Psychopath & My Possessive Devil

Psychopath & My Possessive Devil
Chapter 7. Success to Escape


__ADS_3

...Telah direvisi!...


...Happy reading!...


...-----...


Tengah malam di pukul dua, seseorang memasuki kamar Katryn. Sepelan mungkin dia berbicara dengan lawan bicaranya di seberang sana.


“Bagaimana aku membangunkannya? Dia pasti akan teriak!”


“Lakukan seperti biasa!” jawab lawan bicaranya.


“Cepat, bodoh! Sebelum mereka menyadari keberadaanmu!” ucap di seberang sana lagi.


“Iya! Aku matikan, akan aku hubungi nanti!” ucap seseorang tersebut, lalu memutuskan sambungan.


“Nona Katryn!” Seseorang itu menepuk bahu Katryn.


Katryn yang terusik pun bangun. Tahu apa yang akan terjadi, seseorang tersebut membekap mulut Katryn agar tidak berteriak.


“Jangan berteriak! Aku Leonil, teman Alessa!” ucapnya cepat.


“Jangan berteriak, okey?” sambungnya lagi dan Katryn mengangguk cepat. Leonil pun melepas bekapan tersebut.


“Apa benar kau yang akan membantuku pergi dari sini?” tanya Katryn memastikan.


“Ya!”


“Bagaimana caranya? Sekitar rumah ini dijaga! Tunggu, bagaimana kau bisa memasuki rumah ini?” Leonil hanya tersenyum, terkesan jemawa.


“Tidak ada waktu untuk menjelaskan itu! Sekarang bangunkan adik dan orang tuamu, kita tidak punya banyak waktu!” Katryn mengangguk.


Segera, Katryn membangun Marchell terlebih dahulu. Disusul dengan mereka membangunkan Thomas dan Aleysia.


“Ada apa ini, Katryn? Siapa pria ini?” tanya Aleysia.


“Akan aku jelas nanti, Ma. Ikuti saja perkataan Leonil,” pintanya.


“Kau tidak begitu saja mempercayai orang asing,” ucap Aleysia.


“Dia akan membantu kita kabur dari psikopat itu. Jadi, tolong... jangan berdebat!” ucap Marchell.


“Oke, waktu semakin berkurang. Kita hanya punya waktu lima menit! Sekarang dengarkan aku, ketika keluar dari pintu itu,” ucap Leonil menunjuk pintu keluar.


“Jangan ada yang membawa ponsel! Tinggalkan atau usaha kalian untuk pergi akan gagal!” sambungnya. Mereka mengangguk bersama.


“Termasuk segala perhiasan. Cukup kalian membawa diri saja!” ucap Leonil tegas.


Setelah mendengar itu, Katryn membuka kalung beserta cincin pemberian Earnest yang dipaksa pria itu untuk ia pakai.

__ADS_1


“Ada lagi?” Leonil tak menjawab, ia tertarik dengan kalung Katryn.


“Boleh aku melihat kalung itu?” Katryn memberikan kalung tersebut. Leonil menerimanya dan ia memegang mata kalung yang mencurigakan menurutnya.


“****! Pantas saja dia tahu!” ucapnya pelan.


“Baiklah. Tolong bekerja sama, jangan membawa barang apa pun! Ayo!” ucap Leonil pada semua orang yang berada di sana.


“Leonil... Tado-tado...” Seketika Katryn ragu ini adalah perintah Earnest, jadi ia teringat secarik kertas Alessa letakkan di atas meja sebelum pergi.


Jika ragu, cukup katakan tado-tado... Dia akan menjawab lado-lado!


“Lado-lado,” balas Leonil.


“Ayo, sebelum psikopat itu sampai!” peringat Leonil.


Katryn dan beserta yang lainnya mengikuti langkah Leonil. Di halaman rumah, terparkir sebuah mobil dan Leonil meminta mereka menaiki mobil tersebut. Leonil yang terakhir memasuki mobil memberi kode pada beberapa anak buahnya yang berjaga-jaga di sana.


Mobil dikendarai langsung oleh Leonil, perlahan mobil tersebut meninggalkan pekarangan rumah. Sepanjang perjalanan, Katryn berdebar kencang. Tak dipungkiri, dia takut Earnest akan menemukan mereka kembali seperti sebelumnya.


“Leonil. Apa dia tidak akan menemukanku? Dan orang-orang itu bukankah orang-orangnya Earnest juga?” Katryn tak tahan menanyakan itu.


“Dia tidak akan menemukanmu, asal kalian tidak membawa barang yang memungkinkan telah dipasang alat pelacak! Dan orang yang kau lihat tadi, itu adalah temanku!”


 Aleysia yang mendengar kata barang , langsung saja memegang dadanya, dia memakai sebuah kalung yang tidak terlihat di balik baju ia kenakan. Thomas yang paham, meminta Aleysia membuang kalung tersebut.


“Aku berjanji akan membelikannya untukmu,” balas Thomas. Aleysia terdiam, tetapi tangannya bergerak membuka kalung itu. Thomas ikut membantu Aleysia membukanya.


“Thanks, Mama...” ucap Katryn yang duduk di sebelah sang mama. Aleysia tersenyum, ia memeluk Katryn dan mencium puncak kepala Katryn sayang.


 Sepuluh menit perjalanan, mereka hanya diam. Katryn dan Aleysia terus berpelukan, sedangkan Thomas dan Marchell menatap jalan dalam diam.


 Namun, tiba-tiba mobil yang mereka tumpangi oleng. Terdengar umpatan kasar Leonil memaki seseorang pengemudi di belakang sana yang tampaknya sengaja menembak badan mobil.


“Berpegang kuat!” seru Leonil dan ia semakin menginjak pedal gas guna menambah kecepatan, mobil di belakang sana juga ikut menambah kecepatan mengejar mereka.


“Ada apa, Leonil?” tanya Thomas cemas.


“Dia,” jawab Leonil singkat.


“Apa yang bisa aku lakukan?” tanya Marchell menawarkan diri.


“Kau—“


Sebelum menyelesaikan ucapannya, suara tembakan terdengar mengenai kaca spion pengemudi.


“****!” umpatnya.


Katryn secara terus-menerus melihat ke belakang, panik bukan main berada di situasi menegangkan. Aksi tembak-tembakan tak berhenti sampai di situ, Leonil yang tidak punya pilihan, mengeluarkan pistol dari balik jasnya.

__ADS_1


“Hai, kau... kendalikan kemudi ini,” perintah Leonil pada Marchell yang duduk di sebelah kemudi.


Marchell menurutinya, sedangkan Leonil mengeluarkan setengah tubuhnya. Dalam hitungan detik, mobil yang mengikuti mereka berguling akibat tembakan Leonil tepat sasaran.


“Mereka menghilang,” seru Katryn.


Leonil memastikan ucapan Katryn, dan ternyata benar, tiga mobil yang mengejar dari belakang menghilang. Walau demikian, Leonil tetap waspada, barangkali mereka merencanakan sesuatu. Namun, sesampai mereka di bandara, tidak ada tanda-tanda keberadaan mereka.


“Tunggu di sini,” ucap Leonil memberitahu, lalu ia berjalan beberapa meter dan berbicara dengan seseorang yang tidak Katryn kenal. Tak lama, Leonil menghampiri Katryn.


“Katryn... pesawat ini akan mengantarkan kalian ke tujuan yang Alessa rencanakan. Ketika sampai nanti, akan ada seseorang yang menemuimu, ikutlah dengannya. Ingat, orang yang akan menemui akan mengatakan ik ben hier *Aku di sini*!” jelas Leonil pelan.


“Kemana tujuan yang Alessa rencanakan?”


“Kau akan tahu nanti. Pergilah sekarang, pesawat itu sudah menunggu kalian!” ucap Leonil, Katryn mengangguk.


“Terima kasih, Leonil. Semoga kita dapat bertemu di lain waktu!” balas Katryn tersenyum tulus.


...***...


New York State~


“Tuan,” ucap Jordan memanggil sang tuan, dan Allard hanya bergumam.


“Miss Katryn telah berhasil melarikan diri,” ucap Jordan.


Allard menghentikan aktivitas yang tengah menandatangani berkas-berkas penting di depannya. Sebuah senyum di bibir merah pria itu terbit, menandakan kepuasan dengan apa yang tangan kanannya sampaikan.


“Bagus! Ada lagi?”


“Anak buah Ford menghalangi jalan mereka, tetapi kami berhasil menggagalkannya. Sekarang mereka kebingungan mencari Miss Katryn berada,” jelas Jordan.


“Awasi pergerakan mereka, jangan sampai Ford menemukan dia!”


“Baik, Tuan.”


“Setelah ini, apa yang akan anda lakukan?” tanya Jordan.


“Membiarkan gadisku untuk bebas sementara waktu,” jawabnya dengan seringai manis.


“Tunggu aku, dan aku akan menjadikanmu milikku seutuhnya!” batinnya.


Allard tidak sabar menunggu waktu untuk bertemu dengan gadisnya. Ketika Katryn bersamanya nanti, Allard berjanji tidak akan membiarkan sang gadis pergi. Terlebih... psikopat itu tidak akan pernah mendapatkan Katryn sampai kapan pun. Sudah cukup bagi Ford memiliki gadisnya dan memberi banyak luka.


Sejak dulu Katryna Helena Vinson adalah miliknya, kekasihnya. Siapa pun yang menyakiti kekasihnya akan menerima ganjarannya.


“Kita akan segera bertemu, Amour...” ujar Allard di tengah kesunyian.


...***...

__ADS_1


__ADS_2