panggilan Allard, kedua tangan pria itu melingkar di perut rampingnya.
“Sedang apa di sini?” tanya Allard.
“Tidak ada.”
“Kau memikirkan sesuatu,” tutur Allard. Katryn tetap diam, Allard bertindak aktif menciumi lekukan leher sang istri.
“Allard, no!” ucap Katryn menolak hisapan kuat di lehernya.
“Maka, katakan.”
“Siapa sebenarnya dirimu?” tanya Katryn.
“Suamimu,” ucap Allard memberi kecupan-kecupan kecil.
“Bukan itu. Maksudku, di luar dari itu.”
Allard menghentikan kecupannya beberapa detik. Kemudian melanjutkan hisapan kuat di leher sang istri. Kesal pertanyaan tidak dijawab, Katryn melepas paksa pelukan Allard. Lehernya sakit dihisap sebegitu kuat oleh Allard. Benar saja, lehernya penuh bercak merah. Allard yang melihat itu terkekeh senang dengan karya indahnya. Dia masih ingin membuat karyanya di semua tubuh Katryn.
“Jawab aku, siapa kau sebenarnya?” Katryn memaksa Allard berkata jujur.
“Kenapa kau begitu ingin tahu?” Allard bersidekap dada seraya menatap Katryn intens.
“Jawab, Allard. Bukan pertanyaan yang aku inginkan!”
“Mafia,” ucap Allard singkat.
“Dan psikopat!” seru Katryn menggebu-gebu.
“Aku tahu, tapi bukan itu! Kau tahu jawaban apa yang aku inginkan, Allard!” Allard diam, bukan karena dia tidak dapat membalas ucapan Katryn, tetapi mata Katryn yang berkaca-kaca.
“Mengapa ada begitu banyak lukisanku di ruanganmu?” tanya Katryn pada intinya.
“Bukannya kau sudah mengingatnya, Katryna?” Allard bertanya balik.
“Belum sepenuhnya,” ucap Katryn dan mendudukan diri di kursi rias. Allard bertopang lutut, menyamakan tinggi Katryn.
“Tidak perlu memaksa mengingatnya,” ucap Allard mengusap pipi Katryn.
“Aku ingin tahu.”
“Hai, jangan dipaksa. Biarkan ingatanmu mengalir perlahan,” ucap Allard, ia tahu Katryn memaksa ingatannya.
“Ingatanku lemah...” lirih Katryn.
“Ingatanmu hanya perlu diasah kembali,” ucap Allard.
Katryn memperhatikan setiap jengkal wajah Allard dengan seksama. Dia mengingat Allard, remaja dingin yang menjadi favorit Katryn. Tampan, datar, dan bersikap manis padanya. Tetapi, Katryn belum mengingat banyak tentang Allard.
“Aku mengingatmu. Kau dulu baik, tetapi sekarang kau brengsek!” ucap Katryn berani, Allard menaikkan sebelah alisnya.
“Kau banyak memakai wanita dan membunuhnya.”
“Masih ingin membahas topik itu, hm?”
“Tidak,” ucap Katryn cepat, menciut melihat raut wajah Allard yang seram.
__ADS_1
“Apa kau akan menyakitiku dan membunuhku?” tanya Katryn tidak dapat menahan pertanyaannya.
“Dan lagi, kau mau membahas topik ini berapa kali, hm?”
“Jawab saja!”
“Menyakitimu, berarti juga menyakiti diriku, Katryna.”
...***...
Entah bagaimana ceritanya, sepasang suami-istri berakhir di atas ranjang. Setelah percintaan mereka, kedua berbaring di atas ranjang dengan lengan Allard sebagai bantal. Mereka sama-sama memeluk satu sama lain, Allard mengelus rambut Katryn dan Katryn menenggelamkan wajahnya pada dada sang suami.
Mereka hanyut dalam pemikiran masing-masing. Satu pertanyaan yang sampai saat ini tidak bisa Katryn jawab. Mengetahui pekerjaan Allard di dunia gelap, mengapa Katryn tidak takut? Malah ia merasa terlindungi.
Jika disamakan, Allard dan Earnest adalah psikopat gila di balik wajah tampan yang mereka miliki. Pertama kali mengenal Earnest, pria itu baik dan ramah. Lama mengenal dan status mereka berubah, Earnest mulai posesif. Berbagai larangan pria itu katakan, sampai-sampai Katryn ingin keluar bersama teman-temannya pun harus disetujui oleh dia.
Dan yang begitu lekat di benaknya, Earnest pernah membunuh seorang laki-laki tepat di depan matanya. Alasannya karena pria itu menyukai Katryn. Bujuk rayu Earnest begitu kuat, sampai dia tidak menyadari jika Earnest memiliki istri. Katryn mengakui, dirinya bodoh!
Di saat itulah Katryn menginginkan hubungan mereka berakhir. Namun, di saat itu pula Earnest mulai menunjukkan taring dan kebengisannya. Menyakitinya secara fisik maupun mental. Puncaknya saat Earnest meminta Katryn menjadi istrinya, Katryn berontak dan merencanakan pelarian diri bersama keluarganya.
Berlari menjauh semakin menempatkan Katryn dalam kubangan dalam, di mana Earnest menjatuhkan usaha keluarga mereka pada titik kemiskinan. Saat itu dia keukeh tidak ingin menerima lamaran Earnest dan banyak masalah lainnya berdatangan karena ulah pria itu.
Karena tidak punya pilihan, Katryn menerima penawaran Earnest untuk tinggal di sebuah rumah yang Earnest berikan. Pilihan itu kembali membawa Katryn dan keluarga pada kondisi buruk. Tepat di depan matanya, untuk kedua kalinya... Katryn menyaksikan orang lain mati di tangan bajingan itu, dia adalah kembaran Katryn bernama Katlyna.
“Amour. Kau baik-baik saja?” tanya Allard. Katryn tanpa sadar meremas bahu Allard dengan tubuh gemetar.
“Hai, lihat aku...” pinta Allard dan Katryn mendonggak menatap Allard dengan mata yang basah.
“Mau menceritakannya padaku?” Allard seolah paham tanpa Katryn mengatakannya. Sungguh, Allard benci melihat tatapan kecewa dan marah di mata Katryn.
“Allard...” ucap Katryn serak.
“Yes, Amour.”
“Dia membunuh adikku,” sambung Katryn bergetar menahan tangis. Terjawab sudah pertanyaan Allard selama ini, Katlyna telah meninggal.
“Katryna... kuakui, aku kasar padamu. Tapi, untuk menyakitimu atau pun keluargamu, tidak pernah terlintas dipikiranku,”ungkap Allard.
“Maukah kau berjanji untuk tidak pernah menyakiti keluargaku?” pinta Katryn dengan perngharapan yang besar.
“Ya, aku berjanji.”
“Terima kasih,” ucap Katryn, Allard tersenyum dan memberi kecupan di dahinya.
“Kau ingin menemui mereka?” tawar Allard.
“Apa boleh?”
“Tentu, mereka juga merindukanmu.”
“Dimana mereka sekarang?”
“Itali.”
“Apa mereka aman? Earnest selalu mudah menemukan kami.”
“Tidak jika denganku,” ucap Allard datar.
Secepat kilat Katryn mendudukkan diri, tidak mempedulikan atasannya yang tidak berbusana. Lalu tanpa disangka, Katryn duduk tepat atas perut Allard. Jantung Allard berdebar kencang, kaget dengan keagresifan sang istrinya yang mendadak menggodanya. Jangan lupa kondisi Katryn polos berada di atasnya.
“Terima kasih banyak, Allard. Kau melindungi dan keluargaku,” ucap Katryn tulus. Lalu menundukkan tubuhnya demi mengecup bibir Allard. Apa Katryn tengah mempermainkannya?
Allard membalikan keadaannya, kini Katryn berada di bawah kendalinya. Sedikit menahan tubuhnya agar tidak menindih Katryn.
__ADS_1
“Kau ingin memancingku, hm?”
“Tidak. Aku hanya mengucapkan terima kasih,” ucap Katryn polos.
“Dasar penggoda licik.”
“Aku tidak menggodamu!” bantah Katryn yang benar adanya.
“Kau seperti bunglon yang berganti warna dengan mudahnya,” komentar Allard. Katryn merasa tonjolan keras di perutnya.
“Kurasa, kau salah paham. Aku senang kau menjaga keluargaku, dan maka dari itu aku bersikap berlebihan.”
“Degan cara menggodaku?”
“Aku tidak menggodamu.”
“Kau menggodaku!” bantah Allard tetap pada pendiriannya.
“Oke. Kalau begitu, maafkan aku ... aku ingin ke kamar mandi,” ucap Katryn ingin menyelesaikan percakapan mereka.
“Tidak akan. Tanggung jawab dengan perbuatanmu,” balas Allard geram.
“Allard, aku tidak-” ucapan Katryn terputus sebab Allard mencium bibirnya ganas.
...***...
Terbangun dari tidurnya Katryn kebingungan, secara ajaib dia berada di sebuah kamar jet pribadi. Terdapat pintu di sana, Katryn berjalan ke sana dan ternyata pintu keluar. Di kursi sana Allard tengah duduk dengan iPad di pangkuannya. Di hadapannya sebuah botol wine dan satu gelas kaca yang terisi wine.
Katryn duduk di kursi sebelah Allard, tangannya mengambil gelas Allard yang tinggal sedikit dan meneguknya habis. Allard memicingkan matanya, istrinya ini semakin hari semakin agresif. Tidak masalah sejujurnya, Allard menyukai tingkah Katryn ini, tetapi sisi keagresifan Katryn sama saja menggoda di matanya.
“Kenapa?” tanya Katryn gerah dilihat seintens itu.
“Keagresifanmu membuatku panas,” ucap Allard terus terang.
“Sungguh gilanya dirimu.” Allard tertawa kecil.
Katryn mengambil botol wine yang terletak di meja Allard dan menuangkannya ke dalam gelas.
“Kita akan kemana?” tanya Katryn, kemudian menyesap wine-nya. Allard menarik gelas tersebut setelah Katryn melepaskan bibirnya dari mulut gelas.
“Kau belum makan,” ucap Allard, dia tidak mempedulikan Katryn yang saat ini menatapnya kesal.
“Lalu?” Allard memanggil pramugari dan memerintahkan mereka menyiapkan sarapan untuk Katryn.
“Makan!” titahnya tidak ingin dibantah.
“Yes, Sir!” seru Katryn kencang. Allard menggeleng heran dengan sikap Katryn.
“Cocok seperti Bunglon,” komentar Allard.
Katryn menyelesaikan sarapannya cepat. Lalu, menatap Allard polos. Allard yang merasa ditatap, tidak mempedulikan. Dia tetap mengetikan sesuatu di iPad-nya.
"Kau belum menjawab pertanyaan. Kita akan kemana?" tanya Katryn.
“Coba ingat percakapan kemarin sore.” Katryn mengerutkan dahinya, berusaha mengingat percakapan mereka.
“Banyak, yang mana?”
“Masih muda saja kau sudah pelupa, apalagi tua nanti,” rutuk Allard malas.
“Secara tidak langsung, kau mengataiku ingatanku lemah!”
“Itali,” ucap Allard mengakhiri perdebatan.
__ADS_1
...***...