Psychopath & My Possessive Devil

Psychopath & My Possessive Devil
Chapter 69. Punishment


__ADS_3

...Telah direvisi!...


...Selamat membaca! ...


...---...


Katryn tengah menyiapkan persiapan mereka untuk berlibur di sebuah villa milik Allard. Padahal besok adalah hari di mana Katryn melakukan persyaratan yang telah ditentukan.


“Kau yakin, dengan keputusan ini?” tanya Katryn. Allard hanya mengangguk. Dia sibuk bermain dengan Allanzel.


“Tidak ada masalah?” tanya Katryn lagi.


“Aku telah mengatakan pada penasihat untuk memberimu waktu, sampai kau benar-benar siap.”


“Lalu, untuk apa kita pergi?”


“Nyle pasti akan memaksa untuk melaksanakan persyaratan itu!”


“Bukankah Nyle, selalu tahu dimana keberadan anggota keluarga Helbert?” Katryn belum puas bertanya, sebelum otaknya menerima jawaban yang pas.


“Pria tua itu tidak tahu jika aku selalu memanipulasi lokasiku!”


“Kau belum puas, Mrs Helbert?” Allard memandang Katryn yang seolah memikirkan sesuatu.


“Hanya berpikir, bagaimana caranya kau memanipulasi Grandpa?”


Allard berdiri menghampiri Katryn. Kemudian, dia memeluk pinggang Katryn mesra. Allard dengan mudahnya mencium bibir Katryn lambat, Katryn seketika bergairah.


“Kau ingin tahu?”


“Apa harus kau menggodaku dulu, baru kau memberi jawabannya?” tanya Katryn balik dengan nada ketus.


“Cerdas!” Puji Allard.


Katryn mendorong dada Allard. Namun, dengan gampangnya Allard menarik pinggang Katryn agar lebih mendekat. Katryn mendesah, ketika Allard mendapatkan sisi sensitifnya.


“Allard, jangan melakukannya di depan Allanzel...” ucap Katryn lirih.


Allanzel memandang mereka polos. Secercah senyum tersungging di bibir Allanzel menatap Katryn.


“Al... please, don’t...” desahnya.


Allard melepaskan ciuman di leher Katryn. Terasa panas, dan dipastikan akan meninggalkan bekas kebiruan. Belum sempat Katryn berkata, Allard meraup bibirnya dengan kasar. Ketika Allard melepaskan ciuman mereka. Dengan secepat kilat, Katryn berjalan ke sisi ranjang Allanzel berada.


Katryn memegang telapak tangan Allanzel. Lalu, bayi kecil itu menggenggam jari telunjuk Katryn. Sebenarnya, dari kejadian Allanzel menangis kencang di markas utama. Allard tidak lagi mau menggendong Allanzel. Katryn beberapa kali meminta Allard menggendongnya, tetapi ditolak halus oleh sang suami.


“Dia membutuhkan gendongan ibunya, bukan ayah sepertiku.” Itulah jawaban Allard ketika ditanya. Mendengar ucapan itu, Katryn merasa bersalah. Seharusnya Katryn tidak mengeluarkan perkataan yang menyakiti Allard.


Katryn mengendong Allanzel, Allard hanya memperhatikan saja dan duduk berhadapan dengan Katryn. Dengan pelan, Katryn menyerahkan Allan kepada Allard.


“Al, Allanzel akan menerima segala kekurangan orang tuanya. Sekalipun orang tuanya adalah pembunuh, dia akan selalu bangga padamu,” ucap Katryn tulus, Allard menggeleng.

__ADS_1


“Dia butuh pelukan hangat seorang ayah.”


“Tidak, Amour. Aku bukan ayah yang baik!”


“Kau adalah ayah terbaik di mata kami. Kau rela melakukan apapun untuk melindungi keluargamu.”


Allard berpikir sejenak. Lalu, dengan tangan gemetar ia mengambil alih Allanzel. Seketika, air mata Allard menetes. Seperti mengerti kesedihan ayahnya, Allanzel menangis, menggenggam baju sang ayah yang dapat dia gapai. Katryn menangis sekaligus tertawa melihat Allanzel merespon dipelukan sang ayah.


“Kau lihat ‘kan?” Allard mengangguk dan tersenyum lembut.


“Amour.”


“Hm.”


“Aku ingin membicarakan hubungan kita ke depannya.”


“Apa itu?”


“Pertama, aku belum ingin memiliki adik untuk Allanzel,” ucap Allard, pandangan matanya masih memperhatikan Allanzel.


“Aku belum siap melihat anakku mendapatkan didikan itu,” sambung Allard.


“Kedua, sekecil apapun yang kau pikirkan, tetap komunikasikan.”


“Ketiga, sebesar apapun masalah yang kita hadapi kedepannya, jangan sekalipun mengatakan meninggalkanku.” Katryn mengangguk mantap.


“Aku ingin mendengar darimu,” ucap Allard. Katryn menatap bola mata sang suami, ia memperlihatkan seberapa besar cinta yang Katryn rasakan untuk pria di hadapannya.


“Itu tidak akan pernah terjadi.”


“Selanjutnya, kita adalah dua manusia yang dipersatukan oleh pernikahan, aku tidak ingin didikan itu dilakukan kepada anak-anakku kelakku. Bukan aku tidak memberi izin, Allanzel masih kecil dan aku tidak ingin nantinya didikan itu berpengaruh pada mentalnya.” Allard hanya diam.


“Aku tahu, didikan itu adalah tradisi. Tapi, aku menentang itu jika berakibat buruk pada anakku nantinya. Sekali pun kau mengizinkannya, aku tetap menentangmu...” ucap Katryn menjelaskan. Cukup lama Allard terdiam, pada akhirnya dia mengangguk dan tersenyum pada Katryn.


“Aku akan melakukan apapun untuk itu.” Katryn membalas senyuman itu, lalu memeluk Allard.


...***...


Nyle berteriak marah karena tak mendapatkan Katryn dan Allard di mansion. Semua orang tak mengetahui di mana keberadaan Allard, bahkan Jordan yang notabene-nya adalah tangan Allard juga tidak tahu.


“Ini akibat kau terlalu memanjakannya!” ucap Nyle pada Fillbert.


“Kau lihat? Dia selalu menentangku!”


“Kau dan anak kesayanganmu itu, selalu menentangku!!”


“Yang perlu di salahkan adalah keluarga ini,” balas Fillbert santai.


“Wajar jika mereka kabur. Orang tua mana yang ingin melihat anaknya ketakutan!”


“Seharusnya kalian bersyukur! Kalian hidup enak, berkat keluarga ini! Jika tidak, kalian menjadai gelendangan!”

__ADS_1


“Aku tidak ingin berada di keluarga ini. Tapi apa, kau selalu membuatku kembali ke dalam keluarga pembunuh ini!” Tandas Fillbert muak.


“KAU!!!”


“Seharusnya sedari dulu aku membunuhmu dan istrimu!”


“Silakan kau bunuh sekarang!” sahut seseorang dari arah pintu masuk ke ruang tamu.


“Kau akan mendapatkan Klan Hellbert hancur di tanganku! Dan anak dari orang tua yang kau bunuh itu, akan membalaskan dendamnya!”


Allard berjalan mendekat, di sampingnya Katryn menggendong Allanzel. Sampai di sofa, Allard mengambil Allanzel dari gendongan Katryn, dan menyerahkannya pada Aleesa.


“Aleesa, bawa Amzel ke kamar.”


“Selena, Jordan, pergilah!”


Nyle menatap Katryn dengan penuh amarah. Sedangkan Katryn diam memasang wajah datar.


“Karenamu Allard lalai akan tugasnya!”


“Allard selalu menjalankan tugasnya!” bantah Katryn.


“Oh, ya?! Kau sangat tahu sekali, Nona!”


“Aku tahu. Allard selalu menjalankan apa yang kau perintahkan. Namun, kau sengaja membuat Allard sesibuk mungkin!”


“Kau sangat berani padaku, Katryna. Kau selalu bisa membalas ucapanku!”


Sebenarnya, Katryn tidak seberani itu pada Nyle. Tetapi, ketika kabur, sekaligus berlibur. Katryn dan Allard bertengkar akibat Allard berbohong padanya.


Selama beberapa bulan ini, Allard diberi hukuman oleh Nyle. Bayaran atas Katryn yang belum menjalankan persyaratan tersebut. Allard tidak pernah mengatakan apapun, sampai saat Katryn melihat punggung Allard yang masih berbekas jelas akibat cambukkan yang belum sepenuhnya sembuh.


Allard mengelak, dia mengatakan itu luka akibat dia jatuh ke jurang waktu itu. Katryn tidak percaya, dan ujungnya, Allard mengakui semuanya. Katryn benar benar tidak habis pikir. Nyle tega menyiksa darah dagingnya. Walaupun Allard sudah beranjak dewasa, tetapi hukuman itu tetap ada bagi Allard.


Sejak kecil, Allard sudah merasakan sakitnya dicambuk. Itu adalah hal yang sangat biasa untuk suaminya. Tapi, tidak untuknya. Itu bukanlah kesalahan Allard, tidak seharusnya hukuman itu ditanggung oleh Allard.


“Kau belum lihat apa yang terjadi nantinya, Katryna!” ucap Nyle.


Tanpa diduga, Nyle mengambil pistol yang tersimpan di belakang pinggangnya. Lalu, ia menodongkan pada Katryn. Allard dengan sigap berdiri dihadapan Katryn, melindunginya. Allard berada di puncak emosi, hendak menghantam Nyle. Namun, dengan cepat Katryn memeluk Allard dari belakang.


“Jangan lakukan itu, Allard.” Sedikit tenang. Katryn berjalan, dan memposisikan dirinya antara Nyle dan Allard.


“Bunuh aku, jika kau ingin ada perpecahan di keluarga ini.”


“Kau menjadi parasit di keluarga ini!” seru Nyle tajam.


“Jika parasit, kenapa tidak sedari awal Anda menghalangiku masuk di keluarga ini?” tanya Katryn tenang yang membuat Nyle mati kutu.


“Aku menghargaimu, sebagaimana aku menghargai kedua orangtuaku. Tapi, tolong... jangan perlakukan Allard seperti barang yang mudah kau banting.”


“Menyayangi keluarga, bukan berarti dengan cara kekerasan.” Perkataan Katryn mampu menusuk Nyle.

__ADS_1


Katryn melihat mata Nyle yang semula tajam, perlahan sendu. Namun, hanya beberapa detik saja. Pandangan Nyle kembali berubah datar, lalu pria tua itu meninggalkan mereka. Setelah kepergian Nyle tersebut, Allard memeluk Katryn dari belakang dengan erat, hingga Katryn merasa sesak karena pelukan tersebut.


__ADS_2