
...Telah direvisi!...
...---...
Allanzel menginjak umur setahun. Putra tampan mereka semakin bergerak lincah ke sana ke mari. Allanzel menunjukkan perkembangannya yang sangat bagus. Di umur setahun ini Allanzel sudah bisa berjalan walau sedikit agak tertatih.
"Anzel, jangan menganggu daddy-mu...” tegur Katryn lembut. Allanzel memandangnya dan tertawa lucu. Seakan mengerti, Allanzel menjawab dengan bahasa alien-nya.
Tidak berhenti disitu, Alanzel menepuk pipi Allard. Pada akhirnya Allard membuka matanya. Katryn tahu Allard mudah sekali terbangun, matanya memerah karena kurang beristirahat. Katryn tersenyum bahagia, kedua laki-laki tersayanganya itukini berada di posisi yang manis sekali. Allanzel telungkup di atas dada Allard, dan sang ayah mengelus kepala Allanzel. Prediksinya tak salah, Allanzel tertidur di atas dada Allard.
"Jam berapa?" tanya Allard.
"Sembilan." Katryn mengelus dahi Allard. Pasti pria ini sangat lelah akibat mengurus beberapa markas cabang yang diserang oleh musuh hingga pagi hari. Jujur saja, rasa resah dan ketakutan itu masih ada. Namun, Katryn berusaha mengusirnya.
"Kau ingin tidur lagi, hm?" Allard mengangguk.
"Biar Allanzel aku tidurkan di sampingmu," ucap Katryn.
"Tidak, biarkan saja. Dia akan bangun nanti," ucap Allard membuat Katryn terkekeh.
"Kau benar. Dia menyukai posisi itu," ucap Katryn.
Itu benar sekali, kejadian itu sudah terjadi beberapa hari belakangan ini. Allanzel sangat lengket dengan sang ayah, sangat suka berada dipelukan Allard.
"Tidurlah," ucap Katryn lembut. Allard kembali tertidur. Tak ingin menganggu, Katryn meninggalkan keduanya. Ia berencana memasak makanan untuk Allard, pasti nanti ketika bangun suaminya meminta makanan padanya.
...***...
Katryna tengah berada di ruang musik. Semenjak Allanzel berumur satu tahun, dia lebih banyak menghabiskan waktu di ruangan ini bersama Allanzel. Seperti sekarang, Allanzel berada di stroller baby melihatnya bermain biola. Bayi ini seperti antusias sekali melihatnya.
Katryn menikmati perannya sebagai seorang ibu, sangat menakjubkan dan mengesankan. Tiba-tiba Allanzel menangis kencang, Katryn hanya terkekeh. Ia menghampiri Allanzel, dan seketika tangis sang putra berhenti. Katryn menggeleng, itu sebagai bentuk protesnya karena bosen.
“Kau bosan, hm?” Katryn mencium pipi mungil Allanzel. Allanzel tertawa geli karena ciuman sang ibu. Katryn mengendong Allanzel dan membawanya keluar dari ruangan musik.
Mansion sangat sunyi sekali, sebagian besar penjaga sedang berada di markas utama. Ada masalah disana, data mereka telah dicuri seseorang dan juga masalah lainnya yang tidak Katryn ketahui. Allard masih sama, tidak banyak menceritakan masalah markas padanya. Padahal setahunya dari Caroline, pasangan father harus mengetahui semua permasalahan yang terjadi dalam Klan Hellbert.
Namun, Allard bungkam, bahkan memerintahkan Jeff untuk tutup mulut. Katryn pun tak mau memaksa, karena Allard mengatakan akan memberitahu nanti saat Allanzel sudah beranjak dewasa. Sekarang dia harus fokus saja pada Allanzel dan perkuliahannya.
Tiba di dapur, Katryn merasa Allanzel menghisap lehernya seperti sedang menyusu. Salah satu hal yang membuat Katryn gemas adalah, Allanzel sangat suka menumpu dagunya di bahu Katryn. Lalu, jika lapar akan menghisap apapun yang berdekatan dengan mulutnya.
“Lapar, hm?”
“Jeff, tolong jaga Allanzel sebentar,” ucap Katryn pada Jeff, yang sedari mengikutinya.
“Baik, **Mother**.” Katryn menyerahkan Allanzel kepada Jeff. Allanzel kecil itu, hanya diam di gendongan Jeff. Selagi Katryn berada dipandangannya, dia akan tenang.
Dengan cepat, Katryn membuat bubur bayi. Memang, Katryn akan membuat makanan untuk Allanzel langsung dari tangannya. Dia ingin memastikan sendiri makanan yang masuk untuk Allanzel adalah sehat. Beberapa bulan yang lalu, Allanzel sempat keracunan makanan. Entah bagaimana caranya itu bisa terjadi hingga membuat Allanzel muntah-muntah. Bukan Allard yang marah besar, tetapi Katryn.
__ADS_1
Selesai membuatnya, Katryn mengambil Allanzel dari gendongan Jeff. Kemudian, memberi makan Allanzel di taman belakang.
...***...
Tengah malam, Katryn terbangun karena rasa haus melanda tenggorokannya. Baru saja ingin melepaskan pelukkan Allard di perutnya, pria itu menahan pergerakannya.
“Al, aku haus.” Allard melepaskan, Katryn segera beranjak dan mengambil air putih yang tersedia di atas nakas.
Selesai melepas dahaga, Katryn kembali memaringkan tubuhnya dengan posisi miring menghadap Allard. Tangannya tanpa diminta mengelus pipi Allard hingga mata yang menatapnya sendu itu terpejam.
“Kau baru saja kembali?” Allard berdehem.
“Ingin bercerita?” Allard membuka matanya, kedua pasang mata itu saling bertatap cukup lama.
“Anggota klan tidak setuju aku melepas jabatanku.”
“Alasan kau melepas gelarmu karena?”
“Kau dan Allanzel.” Katryn menghela nafas, ia berharap Allard menjauh dari dunia mafia, tetapi tidak akan mudah pastinya.
“Pertanyaannya, apa dengan pengunduran dirimu, musuhmu juga akan mundur? Tidak, bukan?” tanya Katryn tak berani menatap mata sang suami.
“Katryna, jika nanti anak-anak kita menjadi korban karena pekerjaanku ini, apa kau akan meninggalkanku?” Katryn terdiam mendengar pertanyaan Allard.
“Kau akan meninggalkanku, bukan?” Allard menuntut jawaban.
“Allard, jujur aku tidak bisa menjawabnya.” Allard membuang pandangannnya, dan tanpa kata dia berbalik memunggungi Katryn.
“Jeff, tolong jaga Allanzel sebentar,” ucap Katryn.
“Baik, Mother.”
Katryn berjalan ke arah tangga menuju kamar, dia ingin melihat apakah Allard sudah bangun atau belum. Sesampai di kamar, Allard terlihat sedang merapikan tataan rambutnya.
“Kau ingin sarapan roti atau kopi saja?” tanya Katryn lembut.
“Aku sarapan di kantor,” jawab Allard datar sambil meraih dasi yang terletak di atas ranjang.
Katryn mengerutkan dahi, tidak biasanya Allard sarapan di kantor. Dia mendekati Allard, membantu menyimpulkan dasi.
“Maaf, untuk kemarin...” ucap Katryn pelan seraya fokus dengan simpulan dasi tersebut.
“Tentang pertanyaanmu tadi malam, aku tidak meninggalmu. Namun, siapa yang tahu kedepannya? Intinya, aku tidak ingin membuatmu berharap dengan ucapanku saat ini.”
“Pertanyaanku, apa kau meninggalkanku jikalau anak-anak kita mati terbunuh oleh musuhku?” tanya Allard memperjelas kalimatnya.
“Itu yang tidak bisa kau jawab, Katryna!” sambung Allard ketika Katryn diam tidak dapat menjawab.
__ADS_1
Katryn selesai menyimpukan dasi tersebut dengan sempurna. Dia menatap mata Allard beberapa detik dan memeluk tubuh Allard erat. Sejujurnya, jauh dilubuk hatinya terdalam, ada keinginan untuk terbebas dari segala kehidupannya sekarang. Katryn bertahan karena kasih cintanya pada Allard, dan terbesar adalah putra mereka. Untuk sekarang dia bisa menjawab tidak, tetapi kedepannya? Katryn tidak tahu!
“Pergilah dari sekarang, Katryna...” ucap Allard lirih.
“Apa yang kau katakan!? Aku tidak akan meninggalkanmu!” ucap Katryn emosi, matanya berembun. Allard memeluk Katryn dan menumpu pipinya di bahu sang istri. Aroma tubuh Katryn begitu menenangkan, Allard amat menyukai itu!
...***...
Jeff baru saja mengatakan bahwa sang father berada di ruang kerja. Katryn berpikir, kenapa Allard cepat sekali pulang? Biasanya Allard akan kembali pada malam hari bila mengurus markas utama. Walau demikian, Katryn berjalan ke ruang kerja Allard.
Katryn membuka pintu tanpa mengetuk dan memasuki ruangan tanpa memperhatikan sekitar. Setelah masuk, Katryn menutup pintu dan berbalik. Namun, pergerakkan tubuhnya membeku ketika melihat pemandangan di depan sana. Allard memangku Selena!
Setelah sadar dari keterpakuannya, Katryn menunduk guna menetralkan jantungnya yang terjun bebas. Apa yang terjadi sebenarnya? Masalahnya bersama Allard kemarin saja belum membaik, dan sekarang apakah Allard tengah menambah permasalahan di antara mereka?
“Mother,” ucap Selena yang sudah berdiri dari pangkuan Allard.
“Kalian sedang menghabiskan waktu bersama, ya?” Katryn tersenyum kecut menatap Allard.
“Mother―”
“Maaf menganggu. Aku permisi!” ucap Katryn memotong perkataan Selena. Lalu, berbalik meninggalkan ruangan tersebut.
Katryn berpikir keras, ada apa sebenarnya di antara mereka berdua? Bukankah hubungan mereka telah selesai? Bukankah Allard mengatakan dia tidak mencintai wanita itu? Bukankah Selena seharusnya berada Swiss? Kenapa Selena berada di sini? Untuk apa? Pikirannya berkecamuk, rasanya ini seperti mimpi. Apakah benar mereka kembali menjadi sepasang kekasih?
“Itu tidak mungkin!” batinnya berteriak.
“Mother...” ucap Jeff.
Allanzel menangis digendongan Jeff, segera ia mengambil Allanzel dan berlalu dari hadapan Jeff. Pengawal pribadinya tersebut merasa ada yang aneh dengan sang mother. Sedangkan Katryn yang telah sampai di kamar, merebahkan dirinya di atas kasur sekaligus merebahkan putranya tepat di atas dadanya. Dengan lembut, Katryn mengelus punggung Allanzel sayang.
Tak berapa lama, Allanzel mengangkat kepalanya. Matanya memperhatikan sang ibu, kemudian tangannya menepuk-nepuk wajah sang ibu. Seketika Katryn tertawa, isi pikirannya tergantikan karena ulah kecil Allanzel. Benar apa yang dikatakan orang, anak mampu membuat orang tuanya lebih baik. Sampai akhirnya, menjelang malam Katryn terbangun dengan posisi Allanzel di atasnya.
“Wake up, Boy..” bisik Katryn. Merasa terganggu, Allanzel bangun. Ia turun dari atas tubuh Katryn, dan duduk di kasur dengan mata yang mengantuk. Dipastikan, Allanzel akan begadang malam ini karena tertidur di sore hari begini.
“Mandi, okey..”
“Come on!” Katryn mengendong Allanzel, membawanya ke toilet.
Setelah memandikan dan memakai baju untuk sang putra, Katryn meminta Mila menjaga Allanzel selagi ia membersihkan diri. Tak butuh lama, Katryn siap dan keluar dari toilet, tawa halusnya terdengar saat Allanzel bertepuk tangan seolah menyambutnya.
Katryn membawa Allanzel ke gendongannya. Perutnya terasa lapar, tak membuang waktu, Katryn turun ke bawah bersama Mila. Seketika moodnya hancur melihat dua manusia duduk di meja makan. Selena duduk di tempat yang biasa ia duduki di meja makan tersebut.
Katryn memasang wajah biasa, dia berjalan melewati meja makan menuju dapur. Katryn tidak tahu melakukan apa, menghindar atau menghadapi. Rasanya dadanya ditimpa beribu ton besar!
“Mother, father menyuruh anda untuk makan bersama,” ucap Jeff datar.
“Aku akan menyusul,” ucap Katryn tertahan.
__ADS_1
Air matanya ingin mengucur deras. Mila di sampingnya hanya diam tanpa tahu harus melakukan apa. Dirasa ia siap, Katryn berjalan menuju meja makan. Setelah duduk berhadapan dengan Selena, Jeff mengambil alih Allanzel agar Katryn dapat leluasa makan.
...***...