
...Telah direvisi!...
...Selamat membaca!...
...---...
Alessa menelungkupkan wajahnya di meja, menunggu Katryn yang tengah dalam mode rajinnya membaca buku.
“Elena, ayo keluar!” ucap Alessa, Katryn hanya menoleh dan kembali fokus membaca, Alessa menghela nafas.
“Kau tidak lelah membaca buku setebal itu, ha? Aku lelah melihatnya,”gerutu Alessa.
Alessa tipekal wanita yang malas membaca, bukan berarti dia bodoh, Alessa lebih menyukai praktik daripada teori yang belum tentu kebenarannya.
“Di kelas kau sudah belajar, bahkan membaca buku. Sekarang, kau membaca lagi,” gerutu Alessa tidak ada habisnya.
Katryn penasaran sebab tidak lagi mendengar gerutuan sang sahabat, dia menoleh ke arah Alessa. Ternyata, Alessa tengah fokus mengotak-atik ponselnya, wajahnya jauh lebih serius.
“Ngapain?” tanya Katryn.
“Membobol akun.”
Katryn memanjangkan lehernya agar mudah melihat Alessa. Demi apa pun yang di dunia ini, Katryn pusing dengan layar ponsel Alessa yang menampilkan kode-kode dan grafik abstrak. Ia memperhatikan cara kerja Alessa, dahinya berkerut menyaksikan senyum lebar Alessa.
“Kau sudah selesai?” tanya Alessa masih fokus dengan ponselnya.
“Sudah.”
“Makan atau pulang?”
“Makan,” cicit Katryn.
“You okey?” tanya Alessa.
“Aku ingin es krim.” Alessa memutar bola matanya jengah, Katryn dan es krim sekarang tidak dapat dipisah.
“Ayo.”
Keduanya keluar dari perpustakaan. Koridor kampus tampak sepi, karena ini masih jam pelajaran. Dari arah berlawanan, Allard dan Selena berjalan mendekat.
Katryn tak sadar, dia asyik berbicara dengan Alessa makanan apa yang ingin dia pesan nanti. Seketika Katryn memandang ke depan, merasa seseorang menghalangi jalannya. Alessa yang memang menyadari sedari awal hanya diam.
Katryn menggeser langkah, tetapi Allard mencekal tangannya. Katryn protes meminta dilepaskan, matanya melirik ke kanan dan ke kiri melihat orang-orang yang bisa saja melihat mereka.
“Maaf tidak menemuimu,” ucap Allard dan Katryn mengangguk.
“Ada apa?” tanya Allard sebab reaksi Katryn yang aneh.
“Amour...”
“Kenapa kau tidak menghubungiku? Sibuk mengurus pernikahanmu?”tanya Katryna to the point.
“Tidak. Akhir-akhir ini aku sibuk mengurus perusahaan dan masalah lain.”
“Ya. Masalah lainnya adalah pernikahan kalian!” ucap Katryn sedikit membentak.
“Tidak, aku tidak mengurusnya,” jawab Allard jujur.
__ADS_1
“Malam ini aku ke mansion,” sambungnya.
“Kenapa kau di sini?” tanya Katryn mengubah topik.
“Dia pemilik kampus ini, kau tidak tahu itu?” Alessa yang membuka suara. Katryn menatap Allard meminta penjelasan, dan Allard mengangguk membenarkan.
“Ada urusan, masalah dana.” Katryn mengangguk.
Mereka berpisah setelah Allard pamit dan mengecup pipinya. Alessa dan Katryn melanjutkan langkah, akan tetapi Alessa tiba-tiba waspada dan menggengam tangan Katryn. Ia curiga pada seseorang di sudut sana memperhatikan mereka, di telinganya terdapat ponsel seolah sedang berbicara dengan seseorang.
“Ryn, tunggu di sini.” Alessa berucap, lalu mengejar pria tersebut. Katryn ikut berlari menyusul Alessa, tidak mempedulikan perkataan Alessa sebelumnya.
Katryn berbelok ke arah lorong kiri, ia menemukan Alessa menghajar seorang pria hingga babak belur. Sahabatnya itu memberi pukulan saat pria itu bungkam ketika ditanya.
“Katakan. Apa yang kau dengar?!”
“Tidak ada!” Alessa menginjak perut pria itu tersebut, suara teriakan kesakitan terdengar. Katryn meringis menyaksikan kelakuan Alessa ini.
“Alessa, lepaskan dia!” ucap Katryn kasihan pada pria itu.
“Dia mata-mata!”
Pria tersebut keukeh menutup mulut, Alessa geram, ia memutar pijakkannya di perut pria itu. Katryn membuang pandangan, ngeri melihat Alessa menyiksa mata-mata itu.
“Kau sangat kejam, ****Baby****.” Satu komentar itu mengalihkan Alessa dan Katryn.
Katryn terbelalak kaget, Nick berdiri di sana bersama bawahannya. Saat ini pria itu memberi kode pada bawahannya mengambil alih pria tersebut. Alessa memasang wajah datar, biasa saja dengan kehadiran makhluk itu.
“Mau apa kau?”
“Kenapa kau di sini?” tanya Katryn menggaruk pelipisnya bingung. Kedua manusia ini hanya bertatapan tanpa bersuara.
“Rencananya, menculik sahabatmu ini, Mrs Helbert.”
“Jadi, sekarang kau berlindung di bawah kekuasaan Allard, Baby?” Nick bepindah menatap Alessa jenaka dan panas.
“Jangan macam-macam kau!” Nick tertawa.
“Aku tidak mungkin berbuat macam-macam padamu di sini, mungkin nanti malam, bagaimana?”
“**** up!” umpat Alessa geram. Entah kenapa perdebatan mereka menjadi hiburan bagi Katryn.
“Sejauh mana hubungan kalian berlanjut?” tanya Katryn yang mendapat tatapan tajam Alessa.
“Ah, kau tidak menceritakan hubungan panas kita yang sudah terjalin lama, Alessa?”goda Nick.
“Sayangnya, aku tidak pernah berhubungan denganmu,”dengus Alessa malas.
“Kuberitahu kau, Mrs Helbert. Kami baru saja bercinta minggu lalu setelah―”
“Diam, Nick!” Katryn menahan tawa, Alessa seperti tidak bergutik.
“Baiklah, aku akan menemuimu nanti. Senang bertemu denganmu, Mrs Helbert. Sampaikan pada sahabatmu untuk jujur soal percintaan kami minggu lalu,” ucap Nick yang telah meredakan tawanya, lalu meninggalkan mereka dengan membawa pria tersebut.
“Tunggu, Nick!”tahan Alessa.
“Ada, Baby? Kau mengakuinya?”Alessa memutar bola matanya jengah.
__ADS_1
“Mimpi saja kau! Serahkan pria itu! Dia suruhanmu, kan?”tuduh nya.
“Tidak,” jawab Nick terlewat jujur.
“Maka, serahkan padaku!”
“Oke. Satu ciuman,” ucap Nick menunjuk bibirnya.
Katryn memandang Nick aneh, pria ini memiliki ketertarikan terhadap Alessa. Nick yang sadar mengedipkan matanya seakan membenarkan pikirannya.
“Come on! Setelah itu kau mendapatkan pria ini,” ucap Nick menatap Alessa.
Alessa benar-benar mencium bibir Nick, sebatas kecupan. Namun, Katryn mendapati Nick menahan tengkuk Alessa. Ia yakin pasangannya ini sedang melakukan ciuman, terlihat sekilas Nick memejamkan matanya.
...***...
“Hai, Amour. Belum tidur, hm?” Allard datang tepat pada pukul sepuluh malam.
Katryn seketika menangis, ia mengambil tangan Allard dan memeluknya. Allard terkekeh, Katryn semakin hari semakin manja.
“Tidak bisa tidur?” Katryn mengangguk.
“Ingin sesuatu, hm?”
“Aku ingin tidur, tapi sulit.”
“Tidurlah,” ucap Allard mengelus rambut Katryn.
Bukannya menuruti, Katryn bangun dan terduduk. Awal memasuki bulan keempat, Katryn sangat sulit untuk tidur. Sering kali Evelyn atau Caroline kalang kabut dibuat Katryn yang menangis di tengah malam.
Allard menghela nafas, ia tidak tega. Mata sang istri sudah memerah karena ngantuk, tetapi itu belum cukup membuat mata indah itu terpejam
“Kemarilah,” ucap Allard seraya membaringkan kepala sang istri di pahanya. Katryn memejamkan matanya yang basah, Allard mengusap wajah tersebut dengan lembut.
Elusan tangan di rambutnya membuat Katryn nyaman. Satu tangan Allard ia gengam dan berada di dadanya. Sejam berlalu, Allard tahu Katryn belum tertidur, hanya mata saja yang terpejam.
Allard megambil tindakan, ia menunduk dan memangut bibir sang istri secara seduktif. Katryn melenguh, tangannya mengacak-acak rambut Allard.
“Ingin sesuatu yang nyaman?” tanya Allard tersenyum nakal, Katryn mengangguk.
“Berbaringlah di sini,” ucap Allard menepuk bantal, Katryn bepindah ke atas bantal.
Allard mulai memberi ciuman-ciuman kecil, turun ke bahu, dada yang masih tertutup, dan terus melancarkan aksinya di tubuh sang istri. Hanya satu yang Katryn mau saat ini, ia memimpin permainan!
“Allard...” Sang empu berdehem, fokus memberi rangsangan pada perut buncit Katryn.
“Ak―aku―u... di atas,” ucap Katryn terputus-putus dengan desahannya, tawa Alllard pecah.
“Ibu hamilku agresif, hm?”
“Please...”
Allard bangkit dan melucuti pakaiannya satu per satu. Katryn bersemangat menaikki tubuh Allard yang telah terbaring di ranjang dan membuka seluruh pakaiannya. Kali pertama Allard membolehkan wanita menguasainya, untuk Katryn dia suka karena terlihat seksi. Katryn sendiri berani memamerkan tubuhnya. Satu kecupan mendarat di bibir Allard.
“Sayang, kau hanya bisa melakukan ini padaku. Tidak pada wanita itu, atau pun wanita lain!” ucap Katryn yang sadar atau tidak menyebut Allad sayang.
“Of course, Mi Amour. I am yours, only yours...” bisik Allard.
__ADS_1