Psychopath & My Possessive Devil

Psychopath & My Possessive Devil
Chapter 58. Five Years Ago?


__ADS_3

...Telah direvisi!...


...Selamat membaca! ...


...---...


“Jika berpisah pun, tidak menutup kemungkinan musuh-musuhmu tidak mencelakaiku,” ucap Katryn. Saat ini mereka berbincang seputar masalah kemarin.


“Mereka mengenalku, dan kau yang mengenalkanku kepada publik. Menutupi atau menghindar percuma, aku telah memasuki duniamu yang rumit.”


“Terima kasih, Mi Amour**.”


“Tapi, untuk persyaratan itu ... apakah boleh nanti ketika aku siap?” tanyanya pelan.


“Persyaratan itu tidak akan terlaksana!”


“Maksudmu?”


“Tidak penting. Aku benci melihatmu tertekan!” Terdengar suara pintu diketuk, Katryn bangkit membuka pintu.


“Maaf, Nyonya. Keluarga Anda dan father menunggu di ruang keluarga,” ucap Selena.


“Aku akan turun.”


Katryn menutup pintu ketika Selena telah pergi. Dia mengatakan apa yang Selena sampaikan pada Allard. Mereka keluar dan berjalan ke ruang keluarga. Kamar yang mereka tempati saat ini berada di lantai satu, Allard sengaja memindahkan kamar mereka sementara waktu karena ia kasihan pada Katryn yang harus naik-turun tangga, memakai lift pun Katryn mual.


Sesampai di ruang keluarga, keduanya berbaur bersama keluarga mereka. Terlihat wajah kebahagian di dua keluarga ini, Katryn jadi teringat di saat dulu mereka bertetangga. Orang tua Katryn dan Allard saling mengenal dikarenakan keduanya. Awalnya, Katryn sering lewat di depan rumah Allard, entah untuk bemain di lapangan komplek atau bemain dengan anak seusia nya.


Suatu ketika, Katryn dan Alessa heran pada seorang anak laki-laki berusia tiga belas tahun yang lebih suka duduk di taman komplek bersama pengasuhnya. Ia berinsiatif menghampiri, anak laki-laki itu terkesan sombong dan pendiam. Katryn pada saat itu merasa sesuatu aneh menariknya untuk mengenal anak laki tampan ini.


Berbulan-bulan terlewat, Katryn sering menyapa walau Allard terkadang membalasnya jutek. Ketika anak-anak komplek bermain di taman tersebut, Allard hanya duduk memperhatikan. Tidak bohong, anak perempuan sepuluh tahun itu menarik perhatiannya. Allard kecil sering mengajak Katryn kecil ke rumahnya, di sanalah kedekatan keluarga semakin terjalin. Sampai beberapa tahun kemudian Allard beserta keluarga meninggalkan Indonesia dan juga Katryn.


“Setelah kalian pergi, Katryn suka sekali berdiri di depan gerbang menunggu pangerannya,” celetuk Thomas tertawa mengingat masa itu disambut tawa oleh lainnya.


“Kalian pindah kemana saat itu?” tanya Aleysia.


“Itali. Tidak banyak yang terjadi selama kami di sana, hanya menjalani kehidupan biasa,” ucap Caroline tersenyum tipis menutupi sesuatu. Katryn melihat itu tersadar, banyak yang tidak ia ketahui setelah Allard meninggalkan Indonesia dan alasan pria itu pergi tanpa penjelasan sebenarnya.


Katryn refleks melihat sebuah tangan mengelus perutnya, ternyata Aleesa pelakunya. Aleesa seperti orang bodoh tersenyum sambil berbicara pada anak dalam kandungannya.


“Sebentar lagi kamu lahir, jangan menyebalkan seperti ibumu, ya.”


“Jangan juga menyebalkan seperti ayahmu.”


“Sejauh yang terjadi, kau lah yang paling menyebalkan!” ucap Katryn tidak terima, Alessa tertawa. Dia tahu apa yang membuat Katryn marah padanya beberapa hari lalu, ia datang ke mansion ini tanpa wajah berdosa sedikit pun setelah menghilang begitu saja.


...***...


“Kenapa kau meninggalkan Indonesia?” tanya Katryn di saat Allard baru selesai berenang.


“Amour, bisakah sebelum bertanya, kau memberi aba-aba dulu?”


“Bukankah Tuan Allard tidak suka basa-basi?!” Katryn bertanya balik.


“Jika itu denganmu aku suka, bahkan posisi bercinta kau di atasku pun, aku suka!”


“Kau berlebihan!” protesnya menahan malu.


“Fakta!” ucap Allard, lalu meninggalkan area kolam renang. Katryn sebal Allard meninggalkannya. Padahal dia penasaran, apakah Allard meninggalkan negara tropis itu karena dirinya atau berhubungan dengan bisnis keluarga Helbert.


“Nyonya, Nona Alessa memanggil Anda.” Jordan datang memberitahu.

__ADS_1


“Ya, Paman.” Katryn berdiri dan berjalan memasuki mansion bersama Jordan.


“Silakan, Nyonya.” Katryn berkerut bingung, ia perlahan mendorong pintu ruang keluarga dan terdengar teriakan dari dalam,


“Happy Birthday, Mrs Helbert!!” Katryn menutup mulutnya kaget sekaligus senang. Tidak menyangka, keluarganya merayakan hari ulang tahunnya ke 22 tahun.


Katryn memeluk sang ibu pertama kali, ia menangis haru di dalam pelukan sang ibu. Kemudian, ia beralih pada sang ayah, Thomas membisikkan doa-doa baik di telinganya. Satu per satu Katryn mengucapkan terima pada semua orang, Alessa, Marchell, kedua orang tua Allard, Selena, Evelyn, dan Jordan.


“Happy birthday, Mi Amour...” bisik Allard tepat di depan wajahnya, lalu mengecup bibirnya.


“Terima kasih, Al. Aku menyayangimu,” balas Katryn. Allard mengulurkan sebuah kotak kecil, Katryn bingung.


“Apa ini?”


“Buka,” ujar Allard seraya menghapus jejak air mata di pipi cabi sang istri. Katryn membuka kotak tersebut, lagi-lagi Katryn terharu. Kotak itu berisi sebuah cincin bermutiara biru di atasnya, sangat indah.


“Tapi, ini?!” Ia mengangkat tangannya, menunjuk sebuah cincin pernikahan mereka.


“Kenakan dua-duanya,” ucap Allard.


“Mau aku pakaikan?” Katryn mengangguk antusias.


Allard mengambil cincin tersebut lalu, mengenakannya pada jari manis sang istri. Allard masih memegang tangan Katryn, ia mengambil sesuatu di kantong celana bahannya dan memasang sebuah gelang di pergelangan tangan wanitanya.


“Gelang?” Allard mengangguk.


“For my beautiful wife,” bisik Allard.


“Thank you, My Husband.”


“Anytime, Amour.”


“Oke, sekarang waktunya tiup lilin!” ucap Aleesa berteriak.


...***...


“Katryna, kau bukan anak SMA lagi!”tekan Allard.


“Ya. Tapi, kenapa harus berdua?!”


“Bodoh!” umpat Allard kesal. Katryn menampar pipi Allard yang mengatainya bodoh. Dengan santainya ia mengambil gaun itu dan memakai gaun tersebut di hadapan Allard.


“Kau gila?!”


“Kau menyuruhku memakainya, bukan?”


“Gunakan di walk in closet!”balas Allard.


“Apa salahnya?” Allard mengalah, Katryn benar-benar gila. Bagaimana tidak? Istrinya ini tidak memakai bra di balik kaos yang ia kenakan.


“Kau berhasil menggodaku!”


“Aku hebat, kan?” Allard memutar bola matanya malas.


Setelah memakai dress-nya, Katryn berjalan ke meja rias untuk mengambil lipstik bewarna merah terang. Dia membalikkan tubuh agar bisa melihat Allard. Lalu, memakai lipstik dengan gaya menggoda.


“Katryna! Jangan bermain-main!” ucap Allard tegas, Katryn terkekeh senang.


“Ayo, aku tidak sabar memesan es krim.”


Sesampainya di restoran bintang lima, Allard menuntun sang istri duduk di sebuah kursi. Allard menyewa ruangan vip dengan hiasan Teratai putih di setiap sudut ruangan.

__ADS_1


“Apa ini ide Alessa?” tanya Katryn memandang Teratai-teratai tersebut.


“Ide dari kepalaku sendiri!”


“Kau bisa romantis ternyata.”


“Hm.” Katryn tersenyum seraya mengedipkan matanya menggoda.


“Kau lihat apa yang terjadi nanti.”


“Aku menunggu,” balas Katryn.


Pelayan datang menyajikan beberapa makanan pembukaan. Setelah itu, menyajikan makanan inti dan terakhir makanan penutup. Katryn tersenyum cerah, makanan penutupnya adalah es krim.


“Aku meninggalkan Indonesia karena grandpa,” ucap Allard tiba-tiba. Katryn menghentikan pergerakannya yang ingin menyendok es krim.


“Grandpa meminta dad mengambil alih kembali organisasi gelap itu. Pada awalnya, dad menolak, dia tidak ingin berurusan dengan kejamnya dunia mafia.”


“Dad melepaskan gelarnya sebagai The Father of Hellbert dan membawa kami pergi. Selama empat tahun pelarian kami, semua baik-baik saja. Tetapi, grandpa sengaja membongkar identitas kami sehingga musuh mendekat. Aku dan Evelyn hampir tertangkap, mereka sangat mengincar nyawaku.” Katryn mendengar cerita Allard tanpa memotong atau bertanya.


“Tidak ada pilihan lain selain menyetujui permintaan grandpa, dad kembali menjadi pemimpin Klan Hellbert.”


“Boleh aku bertanya?” Katry bersuara ketika Allard menyelesaikan penjelasannya.


“Silakan.”


“Sejak kapan kau menggantikan gelar dad menjadi pemimpin?”


“Pada saat usiaku 21 tahun.”


“Kau mengatakan, kau tidak akan menemuiku lagi,”ingat Katryn.


“Karena aku kecewa dengan penolakanmu saat itu.”


“Aku bingung saat itu, aku tidak mengerti dengan perasaanku. Yang aku tahu, aku nyaman didekatmu,” ucap Katryn pelan.


“Lupakan tentang itu, sekarang kau sudah di sini bersamaku.”


“Ketika kau menemukanku di kafe itu, apakah sebuah kebetulan atau?” tanya Katryn.


“Kebetulan. Selama lima tahun, grandpa dan Earnest menghalangiku menemukan jejakmu.”


“Mereka bekerja sama?”


“Tidak. Mereka berjalan masing-masing, grandpa menutup akses agar aku tidak bisa bertemu denganmu.”


“Katamu tidak ingin menemuiku lagi, tapi kau mencari jejakku!” ketus Katryn, Allard mengedik bahunya seolah tak peduli.


Katryn mengulurkan setengah sendok es krim ke depan bibir Allard. Dengan senang hati, Allard menerimanya.


“Allard, lihat aku!” ucap Katryn dan Allard mematuhinya. Tawa Allard terdengar ketika Katryn dengan sengaja menjilat bibirnya menggoda. Di bawah sana kaki sang istri menggesek pangkal pahanya.


“Berusaha menggodaku, Mrs Helbert?” Allard menopang dagunya seraya menatap sang istri intens.


“Tidak!” ucap Katryn polos seraya menurunkan kakinya ke tempat semula.


“Dasar, Bunglon!” Katryn terkekeh.


“Allard...” ucap Katryn membalas tatapan Allard.


“Apa yang terjadi selama lima tahun itu?”

__ADS_1


...***...


__ADS_2