Psychopath & My Possessive Devil

Psychopath & My Possessive Devil
Chapter 35. Love


__ADS_3

...Telah direvisi! ...


...selamat menikmati! ...


...---...


Katryn dan Alessa mengerjakan tugas di sebuah cafe dekat kampus, tentunya diawasi oleh pengawal yang menyamar sebagai pelanggan. Sebenarnya, hanya Katryn saja yang mengerjakan, Alessa tidak.


Alessa sendiri tersenyum memperhatikan Katryn mengelus perutnya sayang. Ia tahu sahabatnya ini sangat menyayangi anak di dalam perutnya. Di meja mereka saat ini terdapat pesanan Katryn, ternyata semenjak hamil wanita ini sangat gemar mencoba makanan manis.


Alessa sedikit lega karena Katryn tidak lagi bersedih. Katryn bercerita, selagi Allard menolak ucapan perceraian Katryn, selama itu pula dia mencoba mengerti. Alessa amat tahu, Katryn telah menerima Allard semenjak ia menceritakan siapa Allard di masa lalu mereka.


Hampir terhitung seminggu Katryn dan Allard tidak bertemu. Tidak banyak yang Katryn lakukan, paling hanya menjalankan kewajibannya sebagai seorang mahasiswi dan berkumpul bersama keluarga Allard.


“Selesai?” tanya Alessa melihat Katryn menutup notebook-nya.


“Sudah. Kau tidak mengerjakannya?”


“Oh, maaf. Aku tidak pernah menganggap tugas ini sebagai keharusan mengikuti perkuliahan,” jawab Alessa yang memancing tawa Katryn.


“Bijak sekali,” komentar Katryn.


“Setelah ini kau ke mansion ‘kan?” Katryn mengangguk.


“Aku tidak bisa ke sana. Ada misi penting dari pusat,” ucap Alessa.


“Tidak apa, aku mengerti.”


“Ayo, aku antar sampai mobil.”


“Astaga, Alessa. Aku bisa sendiri,” protes Katryn.


“Tidak bisa. Aku bertugas menjagamu.”


“Jangan seperti itu, kau sahabatku!” ucap Katryn murung.


“Sebagai sahabatmu, aku harus menjagamu. Aku tidak mau terjadi apa-apa pada keponakanku,” balas Alessa tersenyum manis.


“Terserah padamu.”


...***...


Weekends digunakan Katryn untuk mengambil alat gambarnya yang tertinggal di mansion Allard. Kedua orang tua Allard mengatakan untuk membeli saja perlengkapan yang tertinggal, tetapi Katryn menolak sebab alat gambarnya sangatlah banyak, sayang jika harus membeli. Evelyn memaksa ikut, dan Katryn mengiyakan.


Pada akhirnya, Fillbert mengizinkan dengan syarat penjagaan dekat. Katryn tidak menolak, toh ia sudah terbiasa dengan para pengawal di sekitarnya.


“Kita jalan-jalan dulu, bagaimana?” tawar Evelyn.


“Jadi, kau ikut karena ingin jalan-jalan, ya?” tebak Katryn.


“Tepat sekali. Sudah lama aku tidak berjalan-jalan,” balas Evelyn.


“Boleh, ayo.”


“Thank you, Sister!”


Oh, Evelyn senang sekali memanggilnya sister atau kakak. Berulang kali dia meminta dipanggil nama saja karena umur Evelyn berbeda satu tahun di bawahnya, tetapi Evelyn tetap pada pendiriannya. Gadis ini memang keras kepala, walau demikian dia adalah adik ipar yang menyenangkan.

__ADS_1


Sesampai di tempat perbelanjaan, Evelyn menyeretnya memasuki sebuah toko perlengkapan baby. Katryn memilih duduk, ia lelah berdiri terlalu lama. Kehamilan Katryn menginjak minggu enam masih rentan mual dan pusing terlalu lama beraktivitas.


Evelyn memborong baju-baju bayi, Katryn protes tentu saja. Lagi dan lagi Evelyn keras kepala pada pendiriannya. Katryn menuruti, malas berdebat.


Setelah berbelanja keduanya mengisi perut di salah satu restoran perancis. Katryn memesan Crepes dan segelas minuman coklat. Sedangkan Evelyn memesan Beef Burguigson dan makanan penutup lainnya.


...-Hanya sebagai gambaran, agar kalian lebih mudah membayangkannya-...


Crepes



Beef Burguignon



Hidangan tersaji, Katryn tertarik dengan pesanan Evelyn. Dengan senang hati Evelyn memberi miliknya kepada kakak ipar. Evelyn tertawa melihat wajah polos Katryn yang menggemaskan. Sayang sekali, Allard melewatkan momen kecil seperti ini.


Kemudian, mereka melanjutkan perjalanan ke mansion Allard. Katryn sama sekali tidak gugup, sebab Allard di setiap weekend pada jam ini pasti pergi sampai dua jam kedepan, jadi mereka tidak akan bertemu.


Tiba di mansion, pelayan tampak terkejut. Mila menyambut dengan kikuk kedatangan Katryn dan Evelyn.


“Aunty, apa kabar?” tanya Katryn tersenyum.


“Baik, Nyonya. Ada apa Anda kemari, Nyonya?”


“Aku ingin mengambil alat gambarku yang tertinggal. Allard tidak di sini, kan?” Mila tampak tidak nyaman, Katryn mengerutkan dahinya bingung.


“It―tu, Nyonya―”


Menaiki tangga terburu-buru, takut nantinya Allard pulang. Sesampai di kamar, Katryn dengan cepat mengambil alat gambarnya. Setelah semua terambil, Katryn yang awalnya akan keluar mengurungkan niatnya dikarenakan pintu balkon terbuka dan menampilkan seorang wanita memakai lingerie.


“Kau siapa?” tanya wanita tidak suka.


“Kau yang siapa?”


“Berani sekali kau. Aku tunangan Allard, siapa kau? Kenapa memasuki kamar tunanganku?” Sederet kalimat itu mampu membuat Katryn terperangah kaget.


“Tunangan?” lirihnya mengulang kata wanita tersebut. Sesaat ia lupa bagaimana cara bernafas dengan baik.


“Hai, kau siapa?” teriak wanita itu marah menyadarkan Katryn.


“Permisi,” ucap Katryn segera keluar dan berlari menuruni tangga.


Ketika di tengah bundaran tangga, Katryn mengambil nafas sebanyak-banyaknya. Pikirannya kosong, ternyata ini alasan Allard mengusirnya, pria itu sudah memiliki tunangan. Tangga demi anak tangga Katryn turuni, hingga menuju tangga akhir, Katryn hampir saja terjatuh.


Untung ia dengan cepat memegang besi penyangga, lalu satu tangannya refleks memegang perutnya yang tiba-tiba keram. Jantung Katryn berdegup kencang, kesadarannya kembali penuh.


“Mila!” teriak wanita. Mila tergopah-gopah mendengar panggilan itu, sedangkan Evelyn berlari menuju Katryn yang terdiam di sana.


“Sister, kau tak apa?” Katryn menggeleng.


“Ayo, pulang.”


“Alat gambarmu?” Katryn menggeleng, ia lupa entah di mana menjatuhkan alat gambarnya.


“Ayo.”

__ADS_1


“Berhenti. Kenapa kalian di sini? Siapa kalian? Kau, kenapa kau bisa memasuki kamar tunanganku?”berang wanita itu.


“Lihat saja, aku akan laporkan pada Allard!” teriak wanita marah.


“Nyonya. Biarkan mereka pergi,” ucap Mila pelan.


“Tidak. Dia sudah lancang masuk!”


Katryn dan Evelyn menulikan pendengar, mereka terus berjalan. Namun, Evelyn sadar wanita itu ingin meraih rambut Katryn. Belum sempat itu terjadi, Evelyn lebih dulu menghempaskan wanita itu ke lantai.


“How you dare!” Wanita itu bangkit, geram dia membalas perbuatan Evelyn.


Evelyn hanya terdorong beberapa langkah. Senyum miring tercetak di bibir Evelyn, Katryn pertama kali melihat wajah adik iparnya ini yang mengerikan. Sangat mudahnya bagi Evelyn menarik rambut wanita itu. Tak mau kalah, wanita itu membalas.


“Evelyn, sudah!” ucap Katryn sama sekali tidak didengar.


“Tania! Cukup!” teriak seseorang dari belakang Katryn. Katryn menoleh secepat mungkin, Allard berjalan ke arah mereka.


Katryn tidak sanggup berdiri di tempatnya, dia ingin pergi dari sini. Suara tamparan mengalihkan netranya, ternyata Evelyn menampar wanita bernama Tania itu. Ketika ingin memabalas, Allard sudah memegang tangan Tania erat.


“Eve. Ayo , pulang!” ucap Katryn. Evelyn mengangguk, sebelum pergi menatap Allard penuh permusuhan.


...***...


Berbaring di atas ranjang dan mengingat kejadian siang tadi, sungguh membuat Katryn lelah. Sudah terhitung lebih lima kali Katryn menghela nafas, tetap saja kata ‘tunangan’ tidak dapat Katryn hilangkan. Ini maksud dari pria itu bukan saat yang tepat mereka bersama?


Wanita itu, Katryn akui cantik, seksi, berkelas dan terlihat kuat. Jika wanita itu tunangan Allard, mengapa pria itu menikahinya?


Perut Katryn kembali keram untuk kedua kalinya hari ini. Ia meringis seraya memajamkan matanya. Mencoba memikirkan bunga favoritnya, secara berangsur perutnya membaik. Katryn mengelus perutnya yang sedikit telah berbentuk.


“Apa yang kau dengar, tidak seperti yang kau pikirkan!” Sebuah suara menghentikan gerakan tangan Katryn, ia menoleh ke arah pintu.


Allard masuk dan tidak lupa mengunci pintu. Tiba-tiba saja pria itu datang dan berkata demikian, Katryn tersenyum sinis melihatnya.


“Untuk apa kau kemari? Tidak ada artinya kau menjelaskan apa pun!”


“Aku tidak menyukainya.”


“Ya, kau tidak menyukainya. Tapi, mencintainya!”


“Katryna... jangan pernah menjawab perkataanku atas dasar teori tidak mendasarmu itu!” peringat Allard.


“Ya, Allard. Sekarang keluar!” usirnya.


“Kenapa tidak menemapati kamarku?” tanya Allard serius.


“Setelah apa yang aku dengar hari ini, membuatku yakin tidak ada hubungan di antara kita. Jadi, yeah... persilakan wanita itu menempati kamarmu!” ucap Katryn menyindir. Allard diam, ia berbalik meninggalkan Katryn.


“Allard!” panggilnya, Allard berhenti.


“Aku bukan lagi milikmu. Kau berbohong, ucapanmu hanya buaian semata. Ceraikan aku, biarkan anak ini aku yang mengurusnya,” ucap Katryn sendu.


Kata cerai yang sekian kalinya dari bibir Katryn. Allard mengepal tangannya kuat, kata itu paling Allard benci keluar dari mulut sang istri.


“Karena aku sekarang paham, obsesimu tidak ada bedanya dengan Earnest.”


“Perkataanku murni dari hatiku, semua itu nyata. Berbohong? Aku jujur padamu tentang perasaanku, aku terobsesi padamu dan aku ingin memilikimu. Itu caraku mengatakan cinta,” ucap Allard, lalu pergi membanting pintu kasar.

__ADS_1


__ADS_2